Wednesday, June 27, 2007

Suara Hati Sidoarjo Untuk Ani Yudhoyono
”BAPAK Presiden SBY dan Ibu SBY, tolong perjuangkan nasib kami. Mohon agar Lapindo dapat segera membayar ganti rugi 20 persen dari nilai rumah kami yang terendam lumpur,'' harap Sumita.
Wanita berusia 45 tahun itu adalah seorang ibu yang sekarang tinggal di Ketapang. Di
Dia terpaksa mengungsi dari Kedung Bendo lantaran rumah beserta harta miliknya yang lain tenggelam oleh lumpur panas PT Lapindo Brantas.
Nilai rumah Sumita yang tenggelam sekitar Rp500 juta. Dia sedih, karena hingga kini, ganti rugi yang harusnya dibayar PT Lapindo ternyata mandeg hanya lantaran sertifikasi.
"Karena untuk ngurus surat sertifikasi saja susah,'' ungkapnya.
Namun, meski kondisi kini masih sangat dilematis, Sumita masih bersyukur lantaran dia bersama keluarganya masih bisa menggapai asa untuk mempertahankan hidup. Dia kini mengembangkan usaha kecil yang memproduksi kerajinan tangan seperti tas. ''Tas saya sudah banyak dijual di Surabaya dan Malang,'' kata bangga.
Endun, wanita berusia sekitar 38 tahun asal Desa Siring punya nasib yang sama. Rumahnya tenggelam oleh lumpur. Endun begitu sedih atas nasibnya kini. Tak ada harta tersisa miliknya kini.
Hidupnya hanya bersandar dari bantuan pemerintah. Kekhawatiran begitu nyata diwajahnya. ''Bulan ini kabarnya (bantuan biaya) akan habis. Padahal, kita saja masih kontrak. Kita tidak punya usaha,'' ungkapnya sedih.
Dia amat mengharap pemerintah membebaskan biaya sekolah anak-anak, dan meminta bantuan biaya lauk pauk.
Sumita dan Endun mewakili ribuan korban lumpur Lapindo yang menyembur dari pipa gas milik PT Lapindo Brantas. Keduanya bersama tujuh wanita korban Lapindo lainnya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ibu Negara Ani Yudhoyono saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama dua hari ’beristana’ di Wisma Perwira Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Juanda, Surabaya, Jawa Timur, kemarin (26/6).
Mereka diberikan kesempatan untuk bertatap muka dengan Ani Yudhoyono.
Dengan kelembutan hati seorang wanita, Ibu Ani Yudhoyono nampak prihatin dengan nasib mereka. Pertemuan dengan ibu-ibu korban lumpur itu berlangsung akrab dan tercipta percakapan dari hati ke hati.
"'Presiden menyampaikan salam kepada ibu sekalian. Saya bersama Presiden merasa prihatin atas musibah yang menimpa ibu-ibu sekalian. Yakinlah Presiden bersama para menteri selalu berpikir bagaimana mengatasi masalah yang dihadapi warga Porong,'' ujar Ibu Ani.
Ani menyakinkan, Presiden sudah beberapa kali datang ke Sidoarjo untuk meninjau lokasi. ''Apabila belum kelihatan hasilnya, maka mohon dimaafkan. Karena itu, Presiden datang bersama sejumlah menteri untuk mencari jalan dan masalah yang ada.''
Ani sangat menghargai para ibu-ibu yang tetap tabah meski sedang menghadapi cobaan. ''Hasil karya ibu-ibu sekalian sangat membesarkan hati. Walaupun dalam keadaan dilematis, ibu-ibu sekalian masih mau bangkit, tidak putus asa, dan terus berusaha''.
Ani SBY mengharap, usaha itu terus dikembangkan agar dapat memperbaiki
kehidupan keluarga yang saat ini tengah terpuruk akibat musibah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo telah memberi bantuan kepada para ibu korban bencana melalui APBD. Pada 2007 dikucurkan Rp972 juta untuk seluruh korban. Ada pula bantuan hibah UNDP sebesar Rp450 juta.
Emi Win Hendarso, isteri Bupati Sidoarjo mengatakan, dana hibah dari UNDP telah dikucurkan kepada 300 orang untuk bantuan modal. Masing-masing warga mendapatkan Rp500 ribu. Sementara dana dari APBD dialokasikan untuk identifkasi, assesment, pelatihan dan upaya pemulihan psiko sosial.
''Itu dilakukan agar mereka semangat lagi,'' kata Emi kepada Ibu Negara. Dari pelatihan yang digelar, sejumlah ibu-ibu mampu menghasilkan produk. ''Namun masih ada kendala di pemasaran,'' katanya.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]