Sunday, May 6, 2007

Menunggu Kabar dari Istana


KEDIAMAN Presiden di Puri Cikeas Indah Bogor, pada Sabtu (5/5) menjadi pusat perhatian wartawan. Sejak pagi hingga malam, puluhan wartawan dari pelbagai media, mangkal di depan kediaman Presiden.

Hari itu, Presiden rupanya tengah menggodok kembali komposisi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) yang dipimpinnya. Kabarnya, Senin ini (7/5) Kepala Negara akan mengumumkan hasil reshuffle kabinet di Istana Negara.

Kawasan itu sebenarnya sudah dikerumuni wartawan sejak pukul 08.00 WIB Jum’at (4/5) lalu. Mereka menunggu kabar terbaru dari hasil godokan Presiden. Wartawan rupanya tak sabar menunggu kepastian dari pernyataan Presiden dua pekan silam usai salat Jumat di Mesjid Baiturrahim Kompleks Istana Jakarta. Kala itu, Presiden mengatakan perombakan kabinet akan diumumkan pada awal Mei. Namun, Kepala Negara tidak menjelaskan kepastian tanggalnya.

Menjelang detik-detik perombakan kabinet, Presiden juga memanggil tiga menteri koordinator, yaitu Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Boediono masuk ke kawasan Puri Cikeas sekitar pukul 21.25 WIB. Lalu selang beberapa menit, sedan hitam yang mengantar Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie pun menyusul.

Presiden juga telah berkomunikasi dengan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla.

“Saya memelihara komunikasi dengan Wapres dan menteri koordinator secara proporsional. Sekali lagi secara proporsional saya meminta pendapat dan pertimbangan beliau-beliau. Tentu saja keputusan akhir ada pada saya,” kata Presiden.

Presiden juga mendengar berbagai tanggapan yang berkembang soal reshuffle baik yang beredar di media massa maupun di luar media massa. Pelbagai tanggapan itu ditanggapi Presiden, ”Sekali lagi agar analisis, telaah dan spekulasi harus pada tingkat yang wajar dan saya mohon kepada siapa pun, kepada tokoh-tokoh yang namanya disebut, sekali lagi itu hanya analisis atau perkiraan dari pihak yang peduli dengan masalah ini (reshuffle),” jelasnya.

Menurut Presiden, sejak isu reshuffle bergulir, banyak pihak yang menyatakan bahwa perombakan kabinet adalah hak prerogatif Presiden. Namun, di sisi lain malah terjadi langkah-langkah yang justru berbeda dengan apa yang diucapkan. “Jadi saya berharap jangan sampai ada paradoks,” ujar Kepala Negara.

Dalam keterangannya, Presiden menyinggung beredarnya pemberitaan mengenai tekanan-tekanan yang ditujukan kepada dirinya terkait pergantian menteri. Misalnya, kata Presiden, ada keterangan sekian menteri mengalami masalah kesehatan, mereka dinilai tidak bisa bekerja dan harus diganti. Menurut Presiden, hal itu (tekanan-tekanan) tidak terjadi dan dia menegaskan bahwa apa yang dilakukannya berdasar pada sistem.

Pada Sabtu lalu, Presiden memanggil para calon menteri dan menteri yang akan digantikan posisinya.

Pada gelombang pertama pagi harinya, Presiden memanggil tiga menteri. Dua muka baru muncul, yaitu Hendarman Supandji, Mantan Ketua Timtastipikor dan Jampidsus, dan Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR Andi Matalata. Sementara satunya, Presiden memanggil Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil.

Kepada wartawan, Hendarman mengatakan, saat menghadap Presiden, kinerjanya sebagai Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus dan Ketua Timtastipikor dievaluasi oleh Presiden.

Dalam evaluasi tersebut, lanjutnya, Presiden memberikan petunjuk agar diteruskan penegakan hukum khususnya dalam pemberantasan korupsi. ”Jangan melakukan kesalahan dalam melakukan penyelidikan, penyidikan hingga penuntutan dan penyelesaian perkara. Pegang teguh asas praduga tak bersalah. Saya juga melaporkan hasil tugas Timtastipikor,” katanya. Hendarman tidak menjelaskan posisi apa yang ditawarkan Presiden kepada dirinya. ”Sulit untuk menjawab. Tunggu saja Pengumuman hari Senin.”

Sementara Andi Mattalata mengatakan, saat menghadap Presiden, dirinya diberikan penjelasan dalam rangka tugas masa depan dan mengevaluasi kerja yang sudah dilakukan.

Menurut dia, Presiden merasa perlu meningkatkan kinerja kabinetnya. Andi mendapatkan tawaran posisi sebagai pembantu Presiden. Namun, katanya, belum dijelaskan Presiden, bidang apa yang akan digarapnya.

Andi menambahkan, banyak hal yang dibicarakan dengan Presiden. Salah satunya adalah mengenai sistem kenegaraan dalam upaya membangun pemerintahan yang dipercaya oleh rakyat. Dibicarakan pula mengenai pola hubungan antarlembaga-lembaga negara.

”Seperti kita ketahui, sebelum amandemen UUD 1945, kita memiliki TAP MPR No III/1978 yang mengatur tata hubungan antarlembaga tinggi dan lembaga tertinggi negara satu sama lain. Sementara amandemen UUD 1945, tidak ada lagi TAP MPR yang mengatur tata hubungan itu sehingga lembaga-lembaga negara diibaratkan seperti satelit yang tiba-tiba lepas dari orbitnya,” jelas Andi.

Menurut dia, titik singgung antar satu lembaga dengan yang lain, seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Agung, perlu penataan sistem perundang-undangan yang jadi dasar sistem kenegaraan sebagai realisasi amandemen UUD 1945. ”Berkisar disitulah dialog saya dengan Presiden.”

Mengenai pembangunan dan penegakan hukum, serta soal HAM juga disinggung Andi saat bertemu dengan Presiden.

Sementara Sofyan Djalil mengatakan, inti pembicaran dengan Presiden adalah melakukan evaluasi kinerja selama dirinya memimpin Departemen Komunikasi dan Informasi.

Secara umum, katanya, Presiden menilai apa yang telah dilakukan selama 2,5 tahun di Kominfo cukup memuaskan. Presiden mengapresiasikan apa yang telah dirinya dilakukan. ”Diindikasikan misalnya lebih transparan, aturan lebih pasti, penerimaan meningkat 4 kali lipat. Itu menjadi indikator bahwa berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah selama saya menjadi Menteri Kominfo. Mudah-mudahan prinsip good governance yang diterapkan Kominfo bisa ditularkan ke tempat lain,” tuturnya.

Dia mencontohkan, menajemen frekuensi seluler sudah lebih transparan. Tahun lalu, Depkominfo telah menerbitkan 29 regulasi mulai dari pengaturan setelit hingga kabel laut. Tahun ini akan dikeluarkan paling sedikit 39 regulasi untuk mengubah industri kominfo real based sehingga ketika berhubungan dengan semua sudah jelas.

”Dari segi PNBP misalnya, tahun 2004 Rp1,1 triliun. Tahun 2006 Rp3,9 triliun. Tahun ini diperkirakan hingga Rp4,5 triliun-Rp4,8 triliun,” kata Sofyan.

Dia melanjutkan, Presiden meminta kesediannya ditempatkan di pos baru. Namun, dia tidak menjelaskan posisi pos baru yang akan ditempatkannya. ”Pos apa, itu terserah hak prerogatif Presiden.”

Sofyan menambahkan, selama dirinya bisa berbuat baik dan menciptakan nilai tambah, maka dirinya akan melakukan dengan sebaik-baiknya. ”Amanah yang dipercaya Presiden, apa saja akan saya laksanakan sesuai kemampuan saya.”

Pada gelombang kedua malam harinya, sekitar pukul 19.46 WIB, sebuah mobil berplat RI 26 datang ke kediaman Presiden.

Mobil itu adalah kendaraan dinas Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. Menteri yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut hanya melambaikan salam kepada wartawan, lalu langsung masuk ke kediaman Presiden.

Tak lama berselang, tepatnya pukul 20.10 WIB, datang sebuah mobil berplat BM 315 yang ditumpangi Sekjen PKB Lukman Edy. Kemudian disusul M. Nuh, mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan Jusman Syafii Djamal, mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia.

Hatta mengatakan, dirinya menghadap Presiden dalam rangka Presiden melakukan penantaan kabinet. Hatta rupanya dipindahkan ke pos baru.

”Presiden meminta pada kami untuk mengisi pada salah satu pos di kabinet nantinya. Tentu posnya di mana, nanti Presiden yang menyampaikan sebagai hak prerogatif Presiden. Dan kami sebagai pembantu Presiden, tentu siap dimana pun ditugaskan, dan bekerja semaksimal mungkin. Saya sama sekali tidak dapat menjelaskan soal pos yang baru,” kata Hatta.

Kalau mengisi pos yang baru, lanjutnya, tentu ada semacam fit and proper test. Hatta juga memaparkan kemajuan yang sudah dilakukan selama dua tahun di Departemen Perhubungan. Di pos yang baru nanti, Presiden kepada Hatta mengatakan tugasnya cukup berat ke depan.

”Insya Allah, dengan pos yang baru saya siap. Kinerja kemarin diterima. Saya tidak mengukur senang atau tidak (mendapat pos baru, red) , tugas di mana pun harus saya laksanakan.”

Lukman Edy, Sekjen DPP PKB mengaku tadi sore saya dikabari melalui Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP PKB agar segera menghadap Presiden. Dalam pertemuan dengan Presiden, Lukman diminta Presiden untuk membantu dalam kabinet. Presiden juga menceritakan tentang visinya dalam pembangunan. ”Ada satu hal yang saya tangkap bahwa visi kerakyatan visi pro rakyat yang diutarakan Presiden sangat kuat, saya menyatakan satu visi dengan Presiden, dan siap membantu dan mengembangkan dan meningkatkan pembangunan di sektor kerakyatan.”

Selanjutnya, Lukman juga mendengarkan Presiden tentang hubungan Presiden dengan PKB, dan NU. Lukman mengaku, Presiden tidak menyebutkan akan ditempatkan di posisi mana.

Prof Dr M. Nuh, Mantan Rektor ITS, Ketua ICMI Jawa Timur mengatakan, Presiden tadi menyampaikan pentingnya teknologi, terutama ICT (Information, Communication, Technology), baik dalam konteks good governance, maupun untuk pendidikan atau bisnis.

Menurut dia, ICT memiliki peran untuk meningkatkan daya saing bangsa. ”Karena itu, Presiden menekankan agar ICT terus dikembangkan, dan diaplikasikan sehingga memberikan kemanfaatan, dan nilai tambah dari bangsa ini.”

Presiden tidak menyampaikan secara eksplisit soal posisi. ”Itu kewenangan Presiden, tapi yang penting, beliau berpesan sesuai dengan keahlian, dan bidang yang saya tekuni, selama ini.”

Mengenai langkah yang akan dilakukan jika terpilih jadi menteri, Nuh mengatakan kunci pengembangan ICT adalah sinergitas. ”Sebenarnya resources di tempat kita sudah di ada di masing-masing titik, karena itu melalui pendekatan sinergis, kolaboratif antardepartemen, dan sumberdaya yang dimiliki sumberdaya di perguruan tinggi dan industri, maupun apa saja, Insya Allah dalam waktu 2,5 tahun dapat tercapai.”

Sistem yang sudah dibangun selama ini, katanya tinggal dipercepat realisasi pencapaian. Nuh mengaku, ditelpon untuk menghadap Presiden menjelang magrib. ”Saya tidak tahu, saya atas nama siapa, saya langsung ditelepon menjelang magrib, di minta ke sini, ya saya kesini. Yang nelpon, ya adalah,” katanya.

Sementara Jusman Syafii Djamal mengatakan, saat ketemu Presiden seperti fit and proper test. Presiden menjelaskan persoalan dari suatu sektor tertentu dan diminta pendapat dan pandangannya atas sektor tersebut.

Namun, bersama Presiden, Jusman mengatakan, tidak membicarakan tentang program. ”Presiden kebetulan kenal saya dan menunjukan saya sebagai anggota Tim nasional Keselamatan dan Keamanan transportasi, dan mantan Dirut PT DI, jadi beliau juga menjelaskan persoalan yang menyangkut teknologi dan sebagainya.”

Para menteri itu tidak menyebut secara eksplisit bakal diposisikan dimana. Namun, wartawan naga-naganya sudah bisa menebak posisi yang mereka garap. Tetapi, ada baiknya menunggu kepastian dari Presiden yang kabarnya akan diumumkan Presiden pada Senin ini di Istana Negara.

M. Yamin Panca Setia


Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]