Sunday, May 6, 2007

Detik Menjelang Reshuffle Kabinet

Mereka yang Bertemu Presiden di Cikeas






Hendarman Supandji, Mantan Ketua Timtastipikor dan Jampidsus

Saya dievaluasi kinerjanya sebagai Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus dan Ketua Timtastipikor. Kemudian, dalam evaluasi tersebut, Presiden memberikan petunjuk agar diteruskan penegakan hukum khususnya dalam pemberantasan korupsi. Jangan melakukan kesalahan dalam melakukan penyelidikan, penyidikan hingga penuntutan dan penyelesaian perkara. Jangan sampai menimbulkan masalah baru. Pegang teguh asas praduga tak bersalah. Kami juga melaporkan hasil tugas Timtastipikor.

Andi Mattalata, Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR

Banyak hal yang dibicarakan dengan Presiden. Tentang sistem kenegaraan upaya membangun pemerintahan yang dipercaya oleh rakyat, karena terdiri dari personaliti yang memang pantas dipercaya rakyat. Masalah pembangunan dan penegakan hukum.

Pola hubungan antarlembaga-lembaga negara. Seperti kita ketahui, sebelum amandemen UUD 1945, kita memiliki TAP MPR No III/1978 yang mengatur tata hubungan antarlembaga tinggi dan lembaga tertinggi negara satu sama lain. Sementara dengan amandemen UUD 1945 tidak ada lagi TAP MPR yang mengatur tata hubungan itu sehingga lembaga-lembaga negara diibaratkan seperti satelit yang tiba-tiba lepas dari orbitnya.

Kalau kita membaca media, titik singgung antara satu dengan yang lain, MK, KY dan MA, perlu penataan sistem perundang-undangan yang jadi fundamen sistem kenegaraan kita sebagai realisasi amandemen UUD 1945. Berkisah di situlah dialog saya dengan Presiden. Ketika bicara hukum sentuhannya pasti menyinggung juga soal HAM.


Sofyan Djalil, Menteri Informasi dan Infor
masi

Inti pembicaraan pertama, Presiden melakukan evaluasi kinerja selama memimpin Departemen Komunikasi dan Informasi. Secara umum, Presiden merasakan apa yang dilakukan selama 2,5 tahun di Kominfo cukup memuaskan. Presiden mengapresiasikan apa yang telah dilakukan. Diindikasikan misalnya menjadi lebih transparan, aturan lebih pasti, dari segi penerimaan negara meningkatkan 4 kali lipat. Itu menjadi indikator bahwa berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah selama saya jadi Menteri Kominfo.

Kedua, Presiden meminta kesediaan saya di pos baru. Pos apa itu, terserah hak prerogatif Presiden. Bagi saya, selama saya bisa berbuat baik menciptakan nilai tambah, berbuat kebaikan buat orang banyak, Insya Allah akan saya lakukan dengan sebaik-baiknya. Amanah yang dipercayakan Presiden apa saja akan saya laksanakan sesuai kemampuan saya.

Dari segi PNBP misalnya, tahun 2004 Rp1,1 triliun. Tahun 2006 Rp3,9 triliun. Tahun ini diperkirakan hingga Rp4,5 triliun-Rp4,8 triliun.

Apreasiasi dari industri bahwa berhubungan dengan Menkominfo jauh lebih baik dari sebelumnya.

Hatta Rajasa, Menteri Perhubungan

Presiden meminta pada saya mengisi pada salah satu pos di kabinet nantinya. Tentu posnya dimana, nanti Presiden yang menyampaikan sebagai hak prerogatif Presiden. Dan kami sebagai pembantu Presiden, tentu siap di mana pun ditugaskan, dan bekerja semaksimal mungkin. Saya sama sekali tidak dapat menjelaskan soal pos yang baru, karena nanti Presiden yang akan menyampaikan itu, tentu tidak baik, jika kami yang menyampaikan, apalagi Presiden mengatakan, tunggu nanti Presiden yang akan menyampaikan.

Kalau mengisi pos yang baru, tentu ada semacam fit and proper test. Sebagai pos saya yang lama, memang saya sampaikan bahwa banyak kemajuan yang sudah kita lakukan selama dua tahun, dan juga memang Presiden mengatakan bahwa di dalam pos baru yang akan ditentukan Presiden, tentu kita akan bersama-sama untuk menjalankan tugas, yang juga cukup berat ke depan, dengan sebaik-baiknya.

Diskusi dengan Presiden seputar tugas-tugas ke depan, dan bagaimana kita melaksanakan pekerjaan sebagai pembantu Presiden dalam 2,5 tahun ke depan.

Insya Allah, dengan pos yang baru saya siap. Kinerja kemarin diterima. Karena tugas, saya tidak mengukur dari senang atau tidak, tugas dimana pun harus saya laksanakan.

Lukman Edy, Sekjen DPP PKB

Saya dikabari, melalui Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP PKB, untuk segera menghadap Presiden. Dalam pertemuan dengan Presiden, beliau meminta kepada saya untuk bersama-sama, membantu dalam kabinet. Kemudian, Presiden juga bercerita, tentang visi beliau dalam pembangunan, dan ada satu hal yang saya tangkap bahwa visi kerakyatan, visi pro rakyat sangat kuat, saya menyatakan satu visi dengan Presiden, dan siap membantu dan mengembangkan dan meningkatkan pembangunan di sektor kerakyatan. Selanjutnya, saya mendengarkan Presiden, tentang hubungan Presiden dengan PKB, dan NU. Dan itu saya rasa sebagai untuk mendekatkan Presiden kepada komunitas di NU.

Presiden tidak menyebutkan saya akan ditempatkan di posisi mana. Namun, saya diminta pernyataan kesiapan untuk membantu beliau. Presiden tidak menyatakan postingnya. Itu saja, semua tergantung dari Presiden.

Fokus Presiden pada program prorakyat, tidak hanya daerah tertinggal, tetapi juga kesehatan dan pendidikan.

Selanjutnya, sifatnya pribadi dengan menanyakan keluarga. Basis pendidikan saya dari Teknik Sipil Universitas Brawijaya.

Kata Andi Malarengeng, ini adalah pertemuan pertama Presiden dengan calon menteri. Pada waktunya nanti, ketika sebelum pelantikan akan ada prosedur-prosedur tertentu. Tetapi sekarang, pertemuan dan pelantikan dalam waktu dekat. Misi Presiden sangat cocok sekali dengan yang dikembangkan PKB. Saya siaplah.




Jusman Syafii Djamal, mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia.

Saya tinggal di Bandung. Saya tadi ketemu Presiden bisa dikatakan semacam fit and proper test. Beliau menjelaskan persoalan dari suatu sektor tertentu dan minta pendapat dan pandangan atas sektor tersebut. Atas dasar tersebut, Presiden memberikan banyak pengarahan dan pendapat, serta misi tertentu. Presiden juga mengatakan, kalau Allah SWT mengijinkan, mungkin saya akan ditunjuk sebagai salah satu pembantu saya. Mengenai di mana tempatnya, Presiden tidak menjelaskan.

Saya tidak membicarakan tentang program. Presiden kebetulan kenal saya dan menunjukkan saya sebagai anggota Tim nasional Keselamatan dan Keamanan Transportasi. Beliau juga mengenal saya sebagai mantan Dirut PT DI. Beliau juga menjelaskan persoalan yang menyangkut teknologi dan sebagainya.

Saya tidak punya metode soal banyaknya kecelakaan transportasi. Tidak ada disebut Presiden soal itu (posisi Menteri Perhubungan, red) .


Prof Dr M. Nuh, Mantan Rektor ITS

Presiden menyampaikan pentingnya teknologi, terutama ICT (Information and Communcation Technologies) baik dalam konteks good governance, maupun untuk education, dan bisnis.

ICT sudah menjadi rahasia umum tentang perannya, terutama ujungnya untuk meningkatkan daya saing bangsa. Karena itu, Presiden menekankan agar ICT terus dikembangkan, dan diaplikasikan sehingga memberikan kemanfaatan, dan nilai tambah dari bangsa ini. Intinya begitu.

Presiden tidak menyampaikan secara eksplisit soal posisi. Itu kewenangan Presiden, tapi yang penting, beliau berpesan sesuai dengan keahlian, dan bidang yang saya tekuni, selama ini. Karena itu, Presiden mengharap agar ICT dikembangkan dan dimanfaatkan secara terus menerus.

Saya kira, kata kuncinya sinergitas, sebenarnya resources di tempat kita sudah di ada di masing-masing titik, karena itu, melalui pendekatan sinergis, kolaboratif antar departemen, dan sumberdaya yang dimiliki sumberdaya di perguruan tinggi dan industri, maupun apa saja, Insya Allah dalam waktu 2,5 tahun dapat tercapai.

Di awal kementerian ini sudah dibangun suatu sistem, sekarang tinggal dipercepat realiasasi pencapaian yang sudah ditata. Kerja keras, kolaboratif dan kebersamaan, Insya Allah dapat menjadi kata kunci dalam pencapaian.


M. Yamin Panca Setia


Photo-photo: Tempo



Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]