Thursday, February 8, 2007



Manisnya Bisnis Madu


“Saya tidak khawatir meski setahun lagi pesiun,” ujar Bambang Soekartiko. Lelaki kelahiran 16 Juni 1941 itu tetap tenang karena sudah mempersiapkan diri dengan kesibukan lain.

Kini, dia makin menekuni profesinya sebagai pengusaha lebah Bina Apriari Indonesia. Sudah tiga tahun dia menjadi pengusaha lebah.

Kalau bicara teknik berternak lebah, dia pakarnya. Sederet ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang ternak lebah, telah ia rengkuh, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Lebah negara berkembang itu juga banyak berjasa dalam mengembangkan kemampuan para peternak lebah. Dia telah terjun ke masyarakat untuk melatih cara berternak lebah sejak tahun 1974.

Dia menilai prospek ternak lebah lumayan menguntungkan. “Kebutuhan madu sangat tinggi,” katanya. Saat ini saja, lanjutnya, Indonesia masih mengimpor madu dari Thailand.

Tingginya kebutuhan akan madu karena tidak hanya menjadi bahan baku untuk obat, tapi paling banyak dibutuhkan untuk industri makanan dan minuman.

Ternak lebah juga dapat berpengaruh besar upaya menjaga kelestarian hutan berkelanjutan. “Ternak lebah dapat berkembang di sebuah hutan yang lebat.” Tak sedikit masyarakat yang tinggal di kawasan hutan di Bali dan Jawa menyandarkan hidupnya dengan cara mengumpulkan madu.

Mereka mendapatkannya dari pepohonan. Apalagi, Indonesia memiliki jutaan hektar lahan pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan lebah (bee forage).

Di rumahnya di Jl Pertanian III, Pasar Baru, Jakarta Selatan, Bambang memperkenalkan beberapa jenis produk lebah yang diproduksinya, a.l. Royal Jelly, Propolis, Madu Murni, serta Bee Pollen.

Menurutnya, peternak lebah di Indonesia belum maksimal mengambil manfaat dari lebah. “Sebenarnya bukan hanya madu murni saja yang diambil, tapi lebah juga menghasilkan royall jelly, pollen dan propolis,” ungkapnya.

Tapi, peternak umumnya hanya mengambil madu murninya saja untuk dijual. Produk-produk madu-nya itu sudah dikemas dalam botol dengan pelbagai bentuk, dengan berat dan jumlah yang berbeda.

Royall Jelly misalnya. Dikemas dalam botol kecil. Jelly adalah makanan khusus untuk ratu lebah. Bentuknya seperti susu kental, yang dihasilkan oleh lebah muda. “Harganya perbotol Royal Jelly Rp50 ribu,” katanya.

Mahal? Ya, tapi Jelly mampu menyembuhkan pelbagai penyakit, a.l. impoten, rematik, anemia, kangker, darah tinggi, luka, menurunkan kadar kolesterol, tulang yang patah dan rapuh, diabetes, pertumbuhan terhambat, infeksi kandung kemih, depresi, asma, parkinson, tukak lambung, kulit keriput dan bercak-bercak, malnutrisi, mengontrol berat badan, kelelahan kronis, eksim, kekacauan sistem endokrin, mata lelah, ketidakseimbangan hormon dan sebagainya.

“Mahal sedikit tidak apa-apa, karena mencegah penyakit lebih baik dari pada mengobatikan,” katanya.

Keampuhan tersebut karena Jelly mengandung 12% protein, 14% karbohidrat dan 5% lipid. Jelly juga mengandung itamin B1, B2, B3, B5, B6 dan B12, Niatin, Biotin, Inositol, Asam Pantothenat, Asam Folat, dan Vitamin C. Royal juga mengandung mineral a.l nitrogen, phoshor, belerang, besi, mangan, nikel, cobalt, selenium, emas, chrom dan bismuth.

“Kandungan zat tersebut amat dibutuhkan oleh tubuh, khususnya bagi pertumbuhan jaringan tubuh dan regenerasi sel,” kata Ketua Koperasi Investasi Bersama.

Jika rajin dioleskan ke kulit, lanjutnya, Jelly bisa membuat kulit lebih halus dan selalu kelihatan muda. “Amat cocok bagi kalangan tua, karena dapat mengencangkan kulit yang keriput.”

Selain madu, lebah juga mengeluarkan Bee Pollen, yaitu tepung sari yang dikumpulkan oleh lebah sebagai sumber protein. “5 – 10% dari butiran Pollen merupakan lemak sehat yang mengandung asam lemak essential, lecithin dan nutrisi.

Pollen juga mengandung banyak enzim aktif coenthenzymes, enzim antioksidan superdioxide dismutasem dan hormon. Pollen juga mengandung mineral, kalium, magnesium, kalsium, tembaga, besi, silica, phosphor, belerang, chlor dan mangan. Belum lagi kandungan vitamin, yaitu B1, B2, B3, B5, B6, A, C, E, Asam Folat, Lactoflavin. Pollen juga mengandung asam amino, a.l. arginine, hestidine, isoleucin, leucin, methionine, phenylalamine, threonine, tryotophan, valine, asam glutamate.

Khasiatnya sebagai antibiotik, astringent, nutrisi, dan relaxant. Pollen mampu penyembuhan penyakit, a.l. kangker, kelelahan kronis, imponten, alergi, kekacauan sistem imunitas tubuh, tekanan darah tinggi, asma, diabetes, pembuluh darah kapiler yang lemah, tukak lambung, arhtitis, varicose veins, anemia dan gangguan prostat.

Selain itu, Pollen digunakan lebah untuk menghasilkan Royal Jelly yang menjadi makanan bagi ratu. “Pollen juga penting bagi telur yang baru menetas. Tanpa pollen, ratu tidak bertelur, dan telur yang netas akan mati karena tidak makan.”

Dia mengatakan, peternak umumnya belum tahu cara mengambil hasil Royall dan pollen, sehingga keuntungan dari lebah dapat lebih. “Ini bisnis yang tidak diperhatikan petani.”

Selain itu, Bambang juga memproduksi Propolis, yaitu getah tanaman yang dikumpulkan dari lebah untuk melindungi sarangnya sekaligus sebagai antibiotika. 500 macam bioflanovoida terkandung didalamnya dapat bermanfaat bagi penyembuhan pembuluh darah kapiler dan memerangi infeksi.

Propolis digunakan untuk mempercepat penyembuhan radang tenggorokan, alergi, herpes, batuk, influenza, jerawat, demam, sakit tukak lambung, luka bakar dan luka baru, mengurangi rasa sakit, terbakar matahari, kanker dan kelelahan.

Propolis juga dapat menghaluskan kulit, mengeringkan jerawat, membersihkan vagina, membasmi ketombe, membersihkan luka lama, menghangatkan tubuh, membantu mengatasi insomia, mengembalikan energi dengan cepat, membersihkan mata, dikonsumsi untuk kesehatan bayi, mengendorkan otot yang kejang, serta mengeluarkan racun.

Produk lainnya adalah Madu Murni, yaitu makanan sumber karbohidrat alamiah yang aman dan menyehatkan, berupa cairan nectar bunga yang dikumpulkan oleh lebah madu.

Khasiatnya a.l. menyembuhkan sariawan, sakit lambung, batuk, sakit pada gusi, pada persendian, demam, luka bakar, luka kena minyak panas, kurang darah, disentri, dan menghilang memar.

Produk-produk tersebut baru dikembangkannya sejak tiga tahun lalu. Bambang mengaku hasilnya sangat lumayan. “Bahkan, lebih besar dari gaji saya,” akuinya beberapa waktu lalu.

Bisnis yang dikembangkan Bambang, terbilang sangat sederhana. Selain penguasaan teknik berternak, ia hanya membutuhkan sejumlah kayu dan besi untuk membuat sarang lebah. Ia juga sudah mengembangkan jaringan. Sebagai Ketua Asosiasi Perlebahan Indonesia (API), Bambang memberdayakan para anggotanya untuk mendistribusikan madu. Ia juga menampung madu yang dipanen para peternak lebah.

Kini, Bambang tengah memaksimalkan pemasaran madunya. Membangun kepercayaan kepada konsumen penting baginya. Makanya, dia tidak menjual di pasar secara bebas. Pasalnya, banyak orang yang memalsukan madunya. “Konsumen cari madu yang asli khan,” kata alumnus Kehutanan IPB tahun 1966 tersebut.

Ironisnya, masyarakat sendiri masih belum paham membedakan madu asli dengan madu palsu. “Makanya, saya terpaksa menjual langsung ke konsumen, sekaligus menjelaskan keaslian dan kekhasiatannya,” kata mantan staf khusus Menteri Pertanian dan Kehutanan 2001–2002 tersebut.

Bambang juga menyebar brosur, famflet, jaringan bahkan menyediakan mobil khusus untuk menjual madu. Di setiap momen seperti ajang promosi, pameran, acara seminar, dia juga turun langsung menawarkan madu ke konsumen. Kini, madunya telah menyebar di seluruh Jawa dan Bali. Harga perbotol madu berkisar Rp50 ribu – Rp75 ribu.

Menurutnya, ternak madu tak harus membutuhkan modal besar. Hanya butuh kayu dan besi untuk membuat kotak (kandang) lebah. Untuk membangun satu kotak membutuhkan dana Rp500 ribu. “Plus biaya untuk makan lebah dan sebagainya,” kata penerima penghargaan sebagai Perintis Perlebahan Indonesia dari Menteri Pertanian dan Kehutanan RI tahun 21 Maret 2000.

Jika panen tiba, hasilnya cukup memuaskan. Bambang yang memiliki ratusan kandang lebah mampu panen madu sebanyak berpuluh-puluh ton. Dalam setiap hari, Bambang mengaku mendapatkan 1 – 1,5 kg madu Royall Jelly.

Harganya pun cukup tinggi. Mencapai Rp50 – 75 ribu perbotol. Dia mengaku prospek bisnis ternak lebah sangat besar. Bisa memberikan keuntungan 100% dari modal yang dikeluarkan. “Saya pernah menginvestasikan modal senilai Rp50 juta. Dari hasil penjualan, keuntungan yang didapat Rp100 juta.”

Namun, keuntungan yang didapat tergantung kecepatan menjual, musim dan kondisi lingkungan. Kadangkala jumlah madu melimpah pada musim sekarang. “Namun bukan tidak mustahil pada musim berikutnya madu yang dihasilkan sedikit,” ujarnya.

Selain itu, ternak lebah bersifat nomaden. Dua bulan sekali kotak harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. “Selain musim dan lingkungan yang mendukung, lebah akan berkembangan di lokasi yang banyak bunga,” katanya.

Karenanya, mantan Ketua Komisi Perlebahan Negara Berkembang itu menyarankan agar dilakukan identifikasi musim dan lingkungan sebelum membangun kandang lebah di sebuah tempat.

M. Yamin Panca Setia


Comments:
Sayangnya, seperti juga madu perkahwinan, madu lebah dan produck sampinganya seperti propolis tidak utk semua orang.

Ada yg allergic pada nya!
Siapa allergik pd madu dan propolis
 
Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]