Friday, February 2, 2007

Jagung LASS Tawarkan nilai Lebih


EKSPERIMEN tentang jagung manis (Zea Mays) yang dilakukan Dr Saiful Hikam, Dosen Budidaya Pertanian Universitas Lampung akhirnya menuai hasil. Penelitian yang dilakukannya sejak tahun 1991 berhasil menemukan varientas jagung bermutu tinggi. Ia menyematkan nama varietas jagung buatannya: Lampung Super Sweet (LASS).

Katanya, nama Lampung Super Sweet sebagai penegasan bahwa jagung buatannya milik masyarakat Lampung.

Sesuai namanya, LASS mempunyai rasa yang amat manis, mengandung protein, karbohidrat dan vitamin yang tinggi serta kadar lemak yang rendah. Wajar, jika

Hikam menganggap jagung ramuannya lebih unggul dari pada jagung yang umumnya di jual di pasar.

Berdasarkan hasil tes di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Lampung, jagung ramuannya memiliki tingkat kemanisan mencapai 26 persen. Sedangkan jagung umumnya hanya mempunyai tingkat kemanisan sekitar 18 persen. Selain itu, LASS juga mengandung kadar asam amino (lisin) 12 persen, sedangkan jagung biasa hanya 6 persen. Kandungan minyaknya pun mencapai 6 persen, sedang jagung biasa hanya 3 persen.

Dengan tingkat kemanisan yang tinggi tersebut, LASS dharapkan dapat mnggantikan peran gula bagi penderita diabetes. “Sangat baik bagi penderita diabetes,” katanya. Tingkat kemanisan yang ada dalam jagung manis bukan glukosa tapi fruktosa sehingga aman dan tidak menyebabkan diabetes. Fruktosa adalah jenis gula buah yang tidak dilarang penggunaannya oleh penderita diabetes.

Hikam menjelaskan, varietas LASS merupakan hasil ramuan kembali varietas jagung sintetik bernama Srikandi yang pernah dikembangkan oleh beberapa dosen budidaya di Universitas Lampung. Selain itu, LASS juga merupakan hasil perbandingan dengan kadar kualitas jagung umumnya yang biasa dijual di pasaran seperti CPI, Bisi, C7, Golden Bantam Super Sweet dari Belanda dan Pioneer Super Sweet dari Perancis.

Jagung-jagung tersebut kemudian dijadikan sebagai induk calon LASS. Dalam penelitiannya, Hikam melakukan seleksi gen dari beberapa jenis jagung, yang kemudian diturunkan pada jenis jagung yang diramunya. Ia pun merekrut gen sugary (su), shrunken (sh) dan brittle (bt), yang terkandung di beberapa jenis jagung induk LASS tersebut. Kandungan gen tersebut lalu ditransformasikan ke LASS.

Agar dapat melakukan transformasi gen yang positif bagi peningkatan kadar kualitas jagung ramuannya, Hikam melakukan penanaman beberapa jenis jagung dilahan terbuka hingga terjadi penyerbukan alami antar tetua (polinasi terbuka). Hikam juga melakukan penyerbukan buatan yang dilakukannya sendiri antara alat kelamin jantan (polen) dengan alat kelamin betina (putik) dalam satu tanaman, yang menjadi calon LASS.

Menurutnya, penyerbukan dilakukan agar dapat menghasilkan benih jagung yang memiliki viabilitas (daya berkecambah benih), vidor benih (kekuatan hidup benih) serta dapat mewarisi sifat-sifat unggul yang dibawa dari induknya. Ia mengistilahkan proses penyerbukan tersebut sebagai segregasi spontan. Proses tersebut diharapkan akan menghasilkan jenis jagung baru yang mempunyai kadar genetika lebih bermutu dari pada kandungan gen yang ada pada induknya.

Harapan tersebut ternyata berhasil. LASS ternyata mempunyai kandungan gula yang lebih tinggi serta memiliki viabilitas dan vidor benih yang lebih baik dari pada jenis jagung lainnya.

Keunggulan lainnya adalah LASS juga dapat dibudidayakan di tanah dataran rendah dengan keadaan cuaca yang lebih panas. LASS juga dapat menjadi tanaman alternatif bagi petani lahan kering yang berjenis merah kuning (potsolid) dalam meningkatkan pendapatannya. “LASS dapat tumbuh baik di dataran rendah,” kata Hikam.

Sebaliknya, tanaman jagung umumnya hanya cocok dibudidayakan di tanah dataran tinggi dengan suhu dingin. Apalagi, jika LASS dibudidayakan di dataran tinggi, “Hasilnya akan lebih maksimal” tambahnya. Karena jagung Srikandi yang merupakan salah satu induk temuannya, dapat maksimal dibudidayakan di tanah dataran tinggi.

Kelebihan lainnya, masa panen LASS lebih muda dari pada jagung umumnya. Kalau jagung jenis umumnya membutuhkan waktu panen selama 4 bulan, LASS hanya butuh waktu 2 bulan. Kemudian, LASS juga terbukti tahan penyakit gulai. Jika jagung biasa tiga hari pasca panen tidak berhasil dijual, maka akan busuk, sedangkan LASS dapat tahan berminggu-minggu.

Sayang, benih LASS hingga kini belum dapat dipasarkan. Pasalnya, belum ada respon dari perusahaan, khususnya yang bergerak dalam produksi makanan yang bahan bakunya dari jagung, untuk mengembangkannya. Hingga kini, perusahaan lebih memerlukan jagung biasa, meski kadar kemanisannya rendah. Hal tersebut karena harga jagung biasa relatif lebih murah. Benih jagung manis harganya mencapai Rp60 ribu perkilogram.

Sedangkan harga benih jagung biasa atau hibrida hanya mencapai Rp21 ribu perkilogram. Padahal, kadar kemanisan, kandungan protein, vitamin tinggi dan lemak yang rendah harus lebih diperhatikan oleh perusahaan. “Jagung biasa kadar kualitasnya rendah,” katanya.

Selain itu, budidaya LASS membutuhkan keterampilan. Menurut Hikam, keterampilan budidaya amat diperlukan karena kemampuan berkecambah LASS sangat rendah, yaitu sekitar 65 persen. ”Dari 50 butir benih LASS yang disemai, ternyata hanya tumbuh 32 batang yang berhasil panen” ungkapnya. Petani umumnya belum mampu mengembangkannya. Budidaya jagung umumnya masih bersifat serabutan.

Menurutnya, benih LASS hingga kini masih tahap benih penjenis (breeder seed), benih yang masih dalam pemulian dan belum boleh di jual ke petani. Sedangkan petani membutuhkan benih yang sudah siap disebar. Hikam mengaku, budidaya LASS hingga saat ini baru sebatas pengkajian di kalangan mahasiswa dan dosen budidaya pertanian Universitas Lampung. “Belum diproduksi dalam skala besar,” Hikam menjelaskan.

Masalahnya, untuk memenuhi skala produksi, butuh dana besar dalam menghasilkan benih LASS yang banyak, “Untuk menghasilkan benih 30 ton, membutuhkan dana mencapai Rp100 juta,” Hikam memperkirakan. Dalam merakit LASS saja, Hikam sudah menghabiskan biaya sekitar Rp20 juta.

Hikam amat berharap jika ada beberapa pihak dapat mendukung pengembangan budidaya jagungnya. “Di tahun 2005 ini, benih LASS diharap dapat dipasarkan ke petani,” harapnya.

Menurutnya, jika LASS dibudidayakan secara maksimal, maka keuntungan yang didapat akan berlipat. Apalagi, kebutuhan jagung manis kini tidak lagi sebatas konsumsi pangan, namun sudah menjadi bahan pokok industri, seperti makanan dan minuman ringan serta obat-obatan.

Sedangkan “stock” benih jagung manis yang dilempar ke pasaran masih sangat terbatas, tidak sebanding dengan permintaan konsumen yang begitu besar. Harga benih jagung manis pun lebih mahal dari pada jenis jagung biasa, yang mencapai Rp21.000 perkilogram. Sedangkan benih jagung manis mencapai harga Rp60 ribu perkilogram.

Diakui juga olehnya, petani umumnya belum mengetahui tingginya tingkat kebutuhan jagung manis di pasaran. Petani hanya menilai jagung baru sebatas makanan pokok setelah padi. “Padahal jagung merupakan bahan baku industri,” jelasnya.

Kurang dikembangkan budidaya LASS juga karena kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Di pasaran, harga jagung manis masih lebih rendah dari pada jagung biasa. “Harga jagung biasa mencapai Rp800 kilo, sedangkan jagung manis hanya sekitar Rp400 perkilo,” ungkapnya.

Masyarakat yang biasa mengkonsumsi jagung pun umumnya lebih memilih jagung dari sisi fisik semata. Jagung biasa tidak keriput dan ukurannya lebih besar. Sedang, jagung manis berbentuk kisut (kriput). Karena kisut maka dikatakan jagung tersebut tidak berkualitas. “Padahal kualitas jagung diukur dari kadar karbohidrat, protein dan vitamin,” komentar Hikam.

Karena keunggulan tersebut, Hikam berharap LASS dapat dibudidayakan lebih luas ke petani. Kini, Hikam tengah membudidaya benih LASS agar lebih banyak lagi. Di atas lahan sekitar 2 hektar di area Politeknik Lampung, ia berharap LASS dapat menembus pasaran.

M. Yamin Panca Setia


Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]