Friday, January 26, 2007



Tapis Lampung

Maha Karya Pribumi Lampung


LELUHUR pribumi asli Lampung telah mewarisi sebuah karya seni bernilai tinggi.
Kain Tapis Lampung, demikian tradisi seni yang diwarisi. Karya seni tenun tapis tak kalah menawan dibandingkan kain tradisional daerah lainnya di Indonesia. Motif yang disulam sangat menawan. Komposisi warnanya pun seimbang. Tidak akan pudar hingga usia puluhan bahkan ratusan tahun.

Bahkan, ada pepatah masyarakat Lampung yang mengatakan "Selembar kain tapis tidak dapat digantikan oleh seratus atau ribuan kain lain." Nilai estetis yang terkandung dalam ragam hias kain tapis tersebut, pada kenyataanya mampu membetot perhatian pencinta seni tenun. Tapis kini tak hanya milik ulun (orang) Lampung, namun sudah menjadi trend mode di pasaran nasional, bahkan Internasional.

Hj Aisah Yaqup (65 Tahun), pengrajin sekaligus pengusaha kain tapis Lampung Ragom Mufakat, Natar, Lampung Selatan bertutur, usaha kain tapis miliknya sudah merambah ke pasaran dalam maupun luar negari. Sudah sering dirinya membuka galeri pameran di beberapa kota besar di Indonesia.

Selain itu, kain tapis karyanya juga sudah menyebar ke Rumania, Belanda, Amerika, Jepang, China, Singapura, Inggris, Jerman dan negara luar lainnya. "Ketertarikan untuk memiliki kain trapis pada dasarnya karena motifnya hasil tenunannya yang menawan," kata pengrajin tapis yang pernah mendapatkan penghargaan Uparkarti pada tahun 1993.

Tak berlebihan jika kain tapis masuk dalam kriteria maha karya seni tradisi yang bernilai tinggi. Karena pada dasarnya, tapis lahir dari kecemerlangan imajinasi serta keterampilan tangan dalam merajut benang hingga membentuk motif yang menawan. Bukan hanya itu, para pengrajin tapis juga harus bergulat dengan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Menurut Aisah proses penggarapan satu kain tapis, membutuhkan waktu sekitar dua bulan lamanya.

Aisah adalah salah satu pengrajin yang turut berjasa dalam mengembangkan populeritas kain tapis. Sejak tahun 1981, wanita dari Suku Lampung Pubian tersebut mulai mengembangkan bisnisnya. Awalnya, ia bersama para pengrajinnya hanya memproduksi kain tapis.

Namun, ide kreatifnya mencuat untuk melakukan revolusi dalam penciptaan seni tenun tapis. Kain yang dirajut dengan benang kapas, benang perak dan benang emas yang kemudian diolah menjadi kain dan pakaian khas suku Lampung tersebut, ia olah tak hanya dalam bentuk kain semata.

Namun, motif dan bahan tapis, dijadikan sebagai back ground yang menghiasi aneka rupa aksesoris hiasan, seperti hiasan dinding bertuliskan kaligrafi, tas wanita, dompet, topi, jas, baju kurung, kemeja, sendal, sepatu, gantungan kunci dan sebagainya. Hasilnya, sungguh menawan.

Ide kreatifnya ternyata berhasi menyedot daya beli konsumen pencinta hiasan bermotif tapis. Untungnya cukup lumayan. Harga kain tapis bisa mencapai Rp5 juta. "Mahalnya harga tersebut sangat tergantung dari motifnya," terang Aisah. Karena mampu membetot perhatian pasar, bisnis kain tapis pun semakin meningkat. Tumbuh marak galeri – galeri tapis. Selain itu, kain tapis juga sering dipamerkan. Tak hanya di dalam negeri, namun juga ke luar negeri.

Memang dari sisi populeritas, tapis tak kalah dengan kain songket atau batik. Tapi, Anshori Djausal, tokoh adat Lampung yang bergelar Ratu Sipahit Lidah, Marga Bunga Mayang Sungkai agak menyayangkan jika kini fungsi simbolis yang terkandung dalam kain tapis mengalami kelunturan.

Pada dasarnya, tapis diciptakan tak hanya menampilkan sisi estetis semata, namun juga mengandung sugesti moral, magis dan religis yang nampak di setiap simbol pada lambang yang menjadi ragam motifnya. "Nilai yang terkandung dalam kain tapis tersebut merupakan refleksi terhadap kehidupan manusia," terangnya.

Keagungan nilai – nilai simbolis tersebut diambil dari unsur – unsur flora, fauna, alam raya, benda dan motif bercorak manusia. Simbol – simbol tersebut dimaknai sebagai kehidupan timbal balik antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan Tuhan Pencipta alam raya. Demikian pula dengan motif kapal dalam kain tapis Lampung, yang melambangkan aspek kemaritiman Indonesia yang kaya akan sumberdaya alamnya.

Motif tersebut telah muncul sejak jaman kerajaan Hindu Indonesia. Kemudian dimodifikasi dengan pengaruh motif Islam yang merambah masuk saat kerajaan Islam berkuasa dan masuknya saudagar dari Arab, Persia dan India ke Bumi Ruwai Jurai, antara tahun 1500 – 1700. Lebih – lebih setelah masuknya budaya dari Jawa melalui proses perdagangan di Selat Malaka dan Selat Sunda. Perkembangan seni tenun tradisional Lampung semakin kaya.

Dari latar belakang histroris tersebut, bisa dihitung jika usia tapis sudah mencapai ratusan tahun. Raswan, Pemilik Usaha Tapis Helau, Bandarlampung, mengatakan jika ada kain yang telah berumur 400 tahun di British Museum Inggris dan tapis – tapis kuno lainnya di Museum Washington DC, Amerika Serikat. Tapis – tapis tersebut terdampar ke luar negeri karena banyak kolektor asing maupun dalam negeri yang mencari kain Tapis Timbay (tua).

"Saya pernah ada kain Tapis Timbay yang usiannya mencapai 200 tahun, kemudian saya jual Rp5 juta ke salah seorang kolektor dari dalam negeri," papar Aisah yang mengaku sering menjumpai orang yang datang kepadanya untuk mencari kain tapis Timbay. Aisah agak menyesal ketika mendapat kabar jika pembeli menjualnya ke luar negeri dengan harga puluhan juta rupiah.

Dari sisi motif, Tapis Timbay sangat sederhana. Namun, bahan Tapis Timbay lebih berkualitas dari pada kain tapis modern karena diolah dari bahan baku langsung dari alam. Dulu, para pengrajin tapis menggunakan bahan baku dari hasil olah sendiri dengan menggunakan sistem ikat.

Bahan olahan tersebut berasal dari Khambak (kapas) yang digunakan untuk membuat benang, Kepompong untuk membuat benang sutera, Pantis (lilin sarang lebah) untuk meregangkan benang, akar serai wangi untuk pengawet benang, daun sirih untuk membuat tidak luntur, buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu jejal untuk pewarna merah, kulit kayu salam, rambutan untuk pewarna hitam, kulit kayu mahoni, durian untuk perwarna coklat, buah dedukuh atau daun talom untuk pewarna biru, kunyit dan kapur untuk pewarna kuning.

Bahan baku yang langsung diambil dari alam tersebut lebih berkualitas dari pada bahan baku yang sekarang sudah banyak diperdagangkan. Sekarang bahan baku pembuatan tapis adalah benang katun yang berbentuk gulungan yang bermerek Tiger atau Astra dengan berbagai jenis warna sudah banyak dipasarkan.

Sedangkan untuk bahan sulamnya, digunakan benang emas dalam bentuk gulungan yang mudah didapatkan. Selain itu, menurut Anshori tapis kuno lebih berkualitas karena proses penggarapannya bukan karena tuntutan industri. Umumnya, muli (gadis) dan ibu – ibu masyarakat Lampung pandai dalam membuat kain tapis. Mereka bekerja hanya mengisi waktu senggang, tak perduli lama prosesnya. "Mereka lebih mengutamakan keindahan, kerapian karena itu dilakukan secara baik dan sempurna," terang Anshori.

Dalam proses penggarapannya pun ada pesan moral. Kerapian, keindahan dan sebagainya merupakan sebuah pesan moral mengenai keseriusan, kreatifitas, kepandaian dan tanggungjawab dalam bekerja. Bahkan, ada sebuah aturan sosial dalam masyarakat Lampung jika seseorang yang tidak mempunyai kain tapis maka ia akan dikucilkan.

"Makanya, banyak orang Lampung yang pandai membuat tapis untuk menghindari pengucilan tersebut," kata Anshori. Uniknya, untuk menilai bagus atau tidaknya seorang gadis Lampung, salah satunya dengan menilai kepandaiannya dalam menenun tapis. Semakin pandai, gadis tersebut menenun, maka semakin baik akal, budi dan perilakunya.

Kini, pesan moral, magis dan religis yang terkandung dalam kain tapis kini semakin luntur karena pengaruh akulturasi nilai – nilai dari luar. Di era modern dewasa ini, kain tapis tak lagi menjadi kain kebesaran yang dijunjung tinggi dalam adat Lampung, karena semua kalangan dapat memakainya.

Berbeda dengan dulu, tidak semua kalangan dapat menggunakan kain Tapis dan pemakaiannya pun hanya pada acara adat Lampung. Secara sosiologis, tapis juga melambangkan kemapanan status sosial pemiliknya dalam kehidupan bermasyarakat.

Kain Tapis Raja Medal misalnya. Hanya bisa dipakai oleh kalangan elit suku asli Lampung dari kalangan keluarga pemimpin adat atau suku pada upacara adat seperti perkawinan, pengambilan gelar (naik pepadun) dan sebagainya. Penggunaannya pun tidak boleh sembarang. Jika salah dalam menggunakannya, maka ada sangsi adat, berupa teguran dari anggota masyarakat lainnya. Dalam proses penggarapannya pun bercampur dengan cairan emas.

Jadi, pada masa lampau, kain tapis hanya dimiliki kalangan tertentu. Karena itu, pada masa lampau, kain tapis sebagai kebutuhan sosial hanya diproduksi untuk kepentingan adat kelompok tertentu yang mempunyai kekayaan melimpah. Oleh kalangan tersebut, tapis digunakan hanya pada saat acara adat tertentu, seperti perkawinan, pemberian gelar (cakak pepadun) serta pada upacara adat, khususnya yang berhubungan dengan kepercayaan.

Namun, perkembangan jaman secara perlahan menyebabkan terjadinya desakralisasi dalam kandungan nilai kain tapis. Keberadaan kain tapis juga dipakai oleh kalangan masyarakat Lampung kelas bawah. Bahannya, jelas lebih murah. Tidak bercampur dengan emas. Namun hanya mengandalkan keindahan motif saja.

Namun demikian, penggunaannya pun harus pada acara adat tertentu, seperti Acara Butammat, yaitu acara muda – mudi melakukan pembacaan ayat suci Al Quran di Balai Adat dan disaksikan oleh pemuka adat dan masyarakat sebagai tanda mereka telah khatam Al Quran.

Biasanya dilakukan upacara pemotongan kerbau yang kemudian dimasak dan di makan bersama – sama setelah selesai membaca Al Quran. Upacara Desa, seperti pada saat acara adat pembangunan rumah adat dan balai adat.

Upacara Nambak Kubur, yaitu upacara menambak dan membersihkan kuburan para sesepuh yang telah meninggal dunia. Acara Cangget (tari) Negeruk, Cangget Turun Mandi, Cangget Mepadun yang menampilkan tarian dari muda – mudi. Para gadis menggunakan kain tapis, sedangkan para pemuda memakain kain Bidak Sebage.

Pemakaian tapis pada acara adat, juga harus disesuai derajat penggunaannya, misal pada acara perkawinan dan cakak pepadun, tapis yang dipakai adalah Tapis Jung Sarat, Raja Medal, Raja Tunggal, Dewasano, Limar Sekebar, Ratu Tulang Bawang dan Cucuk semako. Pada acara cangget dan menerima tamu, tapis yang dipakai dengan motif bintang perak, tapis balak, pucuk rebung, lawek linau dan kibang. Untuk wanita tua, tapis yang dipakai adalah tapis Agheng, cucuk Pinggir dan Tapis Kaca.

Masing – masing tapis tersebut menurut Anshori memiliki motif yang berbeda. Penciptaan motif tidak terlepas dari realitas jaman. Mulai dari agama Hindu, Budha dan Islam, khasanah motif tapis terus mengalami perubahan, berkembang melalui proses akulturasi tanpa menghilangkan identitasnya.

Kini, karena sudah sekian banyak diproduksi, keberadaan tapis tidak lagi untuk kalangan khusus. "Karenanya, keberadaan kain tapis mengalami pergeseran fungsi simbolisnya," komentar Anshori. Lunturnya fungsi simbolis tersebut disebabkan karena pengaruh industrialisasi.

Karena itu, industri tapis lebih mengedepankan sisi ekonomis dan kurang memperhatikan aspek religis dan sosiologis. Kalau dulu, terang Anshori, Tapis Lampung termasuk kerajinan tradisional yang hanya dikerjakan oleh wanita, baik ibu – ibu rumah tangga maupun gadis – gadis yang hanya mengisi waktu luang.

"Tujuannya tidak untuk bisnis, namun karena keperluan adat istiadat yang dianggap sakral," ungkap Anshori. Namun, Anshori tidak mempersoalkan karena tuntutan industrialisasi tersebut menjadikan Tapis Lampung menasional bahkan menglobal.

Aisah mengutarakan bahwa meski sudah banyak kalangan yang membuka usaha kerajinan tapis, motif asli masih membumi dalam karya seni tapis modern. Para pengrajin tidak serta merta membunuh karakteristik yang telah dituangkan dari ide kreatif para leluhur. "Meski telah terjadi perubahan dalam motif kain tapis karena pengaruh perkembangan jaman, namun khasanah motif tempo dulu tak juga sirna," katanya.

Aisah mencontohkan motif pucuk rebung (anak bambu muda) yang sudah ada sejak periode prasejarah atau ragam hias jaman Hindu. Pucuk rebung hingga kini masih menjadi motif utama yang melambangkan kemakmuran. Demikian pula motif yang berbentuk spiral, diyakini mempunyai arti sebagai pemujaan matahari dan alam. Ragam hias Pohon Hayat juga diyakini mengandung makna kesatuan dan keesaan Tuhan yang menciptakan alam semesta.

Proses penggrapannya pun terbilang rumit, membutuhkan keterampilan dan waktu yang lumayan lama. Untuk menciptakan satu kain tapis, membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Pembuatannya juga unik dan berbau magis. Dulu, kain tapis dibuat dari daun nanas dan dalam pembuatannya seorang penenun melafazkan mantra-mantra sebagai asihan bagi pemakainnya yang dilakukan dari proses penenunan, penyulaman hingga menjadi kain.

Bahan utamanya berasal benang kapas katun, benang emas dan benang kapas. Bahan katun dijadikan sebagai dasar kain. Sedangkan benang emas dan benang kapas digunakan untuk membuat ragam hias dengan sistem sulam.

Setelah bahan dipersiapkan, langkah selanjutnya adalah melakukan penenunan yang disebut Mattakh. Adapun alat yang digunakan dalam penenunan adalah sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Dalam penyusunannya, mula- mula benang dimasukkan pada tempat peletakan gulungan benang.

Jumlah benang yang dimasukkan tergantung penentuan, yang dipisahkan sesuai dengan warna benang. Lalu, benang – benang yang sudah disiapkan diletakkan ke anak sesang yang terbuat dari balok kayu, terdiri dari tujuh buah anak sesang yang menancap pada masing – masing balok. Lalu, direntangkan benang tadi satu persatu dari gulungannya, mengelilingi anak sesang tersebut.

Menyesang (menyusun) benang harus dimulai dari bawah. Saat itu, pengrajin sudah mengetahui warna dan jenis kain yang akan dihasilkan. Jenis warna yang digunakan sudah ditentukan dalam sebelum penyesangan. Bila jenis benang tertentu disesang sepuluh keliling, maka jenis benang lain yang disesang sebanyak sepuluh kali keliling juga.

Demikian seterusnya dan dilakukan secara teratur. Jumlah benang yang disesang tergantung pada lebar kain yang akan ditenun. Setelah selesai menyesang, selanjutnya gulungan dipindahkan ke alat tenun untuk disusun dan dipindahkan ke terikan, yaitu alat yang digunakan untuk menggulung benang dari sesang.

Proses penggulungan dilakukan secara cermat dan hati – hati agar susunannya teratur. Dalam proses penggulungan ini, susunan warna benang harus diperhatikan karena warna benang akan menjadi salah satu corak dalam memperindah tenunan.

Terikan yang sudah disusun benang, lalu dipindahkan pada tiang cacap (penyangga). Bagian ujung gulungan benang tersebut diulur dan direntangkan dan disorongkan ke sebuah cacap dan didempetkan pula ke sebuah cacap yang lain. Lalu diikat kedua di ujung cacap agar benang tidak berpindah – pindah. Gulungan benang direntangkan lagi, dan diikatkan pada tali amben yang dipasang pada pinggang penenun agar rentangan benang agak kencang.

Baru kemudian, benang diikat ke kusuran yaitu kayu yang diletakkan membujur di atas bentangan tenunan. Demikian seterusnya. Setiap helai rentang benang tenun dililit dengan benang pada kusuran, yang kemudian benang tadi diikat pada ujung kusuran lainnya. Pada tahap ini, penenun dalam keadaan siap kerja. Sarana pendukung seperti tikar sebagai alas duduk juga dipersiapkan menghadap perlengkapan tenun.

Setelah ditenun, baru kemudian penyulaman untuk menghias motif yang telah ditentukan. Alat yang digunakan saat penyulaman adalah tekang, yang berbentuk persegi panjang berupa papan sebagai pengencang kain yang akan disulam. Sedangkan proses penyulaman dilakukan oleh tangan dengan menggunakan jarum. Sebelum menyulam, pengrajin sudah mengetahui motif yang akan disulam. Motif – motif tersebut telah digambar di atas kain. Penyulaman dilakukan sesuai gambar motif yang telah didesain.

Motif yang dihasilkan bentuknya beranekaragam, seperti ragam hias Geometri, yaitu ragam hias berbentuk persegi seperti wajik. Ragam hias flora dan fauna, yang umumnya dijadikan motif adalah bunga dan daun sulur (menjulur) membentuk simetris pada bidang dasar kain. Ragam hias sulur berupa sulaman berbentuk tali, digunakan sebagai ragam hias pada Tapis Cucuk Andak dan Inuh. Sulur bentuknya berliku – liku. Sedangkan ragam fauna, umumnya bermotif naga, burung dan hewan tunggangan. Burung hias yang biasa djadikan motif adalah burung garuda, merak dan ayam jago.

Burung dilambangkan sebagai ketiinggian derajat seseorang, sedangkan ayam jago melambangkan keperkasaan. Pada agama Hindu, burung garuda disimbolkan sebagai kendaraan dewa Wisnu. Sedangkan burung merak melambangkan kebesaran dengan keindahan ekornya. Motif tersebut dapat dijumpai pada Kain Tapis "Perahu Garuda" yang dipakai pada acara begawi adat, menjadi simbol untuk mencapai derajat yang lebih tinggi. Penggunaan ragam hias burung umumnya dipakai pada wanita tua dan menggunakan dasar warna tua.

Ada juga motif hewan tunggangan, seperti gajah, kerbau dan kuda bersayap. Gajah dan Kerbau melambangkan kemakmuran. Kuda bersayap melambangkan Pemberani. Motif tersebut umumnya digunakan para gadis dan istri pemimpin adat. Tapis yang bermotif Hewan Tunggangan dapat ditemukan pada Tapis Raja Medal, Tapis Raja Tunggal dan Tapis gajah Meghem. Ada juga tapis yang bermotif naga, ikan dan kupu – kupu. Motif tersebut tidak terlepas dari pengaruh tradisi china.

Selain bermotif flora dan fauna, terdapat pula ragam hias bermotif Manusia. Digambarkan berupa seseorang yang sedang menunggang kuda atau gajah dan rato. Artinya, manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada hewan. Motif tersebut dapat dijumpai pada Tapis Raja Tunggal dan Tapis Raja Medal. Motif manusia juga ditemukan pada Tapis Ratu Tulang Bawang dalam bentuk orang bermahkota atau bertanduk. Mengandung makna, status seseorang yang sangat tinggi dan dihormati.

Dalam tapis juga ditemukan motif bintang yang berwarna perak dan bulan berbentuk sabit. Dijumpai pada Tapis Limar. Melambangkan masa depan terang benderang. Motif Perahu yang dijumpai pada Tapis Raja Tunggal, Tapis Salem Di Lawek Di Gunung, melambangkan sebuah masa peralihan, yang dalam pandangan hidup masyarakat Lampung berarti ingin mencapai derajat yang lebih tinggi. Perahu adalah simbol kendaraan untuk meraih derajat yang lebih tinggi. Sedangkan motif Pucuk Rebung merupakan ragam hias yang mengandung makna kemakmuran sumberdaya alam.

Berdasarkan fungsi, Kain Tapis mempunyai fungsi yang beranekaragam sesuai dengan jenis dan namanya, yaitu :

1. Tapis Jung Sarat.

Digunakan pada masyarakat Lampung di kawasan Belambangan, Lampung Utara. Tampilan kainnya bermotit tajuk bersarung (pucuk rebung) serta mato kibau (mata sapi). Bagi masyarakat Belambangan, tapis tersebut hanya dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Tapis Jung Sarat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua saat menghadiri upacara mengambil gelar serta pengantin.

Para gadis, hanya dapat menggunakan Tapis Jung Sarat ketika cangget (menari) pada upacara adat. Selain itu, Tapis Jung Sarat juga digunakan pada masyarakat Lampung di Kotabumi. Tapis Jung Sarat bermotif pucuk rebung dan belah ketupat. Disulam dari sulaman benang emas dan benang kapas. Bahan dasarnya berwarna merah hati, merah dan hitam.

2. Tapis Raja Tunggal.

Digunakan di masyarakat Lampung wilayah Belambangan. Motifnya menggambarkan orang di atas rato (kereta kerajaan) yang tengah di tarik orang, pucuk rebung, dengan tajuk berketik. Hanya boleh dipakai oleh isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran, sutan, dan lainnya. Tapis Tunggal juga dipakai pada masyarakat Lampung Abung.

Ragam dan hiasnya disulam dengan benang emas dan benang sutera, yang membentuk motif manusia, perahu, kerbau, pucuk rebung, dan binatang. Bahan dasarnya berwarna putih, kuning, hitam, merah dan hijau, yang membentuk lajur besar dan kecil. Terbuat dari benang kapas. Hanya boleh di pakai oleh gadis – gadis Abung pada saat menghadiri upacara adat.

3. Tapis Raja Medal.

Dipakai pada masyarakat Belambangan. Motif yang ditampilkan bergambar orang di atas rato ditarik orang, ayam nyecak konci (makan kunci) dan pucuk rebung. Dipakai hanya oleh kelompok isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacaya adat, seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran, sutan dan sebagainya. Di masyarakat Abung, Tapis Raja Medal juga digunakan.

Memiliki motif hias manusia, burung, kuda, pucuk rebung, dan belah ketupat. Ragam hias disulam dengan benang emas. Bahan dasarnya bewarna hitam, coklat dan merah hati, terbuat dari benang kapas. Dipakai oleh pengantin Abung saat menghadiri upacara adat.

4. Tapis Andak.

Dipakai pada masyarakat Lampung Belambangan. Menampilkan corak sama, yaitu memiliki motif hias orang di atas rato ditarik orang dan sasap motif pucuk rebung dan tajuk berketik. Dipakai oleh muli cangget pada upacara adat Cangget.

Juga dipakai oleh anak Benulung (istri adik) sebagai penggiring pada upacara pengambilan gelar sutan dilaukan oleh saudara yang lebih tua. Menantu perempuan pada upacara pengambilan gelar sutan tersebut juga dapat memakainya.

5. Tapis Balak.

Memiliki motif hias pucuk rebung sasap motif tajuk berketik. Dipakai oleh kelompok adik perempuan dan kelompok isteri anak seseorang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak. Juga dipakai oleh Muli Cangget pada upacara adat. Berasal dari Belambangan, Lampung Utara.

6. Tapis Laut Silung.

Memiliki ragam hias pucuk rebung dan sasap. Dipakai oleh sekelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lainnya. Juga dipakai jika ada acara arak – arakan pengantin. Berasal dari Belambangan, Lampung Utara.

7. Tapis Laut Linau

Memiliki motif hias bunga intan, sasap, pucuk rebung, belah ketupat dan kupu – kupu. Disulam dengan benang emas. Dipakai oleh kerabat istri yang tergolong kerabat jauh saat menghadiri upacara perkawinan adat. Sipakai oleh para gadis penggiring pengantin pada upacara turun mandi pengatin dan mengambil gelar pangeran serta saat para gadis menari saat upacara adat. Bahan dasarnya berwarna biru, hitam dan coklat. Berasal dari Belambangan, Lampung Utara.

8. Tapis Pucuk Rebung

Tapis Pucuk Rebung digunakan pada masyarakat Belambangan. Memiliki motif hias pucuk rebung. Dipakai oleh kelompok isteri ketika menghadiri upacara adat perkawinan, pengambilan gelar, khitanan dan sebagainya. Tapis Pucuk Rebung juga digunakan pada masyarakat Lampung Menggala.

Memiliki motif hias pucuk rebung yang diberikan tempelan mika berukuran kecil. Bahan dasarnya berwarna merah, hitam, kuning yang terbuat dari benang kapas. Ragam hias disulam dengan benang emas. Tapis ini disebut juga Tapis Balak, dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Pucuk Rebung dipakai pula pada masyarakat Lampung Abung. Ragam hiasnya disulam dengan benang emas yang membentuk pucuk rebung dan jalur – jalur yang disulam dengan benang emas. Bahan dasarnya berwarna coklat, kuning dan hitam, yang terbuat dari benang kapas. Nama pemilik tapis tertulis di atas sulaman. Dipakai pada saat upacara mengiring pengantin.

9. Tapis Cucuk Andak

Tapis Cucuk Andak digunakan pada masyarakat Lampung Belambangan. Memiliki motif hias bintang perak, pucuk rebung, cucuk andak dan sasab motif tajuk. Dipakai oleh sekelompok istri keluarga penyimbang (kepala adat yang sudah bergelar Sutan, saat menghadiri upacara perkawinan, pengambilan gelar dan sebagainya.

Tapis Cucuk Andak juga dipakai pada masyarakat Lampung Utara. Memiliki motif hias pucuk rebung penuh, belah ketupat penuh, burung, ayam, dan tempelan mika berukuran kecil. Bahan dasarnya berwarna merah hati dan hitam yang terbuat dari benang kapas dan disulam dengan benang emas serta benang sutera putih.

Dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat. Tapis Cucuk Andak juga dipakai pada masyakat Lampung Abung. Memiliki motif hias dengan sulaman benang emas, yang bermotif pucuk rebung. Ragam hias dengan sulaman benang sutera membentuk burung. Ada juga Cucuk Andak dengan motif belah ketupat dan burung. Sedangkan sulamnya berasal dari benang sutera putih membentuk motif bunga cengkeh dan sulur daun. Bahan dasarnya berwarna coklat, hitam, kuning dan merah hati dan terdapat tempelan mika. Dipakai oleh ibu – ibu saat mengantarkan pengantin pada upacara adat.

10. Tapis Limar Sekebar Belambangan

Memiliki motif hias pucuk rebung, bunga, limar dan sasab bertajuk. Dipakai oleh sekelompok istri saat menghadiri upacara dan pesta. Juga bisa dipakai oleh para gadis saat menggiring pesta perkawinan adat dan resepsi. Berasal dari Belambangan, Lampung Utara.

11. Tapis Cucuk Pinggir Belambangan

Memiliki motif hias pucuk rebung, luak, manuk dan sasap bertajuk. Dipakai oleh sekelompok isteri dalam menghadiri upacara adat atau pesta. Juga dapat dipakai oleh gadis pengiring pada upacara perkawinan adat atau pesta. Berasal dari Belambangan, Lampung Utara.

12. Tapis Tuho Belambangan

Memiliki motif hiasan naga, kayu aro, bintang perak dan sasab bertajuk. Dipakai oleh seorang isteri yang sedang mengambil gelar sutan. Juga dipakai oleh kelompok tua (mapahao) yang sedang mengambil gelar sutan. Selain itu, dapat juga dipakai isteri sutan saat menghadiri upacara pengambilan gelar kerabat dekat. Berasal dari Belambangan, Lampung Utara.

13. Tapis Agheng/Areng Belambangan

Tapis ini tidak dicucuk dan memiliki warna hitam. Dipakai oleh seorang isteri yang sudah mendapatkan gelar sutan pada upacara pengarakan naik pepadun (pengambilan gelar) dan dipakai pula oleh pengantin sebagai pakaian sehari – hari. Berasal dari Belambangan, Lampung Utara. Dalam masyarakat Lampung pesisir, Tapis Agheng juga digunakan. Ragam hiasnya disulam dengan benang emas dan benang sutera yang membentuk motif burung, bunga, pucuk rebung dan naga serta terdapat tempelan kaca. Bahan dasarnya berwarna merah hati dan hitam yang terbuat dari benang kapas. Dipakai oleh para gadis Lampung Saibatin/Pesisir. Berasal dari Pesisir, Lampung Utara.

14. Tapis Binatang

Digunakan pada masyarakat Lampung Menggala. Memiliki motif hias binatang dan tempelan mika. Ragam hiasnya disulam dengan benang emas. Bahan dasarnya berwarna hitam dan merah yang terbuat dari benang kapas. Dipakai pada saat upacara adat.

15. Tapis Inuh Krui

Memiliki motif hias binatang, tumbuh – tumbuhan dan pilin berganda. Kain tersebut ditenun dengan cara pengikatan benang lungsi dalam bentuk pola hiasan tertentu yang kemudian dicelup dengan bahan pewarna, sebelum benang lungsi tersebut ditenun. Bahan dasarnya terbuat dari sutera alam. Kain dipakai pada saat menghadiri upacara adat. Berasal dari Krui, Lampung Barat.

15. Dewa Sano

Tapis Dewa Sano memiliki hias pucuk rebung dan belah ketupat. Ragam hias dengan sulaman benang emas penuh. Bahan dasarnya berwarna merah dan coklat terbuat dari benang kapas. Dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat. Berasal dari daerah Menggala, Lampung Utara.

Selain itu, Tapis Dewa Sano juga dipakai pada masyarakat Lampung Kota Bumi. Memiliki hias pucuk rebung, belah ketupat dan bunga matahari. Ragam hias dengan sulaman benang emas penuh. Bahan dasarnya berwarna merah hati, merah dan hitam, terbuat dari kapas dan benang emas. Dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat. Berasal dari daerah Kotabumi, Lampung Utara.

16. Tapis Kaca

a. Tapis Kaca Kotabumi

Tapis Kaca memiliki ragam hias yang disulam dengan benang emas, membentuk motif hias lajur- lajur kecil dan sulaman benang sutera membentuk motif pucuk rebung, sulur bunga dan sulur daun serta tempelan kaca kecil terbentuk bulat. Bahan dasarnya berwarna merah, coklat, dan kuning yang terbuat dari benang kapas. Dipakai oleh wanita pengiring pengantin saat upacara adat pada masyarakat Lampung Kotabumi.

2. Tapis Kaca Durian Payung

Dihias dengan benang sutera dan tempelan mika dengan membentuk motif sulaman pucuk rebung, sulur daun dan meander. Bahan dasarnya berwarna coklat, kuning dan merah yang terbuat dari benang kapas dan sutera. Dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat. Berasal dari Kelurahan Durian Payung, Kotamadya Bandarlampung.

3. Tapis Kaca Way Kanan

Memiliki ragam hias dengan sulaman benang emas yang disebut benang Sugi, membentuk motif hias pucuk rebung, bunga melur dan tempelen mika kecil berbentuk bulat. Bahan dasarnya berwarna coklat dan biru tua yang membentuk jalur – jalur kecil, terbuat dari benang kapas dan benang nanas. Dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat pada masyarakat Lampung Kotabumi.

4. Tapis Kaca Biru Panaragan.

Tapis ini memiliki ragam hias dengan sulaman benang emas emas dan benang sutera, yang membentuk motif pucuk rebung dan pilin berganda. Bahan dasarnya berwarna biru, merah hati dan kuning, yang membentuk lajur kecil dan bagian pinggir lajur lebar. Terbuat dari benang kapas. Dipakai oleh wanita pada saat mengiringi acara perkawinan adat. Berasal dari Kelurahan Panaragan, Lampung Utara.

e. Tapis Kaca Pagar Dewa

Tapis ini ragam hiasnya pilin berganda dan tempelan kaca berukuran kecil. Pembuatan motif dilakukan dengan cara menyusupkan benang sutera untuk membentuk pola hiasan tertentu. bahan dasarnya berwarna kuning dibentuk jalur – jalur kecil dan besar yang berwarna merah dan kuning. Terbuat dari benang kapas. Dipakai wanita pada saat acara adat. Berasal dari Pagar Dewa, Lampung Utara.

f. Tapis Kaca Bekandang Pardasuka

Tapis ini memiliki ragam hias pucuk rebung dan lajur – lajur yang membentuk kotak – kotak dan tempelan mika. Bahan dasarnya dari benang kapas. Kain tenun dibuat dengan cara mengkomposisikan berbagai warna benang dan pembuatan motif dilakukand engan cara pengang kutan benang, kemudian menyisipkan benang sutara untuk membentuk pola hias tertentu. dipakai oleh laki – laki pada saat upacara adat. Kain ini berasal dari Pardasuka, Lampung Selatan.

g. Tapis Kaca Krui

Tapis Kaca, motif hiasnya ditenun dengan cara menyusupkan benang sugi (serat nenas) dan sulaman benang sutera yang berwarna, membentuk kotak – kotak kecil, meander, bunga matahari, binatang dan tempelen mika. Dipakai pada saat upacara adat. Berasal dari Krui, Lampung Barat.

17. Tapis Binatang Way Kunang

Tapis Binatang, ragam hiasnya disulam dengan benang emas dengan motif pucuk rebung penuh, diatas jalur – jalur besar dan motif binatang di atas jalur – jalur kecil. Bahan dasarnya berwarna merah hatim coklat dan kuning. Terbuat dari benang kapas. Dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat. Berasal dari daerah Way Kunang, Lampung Utara.

18. Tapis Bidak Cukkil Bumi Agung

Memiliki motif hias kotak – kotak yang ditenun dengan cara mengkomposisikan berbagai warna benang. Pembuatan motif pada kain dilakukan dengan cara pengungkitan benang, kemudian menyusupkan benang sutera untuk membentuk pola hias tertentu. Bahan dasarnya adalah benang sutera untuk membentuk pola hias tertentu. Tapis ini juga sering disebut Blungsung. Dipakai oleh Laki – laki pada saat menghadiri upacara adat. Berasal dari daerah Bumi Agung, Lampung Utara.

19. Tapis Binatang Perak Menggala

Tapis Binatang Perak Menggala memiliki motif hias bunga, bintang dan belah ketupat. Ragam hiasnya disulam dengan benang emas. Bahan dasarnya berwarna biru dan coklat yang membentuk lajur – lajur kecil. Terbuat dari benang kapas. Dipakai pada saat menghadiri upacara adat. Berasal dari daerah Menggala, Lampung Utara.

Sayang, jenis kain tapis tersebut kini sudah semakin hilang. Apalagi tapis yang sudah berusia tua. Di Lampung sendiri sulit dijumpai tapis kuno yang mempunyai fungsi sesuai dengan kebutuhan adat. Ironisnya, pengrajin tapis masa kini lebih menciptakan corak yang terbatas: Pucuk Rebung dan Raja Medal. Seperti misalnya Tapis Kaca yang menggunakan kaca sebagai bahan utama yang dapat menempel di kain, tanpa menggunakan lem perekat. Tapis jenis tersebut sudah tidak diproduksi. Salah satunya karena proses pembuatannya yang rumit. Bagaimana mungkin, kaca dapat menempel di kain tanpa dilem.

M. Yamin Panca Setia

Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]