Sunday, January 28, 2007


Sudah Lama Indonesia Nantikan Nuklir


Jakarta|Jurnal Nasional

KEBUTUHAN energi listrik diyakini akan semakin meningkat seiring pertumbuhan industrialisasi yang begitu pesat. Pada tahun 2025, kebutuhan listrik pada sistem Jawa Madura Bali (Jamali) diperkirakan mencapai beban puncak hingga 54.600 MW.

Apabila dipenuhi dengan penyediaan dan peningkatan pabrik listrik tenaga uap (PLTU), akan diperlukan sekitar 127 ton batu bara per tahun pada tahun 2025. Besarnya kebutuhan batu bara tersebut, nantinya dapat menimbulkan masalah logistik, transportasi, dan pencemaran. Sementara dengan menggunakan energi nuklir, kontribusi batu bara berkurang menjadi 91 juta ton per tahun dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20 persen.

Lewat nuklir, uranium yang berupa sumber energi amat padat dengan mudah dan murah dapat diangkut. Volumenya jauh lebih kecil daripada batu bara atau minyak. Satu kilogram uranium alam menghasilkan 20.000 lebih banyak energi daripada jumlah batu bara yang sama. Uranium juga adalah komoditas yang mudah diangkut dan diperdagangkan.

Kebutuhan nuklir semakin mendesak seiring membengkaknya harga minyak mentah (crude oil) di pasar internasional hingga mencapai 70 ribu per barel. Harganya membengkak karena lebih dari 50 persen kebutuhan energi dunia bersumber dari bahan bakar minyak—yang dipastikan akan habis dalam rentan waktu beberapa tahun ke depan.

Karena itu, Budi Sudarsono, Ketua Forum Peduli Energi dan Lingkungan (FPEL), menyarankan agar pemerintah segera merespon secara serius rencana mengembangkan nuklir di Indonesia.

Menurut dia, rencana pembangunan PLTN di Gunung Muria, baru direspon oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral dan Menteri Riset dan Teknologi. Padahal, pemerintah telah berencana mengembangkan PLTN Gunung Muria—yang diharapkan dapat beroperasi tahun 2016.

Dia mengatakan Indonesia jauh tertinggal dalam mengembangkan energi nuklir. Sementara saat ini, sudah 443 PLTN yang beroperasi. Di Eropa barat ada 135 PLTN, Eropa Timur 22 PLTN, Amerika Serikat 128 PLTN, Afrika 2 PLTN, Bekas Uni Soviet 48 PLTN, Asia Selatan 17 PLTN, dan Asia Timur 91 PLTN.

Menurut dia, seharusnya tahun ini PLTN sudah ditenderkan karena pembangunan pembangkit PLTN akan memakan waktu sekitar enam tahun, sementara sekarang peraturannya saja belum ada. Budi khawatir, rencana pembangunan PLTN Muria akan kembali gagal.

Pemerintah terkesan kurang berani merealisasi PLTN Muria. Padahal, sudah tiga investor asing asal Jepang, Prancis, dan Korea Selatan yang menyatakan siap mendanai proyek senilai Rp35 triliun tersebut.

PLTN di lahan 25 ha yang berlokasi di kawasan Tapak, Lemah Abang, Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara itu, dijadwalkan mulai dibangun pada 2010 dan beroperasi 2015.

Kepala Batan Soedyartomo Soentono mengatakan PLTN Muria diperkirakan mampu memproduksi listrik dengan biaya yang lebih murah, karena bahan bakar untuk mengoperasikan listrik jauh lebih rendah daripada pembangkit lainnya, yaitu sekitar 40%. Harga listrik dari PLTN Muria hanya berkisar US$0,03 hingga US$0,04 per kWh. Sementara harga listrik sekarang mencapai US$0,07 per kWh.

Batan juga memperkirakan biaya investasi PLTN Muria berkisar antara US$1.350 per kilowatt hingga US$1.750 per kilowatt. World Nuclear Association 2005 dalam laporannya berjudul The New Economics of Nuclear Power, nuklir adalah alternatif terbaik menjawab kelangkaan minyak sebagai sumber energi.

Biaya nuklir hanya bagian kecil dari seluruh biaya pembangkitan. Biaya dekomisioning dan pengelolaan limbah juga sudah diperhitungkan. Biaya energi nuklir rata-rata 0,4 sen euro per kWh, sama seperti tenaga air, batu bara lebih dari 4 sen (4,1 – 7,3 sen), serta gas berjangka 1,3 – 2,3 sen. Hanya tenaga angin yang lebih baik daripada nuklir yaitu rata-rata 0,1 – 0,2 per kWh.

Biaya bahan bakar nuklir juga diyakini akan terus efisien karena penurun ongkos. Di Spanyol misalnya, biaya listrik nuklir telah turun 29 persen selama 1995-2001. Hal itu menyangkut penaikan tingkat pengayaan dan pembakaran (burn up) guna mencapai penurunan ongkos sebanyak 40 persen. Secara prospektif, peningkatan burn up lagi sebesar 8 persen akan menghasilkan penurunan ongkos sebesar 5 persen.

Bagi pusat listril nuklir, biaya dekomisioning diperkirakan sebesar 9-15 persen dari biaya modal awal pusat listrik nuklir. Namun, apabila di diskon, biaya tersebut hanya beberapa persen tambahan atas biaya investasi, bahkan lebih kecil lagi terhadap biaya pembangkit.

Di Amerika Serikat, biaya tersebut sekitar 0,1-0,2 sen per kWh, atau tidak lebih dari 5 persen dari biaya listrik yang dihasilkan. Sementara di Prancis, memperlihatkan bahwa biaya nuklir (sen per kWh) mencapai 3,20, gas 3,05-4,26, batu bara 3,81-4,56. Nuklir lebih unggul karena pusat listriknya besar dan baku.

Dalam konteks kontruksi, biayanya cenderung lebih pendek. Pembangunan Reaktor di Jepang Generasi Baru misalnya yang 1300 Mwe yang selesai pada tahun 1996 dan 1997 dibangun dalam waktu tak mencapai empat tahun.

Sementara itu, laporan yang disusun Universitas Chicago, pada 2004 membandingkan, biaya daya listrik levelised dari pembangkit listrik nuklir kedepan. Untuk ABWR dan AP 1000 berjangka antara 4,3 hingga 5,0 s/kWh berdasarkan biaya overnight 1.200 dollar AS hingga 1.500 dollar AS, dengan masa manfaat 60 tahun, masa kontruksi 5 tahun, dan faktor kapasitas 90 persen. Sementara batu bara menghasilkan 3,5 – 4,1 s/kWh dan gas (CCGT) 3,5-4,5 s/kWh, sangat tergantung pada harga gas.

Ongkos bahan bakar energi listrik nuklir juga lebih rendah dibandingkan dengan biaya listrik berbahan batu bara, minyak dan gas-yang kadang menyebabkan masalah logistik, serta pencemaran. Sementara nuklir, dengan bahan baku uranium dipastikan akan lebih mudah diangkut dan murah biaya.

Volume yang diperlukan lebih kecil dari pada batu bara dan minyak. Satu kilogram uranium alam dapat menghasilkan 20.000 kali lebih banyak energi ketimbang jumlah batu bara yang sama. Dengan nuklir, maka diperkirakan peran batu bara dapat berkurang menjadi 91 juta ton pada 2025, dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20%.

Ongkos bahan bakar nuklir adalah ongkos bahan bakar yang rendah dibandingkan dengan pusat listrik batu bara, minyak dan gas. Namun, uranium harus diproses, diperkaya dan difabrikasi menjadi bahan bakar, dan sekitar dua per tiga daripada seluruh ongkos adalah karena pengayaan dan fabrikasi.

Selain itu, juga harus ditambah biaya pengelolaan bahan bakar bekas pakai yang radioaktif dan penyimpanan akhir bahan bakar bekas pakai tersebut atau limbah yang dipisahkan.

Phobia Nuklir

MELEDAKNYA pembangkit nuklir Chernobyl di Ukraina pada 1986 menjadi sebuah tragedi kemanusiaan. Sekitar 5.000 orang meninggal akibat radiasi nuklir Chernobyl. Dampak radiasi pun menyebar ke pekerja, penduduk yang dievakuasi di daerah yang terkontaminasi, serta penduduk yang tidak dievakuasi.

Dari hasil studi kurang lebih 1.000 liquidartors yang bertugas terkena radiasi tinggi, antara 2-20 gy. Pada hari pertama kecelakaan 26 April 1986, dosis rata-rata yang diterima 100 mSv—bahkan ada yang hingga 500 mSv.

Diperkirakan sebanyak 2.200 orang yang akan meninggal karena radiasi.

Diperkirakan pula 5 juta orang yang saat ini tinggal di Belarusia, Rusia, dan Ukraina terkena kontaminasi zat radioaktif dan 100 ribu di antaranya tinggal di daerah yang masuk dalam kategori sebagai daerah strict control.

Namun, dari studi yang dilakukan Chernobyl Forum yang dibentuk tahun 2003,

diketahui kemudian jika para pekerja kedaruratan dan masyarakat yang tinggal di dekat daerah ayng terkontaminasi mendapat dosis radiasi seluruh badan (whole body radiation), sebanding dengan tingkat radiasi akibat alam.

Tidak ditemukan dampak terhadap kesuburan atau bentuk-bentuk anomali.

Gejala leukaemia akibat radiasi juga tidak ditemukan pada penduduk umumnya. Sementara solid cancer dan penyakit lainnya tidak ditemukan pada penduduk biasa. Yodium 131 sebagai salah satu isotop utama dari kecelakaan Chernobyl terakumulasi dalam kelenjar gondok dari aliran daerah sebagai proses metabolisme biasa.

Kecelakaan Chernobyl memang amat menyeramkan. Namun, jika membandingkan jumlah korban yang meninggal dari tragedi Chernobyl 20 tahun yaitu 5.000 jiwa, sementara industri kimia pada 1984 tercatat 2.500 jiwa. Sementara korban lalu lintas yang tewas selama 1994-1999 mencapai 10.950 jiwa. Selain itu, kecelakaan nuklir selama 60 tahun berjumlah 34 kecelakaan dengan total korban yang tewas mencapai 189 jiwa. Sementara kecelakaan industri kimia mencapai 14 kecelakaan selama 18 tahun, dengan total korban yang tewas mencapai 4.287 jiwa. Kemudian korban yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas dalam kurun lima tahun mencapai 54.733 jiwa.

Karena itu, sejumlah pakar nuklir menilai tidak perlu tragedi tersebut menjadi penghambat dalam mengimplementasikan energi nuklir.

Tragedi tersebut terjadi karena desain reaktor Chernobyl yang tidak stabil pada daya rendah. Sementara daya reaktor bisa naik cepat tanpa bisa dikendalikan. Ledakan juga terjadi karena tidak mempunyai kungkungan reaktor (containment), sementara setiap kebocoran readiasi dari reaktor akan langsung menyebar ke udara.

Kecelakaan Chernobyl juga karena pelanggaran prosedur. Saat pekerjaan penelitian (test) dilakukan, diketahui hanya 8 batang kendali reaktor yang dipakai. Semestinya minimal 30 agar reaktor tetap terkontrol. Sistem pendingin juga dimatikan. Test juga dilakukan tanpa memberitahukan kepada operator.

Selain itu, sebuah dokumen rahasia Rusia menjelaskan ”Chernobyl construction weaknesses.” Pekerja instalasi Chernobyl juga diyakini tidak memiliki budaya keselamatan dan tidak mampu memperbaiki kelemahan desain yang sudah diketahui akan terjadi kecelakaan.

Karena itu, tragedi Chernobyl tidak berdampak pada berkurangnya minat beberapa negara mengembangkan teknologi nuklir. Italia misalnya, yang semula ingin mematikan 4 PLTN-nya, ternyata tidak dilaksanakan, Swedia juga berubah pikiran untuk menutup 12 PLTN, Swiss bergeming tatap 5 PLTN, Jerman memutuskan untuk menutup PLTN hingga habis masa baktinya, sementara Prancis justu menambah menjadi 59 PLTN.

Eropa Timur jumlah PLTN bertambah dari 16 menjadi 22 PLTN, Amerika Serikat memperpanjang masa bakti PLTN, dan bahkan condong untuk membangun lagi. Sementara PLTN di kawasan Asia Timur dan India meningkat dari 54 menjadi 105 PLTN.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia. Hingga kini, kita belum memiliki PLTN. Tragedi Chernobyl masih menjadi momok yang menakutkan. Dus, jarang sekali masyarakat yang tahu kontribusi positif nuklir bagi kesejahteraan manusia. Nuklir juga dinilai menjadi momok senjata yang menakutkan. Padahal, Indonesia tidak pernah berminat membangun infrastruktur senjata nuklir untuk berperang.

M. Yamin Panca Setia


Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]