Friday, January 26, 2007
Rehabilitasi Satwa
Ke Merak Primata Pulang
PULAU Marak, Pantai Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, terdengar nyanyian puluhan Siamang (Symphalangus syndactylus) dan Owa-owa (H. agilis ungko) memecah keheningan. Di pulau yang berjarak sekitar 30 Km dari Darmaga Muara Nipah tersebut, lantunan nyanyian satwa berjenis primata itu terdengar saut menyaut. Sambil bernyanyi, atraksi memukau pun disuguhkan. Dengan menggunakan kaki dan tangan, di dalam beberapa kandang-kandang besar yang menyebar di sekitar penjuru pulau, satwa-satwa itu pada bergelantungan. Satwa-satwa tersebut seolah menyambut cerahnya pagi.
Ulahnya semakin lucu, ketika beberapa aktivis Kalaweit Progam Sumatera, LSM yang bergerak dalam perlindungan satwa primata, yang bermarkas di Jalan Berok No 23 A, Kelurahan Berok Nipah Padang, datang menghampiri dengan membawa jatah makan pagi itu. Sekejab, hewan berbulu hitam lebat disekujur tubuh tersebut pada berlari layak seorang bayi dari anak manusia.
Yang berada di ketinggian kandang, langsung terjun ke dasar kandang. Mendekati para aktivis Kalaweit yang tengah membawa santapan. Lalu, sambil mengulurkan tangan dari celah lubang kandang yang berkawat, satwa-satwa tersebut berharap dapat jatah makan dari para pelindung satwa. Lahap nian satwa-satwa tersebut menyantap.
Sayang, tak semua satwa yang menghuni Pulau Marak dapat menikmati santapan pagi itu. Pasalnya, ada beberapa satwa yang mengindap penyakit akut, seperti harves dan hepatitis. Asperi Ardianto, General Manager Kalaweit menjelaskan, dari 67 ekor satwa yang menghuni Pulau Marak, ada 12 ekor yang tengah mengidap penyakit tersebut.
Satwa-satwa yang tengah sakit tersebut terkulai lemas di kandangnya masing-masing. Oleh aktivis Kalaweit, satwa yang sakit tersebut, terpaksa diasingkan dari satwa lain yang sehat. “Karena dapat menyebarkan penyakitnya ke yang lain,” terang Asperi.
Di Pulau Marak, satwa-satwa tersebut tinggal menyepi di sebuah kandang yang ukurannya lebih kecil. Tidak seluas kandang yang dihuni rekan-rekannya yang sehat. Tiap kandang, dihuni hanya satu satwa. “Kami menyediakan kandang khusus untuk satwa yang sakit,” papar Asperi.
Kondisinya cukup memperihatinkan. Betran, siamang hasil sitaan warga Jakarta misalnya. Dalam kandangnya, Betran nampak terlihat lemas lantaran virus Herpes Simplex yang menyerang ditubuhnya. Satwa asal Hutan Sumatera tersebut terlihat apatis ketika para aktivis Kalaweit menyapanya. Berkali-kali para aktivis menawarkan makanan, tapi Betran tak begitu semangat melahap makanan yang diumbar para aktivis Kalaweit.
Malang juga nasib Ciko, Siamang asal hutan Bengkulu. Ciko yang disita dari warga Jakarta harus menderita karena penyakit yang sama. Hari-harinya tak seindah rekannya yang lain. Tak ada gairah hidup, lantaran virus herves yang dideritanya. Ciko tak begitu lahap menyantap makanan. Dari waktu ke waktu kondisinya tak berubah. Seperti hanya menunggu kematian. Anet, siamang berusia 4 tahun juga bernasib serupa. Hidupnya sangat tergantung dari belas kasih aktivis Kalaweit. Wajahnya terlihat sayu. Kedua matanya berair. Anet sangat merasakan perihnya herves yang diderita.
Lebih parah lagi nasib Ririn, owa yang disita juga dari warga Jakarta. Selain menghidap herves kronis, lengan kirinya pun patah. Kata Asperi, lengan kirinya patah sejak dari penyitaan. Kepada satwa yang baru berusia 3 tahun tersebut, petugas Kalaweit telah melakukan pemeriksaan dan merongsen. “Kita juga telah membalut lengannya yang patah dan memberikan obat anti biotik,” terang Asperi.
Sedangkan Ical, siamang yang berusia 8 tahun terserang Hepatitis A. Kondisinya juga kritis. Virus hepatitis menyerang hatinya. Mata Ical terlihat kuning. Kencingnya kuning kecoklatan. Ical juga sering muntah akibat demam yang dialaminya. Kemudian, daya tahan tubuhnya menjadi lemah.
Malangnya lagi, penyakit yang diderita satwa-satwa tersebut tak akan dapat sembuh karena hingga kini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkannya. Seperti yang dijelaskan Pramudya Harzani, Aktivis dari Yayasan Gibbon Jakarta, hingga kini belum ditemukan obat mujarab untuk menyembuhkan satwa yang menghidap penyakit tersebut, “Namun, kita akan selalu berusaha menemukannya dengan melakukan penelitian,” komentarnya. Saat ini, khasiat yang cukup mujarab mempertahankan tubuh satwa adalah makanan yang alami dan beberapa obat multivitamin. Namun, makanan alami dan multivitamin hanya mampu menahan stamina tubuh satwa.
Satwa-satwa tersebut tinggal menunggu ajal. Kehidupannya amat tergantung dari belas kasih para aktivis Kalaweit yang merawat dan menjaganya. Oleh aktivis Kalaweit, satwa-satwa yang sakit tersebut mendapatkan perlakuan khusus. Menurut Amin Wahyudi, Koordinator Medis Kalaweit, satwa yang sakit tidak boleh lepas dari pengawasan dan pemeriksaan rutin. “Jika tidak selalu diawasi, dalam hitungan empat hari, satwa akan mati,” jelasnya. Pasalnya, virus herpes simplex terus menyerang saraf otak satwa. Gejala yang nampak adalah adanya tonjolan pada wajah, tidak mau makan, lemah, lesu, kesulitan bernafas dan selalu mengepakkan tangan dan akhirnya mati. Selain menyerang otak, virus herves juga terus menerus menggorogoti daya tahan tubuh satwa.
Agar daya tahan terjaga, upaya penting yang harus terus dilakukan adalah menjaga stamina satwa agar jangan sampai turun, dengan memberikan makan dan obat multivitamin secara teratur. “Setidaknya, cara tersebut dapat memperpanjang usianya,” kata Amin Wahyudi. Upaya tersebut dilakukan agar dapat mempertahankan keseimbangan cairan tubuh. Upaya lain yang juga harus dilakukan adalah menjaga keseimbangan nafas dan sirkulasi darah satwa.
Lantaran serangan virus herves simplex dan hepatitis, sejak berdirinya Kalaweit, 17 Juni 2003, Asperi mengungkapkan, dari 83 ekor satwa yang menghuni Pulau Marak, ada 15 ekor siamang dan 2 ekor owa-owa yang mati. Tentang penyebab menjalarnya virus mematikan tersebut, Asperi mengatakan, virus tersebut menyebar lantaran manusia yang memeliharanya tidak memperhatikan kebersihan makanan atau minuman. “Makanan yang diberikan tercampur dengan kotoran satwa,” terangnya.
Selain itu, Pramudya Hirzani mengatakan, “Bagaimana tidak sakit, kalau satwa-satwa tersebut diberikan makanan yang bukan makanannya,” ungkapnya. Aktivis pelindung satwa yang juga tergabung dalam Pusat Penyelamat Satwa (PPS) tersebut menyebutkan, jika makanan yang biasa diberikan para pemilik satwa adalah nasi, roti dan sebagainya. “Kalau pun diberikan buah, umumnya tidak segar dan steril,” ungkapnya.
Karena alasan hobi, para pemilik satwa tega menyiksa dan memenjarakannya. “Bukan perawatan namun penyiksaan dan pemenjaraan,” sesalnya. Pramudya membuktikannya dari semua satwa yang berhasil disita dari tangan masyarakat, umumnya dalam kondisi sakit dan cacat secara fisik lantaran kekerasan.
Sesuai habitatnya, satwa primata tersebut seharusnya diberikan makan buah-buahan yang alami, bukan mengkonsumsi makanan manusia. Selain buah-buahan segar, satwa juga harus diberikan sayur sayuran, serangga, telur dan dedaunan hutan. Buah yang menjadi menu utama adalah jeruk, apel, pisang, rambutan, nanas, duku, lengkeng, anggur dan salak. Sayur-sayuran berupa wortel, buncis, bayam, sawi dan mentimun. Sedangkan serangga berupa belalang, ulat dan jengkrik.
Sebelum buah dan sayuran diberikan, terlebih dulu dicuci agar bersih dengan menggunakan zat kimia yang digunakan untuk menbunuh kuman, bakteri dan mikro organisme penyebab penyakit (disinfektan). Tak cukup disitu, untuk bayi siamang, harus mendapatkan menu tambahan yaitu multivitamin dan susu. “Para pemilik satwa, umumnya tidak diperhatikan kebutuhan makanannya,” sesal Pramudya.
Belum lagi persoalan kesehatan. Banyaknya satwa yang mengidap penyakit yang disita dari masyarakat adalah bukti pemeliharaan satwa hanya ditujukan memuaskan hobi pemiliknya, namun tidak memperhatikan kesehatan. Seharusnya, menurut Amin, pemeriksaan kesehatan satwa dilakukan minimal dua kali dalam seminggu. Pengawasan pun dilakukan setiap saat. Jika satwa ditemukan dalam kondisi pucat lemas, maka harus segera diambil tindakan, “Setidaknya diberikan multivitamin agar kembali sehat,” kata Amin. Jika telat, tambah Amin, bukan tidak mustahil stamina satwa rontok, kemudian mati.
Persoalan kesehatan satwa tergantung penyediaan kandang. Umumnya, terang Pramudya, kandang yang disediakan para pemilik satwa, sangat jauh dari kondisi yang layak. “Ukuran kecil dengan keadaan yang sangat kotor,” katanya. Kandang yang kecil menjadikan satwa tak leluasa beraktivitas. Padahal, siamang atau owa terbiasa hidup di hutan luas. Karena itu, Pramudya menilai, memelihara satwa, bukan berarti menyelamatkannya, tapi justru membunuhnya. “Siamang dan owa-owa harus bebas hidup di hutan belantara, habitat aslinya,” komentar Pramudya.
Selain itu, Asperi menjelaskan, kebersihan kandang harus terjaga. Setiap hari kandang dibersihkan disertai penyemprotan dengan menggunakan disenfektan. “Agar makanan yang dimakan tidak bercampur dengan kotoran satwa,” terangnya.
Lingkungan kandang juga dijaga dari kelembaban dan harus mendapatkan sinar matahari yang cukup. Dalam kandang juga harus tersedia saluran pembuangan kotoran dan sisa makanan yang dibuat pada tempat yang aman dari satwa lain. Kandang juga dilengkapi dengan mainan (enricmen) yang dapat melatih satwa untuk beraktifitas seperti tempat berayun, melompat dan tempat tidur dibagian atas kandang. Bukan hanya itu, satwa juga harus terbebas dalam kondisi stress. Menurut Amin, situasi stress dapat menggerogoti daya tahan tubuh satwa. Jika demikian, nafsu makan semakin hilang, satwa jadi lemas lalu mati.
Selain itu, Amin menambahkan, memelihara satwa dapat merugikan kesehatan manusia. Pasalnya, satwa tersebut dapat menebar penyakit zoonosis seperti TBC, Herpes simplex dan Hepatitis A,B,C. “Jika satwa sakit, penyakitnya juga dapat menular ke tubuh manusia,” katanya. Untuk menangkal penularan, manusia yang memelihara satwa harus memakai masker, sepatu boat dan sarung tangan ketika berhubungan dengan satwa.
Selain kurang perawatan, Asperi bertutur jika ada beberapa satwa yang yang disita dari masyarakat ditemukan cacat lantaran mendapat kekerasan. Ririn misalnya. Siamang berusia 4 tahun tersebut terkulai tak berdaya dengan kondisi patah lengan kirinya. Bahkan, Asperi menambahkan, ada pula siamang yang di dalam tubuhnya ditemukan proyektil senjata. Betran misalnya. Di dadanya ditemukan satu peluru. Peluru juga pernah menyarang di lengan kanan Simon. Sedangkan Boy, Siamang asal Hutan Sumatera ditemukan satu peluru di bagian perutnya. Untungnya, setelah dioperasi, tiga siamang tersebut dapat bertahan hidup.
Pramudya menilai, ditemukannya beberapa proyektil senjata adalah bukti jika ketiga siamang tersebut ditangkap dari aksi pemburuan. Dalam melakukan perburuan, sambung Pramudya, para pemburu umumnya membunuh induk siamang dengan menggunakan senjata api. Setelah induknya mati, para pemburu kemudian menangkap bayi siamang. Lalu, bayi siamang tersebut dipelihara hingga dewasa. Namun, Pramudya menyayangkan jika setelah beranjak dewasa, tak sedikit para pemiliknya kerap membunuh lantaran satwa tersebut liar dan membahayakan. Setelah membunuh, biasanya satwa tersebut diawetkan untuk pajangan.
Dijelaskan oleh Pramudya, aksi perburuan terhadap Siamang dan Owa semakin menggila, lantaran harga seekor Siamang dan Owa di pasaran luar negeri mencapai Rp90 juta. Pramudya khawatir, populasi siamang akan mengalami kepunahan. Pada tahun 2000, habitat siamang telah kehilangan sekitar 66 persen dari habitat aslinya.
Berangkat dari khawatiran jika habitat siamang dan owa akan mengalami kepunahan, kemudian dibentuklah LSM Kalaweit Sumatera program. Menurut Asperi, tujuannya adalah melakukan rehabilitasi penyelamatan satwa untuk jenis primate yang didapat dari hasil penyitaan ditangan masyarakat, kemudian dilepas kembali ke habitat aslinya.
Awalnya, Kalaweit Program Sumatera ditujukan untuk merehabilitasi satwa jenis primata hanya asal hutan Sumatera. Namun, lantaran LSM yang terfokus pada rehabilitasi satwa primata baru ada di dua tempat, yaitu: Padang dan Kalimantan, maka Kalaweit Program Sumatera juga menampung primata dari hutan luar Sumatera. “Siamang dan owa yang umumnya didatangkan dari beberapa daerah seperti sumatera, jawa dan mentawai,” jelas Asperi. Satwa-satwa tersebut, lanjut Asperi, semuanya didapat dari penyitaan masyarakat yang memeliharanya.
Di Pulau Marak, kini telah dibangun sekitar 80 kandang, “Di sini dapat menampung 160 satwa primata” terangnya. Dalam proses rehabilitasi, satwa mendapat perlakuan wajar, disediakan kandang yang layak untuk pemeliharaan, kemudian mendapat pemeriksaan kesehatan dan pakan alami dan multivitamin secara teratur. “Dalam melaksanakan tugas rehabilitasi, Kalaweit melaksanakan tugas penerimaan satwa, karantina, sanctuary, sosialisasi, dan pelepasan ke alam,” jelas Asperi.
Dalam tahapan penerimaan satwa, tindakan awal yang dilakukan Kalaweit adalah melakukan pemeriksaan kesehatan satwa, “Harus diketahui, apakah satwa yang akan direhabilitasi menghidap penyakit atau tidak,” kata Asperi. Jika diketahui mengidap penyakit, maka satwa tersebut harus diasingkan dari satwa yang sehat. Satwa yang sakit tersebut dimasukkan dalam kandang karantina khusus berukuran 2,5m x 2,5m x 1,5m. Lokasi kandang harus berjauhan dengan kandang satwa lain, agar tidak terjadi kontak dan kotorannya tidak mengalir antara satu kandang ke kandang lain. Selain itu, terdapat tempat makanan yang tidak mudah berjamur, meleleh karena panas dan tidak berbau.
Kandang juga tidak boleh terlalu panas tetapi diberi perlindungan baik pepohonan maupun perlindungan lainnya dan juga tidak terlalu lembab. “Kandang harus jauh dari aktifitas manusia untuk meminimalisasi stress,” kata Asperi. Kondisi stress dapat mempengarui daya tahan stamina tubuh. Selain itu, satwa juga harus diajarkan untuk dapat beradaptasi terhadap pakan yang sehat dan alami. “Satwa sitaan, ternyata terbiasa memakan makanan sembarang dari pemiliknya,” ungkap Asperi.
Untuk satwa yang sehat, dilakukan sosilisasi, yaitu belajar untuk hidup secara berkelompok. Satwa tersebut ditempatkan di satu set kandang yang ukurannya 6m x 6m x 6m. Dalam proses sosialisasi, diberikan alat mainan (enricmen) agar satwa dapat terus beraktifitas layaknya di alam. Kemudian, tersedia pula terowongan guna memberikan ruang bagi satwa untuk melakukan kontak fisik dan kontak visual, satu dengan yang lain. Di dalam kandang juga harus disediakan tempat tidur dari dahan yang besar layaknya tidur di hutan. Proses sosialisasi akan mengajarkan satwa untuk menemukan kecocokan antar pasangannya. Siamang dan Owa yang telah menemukan pasangannya dapat dilihat dari tingkah lakunya yang selalu berpasangan.
“Tugas kita selanjutnya adalah mengajarkan satwa untuk dapat mandiri dan kembali ke karakter aslinya,” terang Asperi. Setelah satwa dapat hidup mandiri, jauh dari bantuan manusia dan kembali ke karakter aslinya, tahapan selanjutnya adalah melepaskan satwa ke alam bebas. Hutan tempat hidupnya harus menyediakan makanan alam. “Saat ini, kami sudah melepaskan satu pasang siamang ke hutan Pulau Marak,” kata Asperi. Kemudian, selama 6 bulan, sepasang satwa yang dilepas tersebut tetap berada dalam pantauan untuk mengetahui tingkat perkembangannya.
Tentang sumber makanan yang tersedia di hutan Pulau Marak, Asperi menjelaskan jika makanan di pulau tersebut cukup tersedia. Pulau yang luasnya sekitar 1000 hektar tersebut ditubuhi berbagai jenis tanaman yang dapat dikonsumsi siamang dan owa. Menurutnya, siamang merupakan hewan pemakan tumbuhan seperti pucuk daun dan binatang kecil (omnivores). Selain itu, Siamang juga dapat makan beranekragam buah-buahan. Pun halnya serangga, telur burung dan burung kecil.
Pramudya mendukung dijadikannya Pulau Marak sebagai tempat rehabilitasi dan pelepasan satwa ke alam bebas. Pasalnya, Pulau Marak jauh dari ancaman manusia. Lokasinya jauh. Untuk menuju ke Pulau tersebut, butuh waktu sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan speed boat. Selain itu, saat memantau kondisi hutan, dijumpai adanya kawat pembatas yang memanjang menutupi hutan. Tujuannya, agar kehidupan satwa dapat terus dipantau guna mengetahui perkembangan populasinya.
Lantas bagaimana respon Dinas Kehutanan Sumatera Barat dalam pelaksanaan program penyelamatan satwa yang dilindungi tersebut. Asperi mengungkapkan, respon Dinas Kehutanan setempat sangat minim. Dinas Kehutanan hanya membantu untuk urusan administrasi pemindahan satwa. Sedangkan untuk bantuan dana dan teknis guna kelancaran pelaksanaan program penyelamatan satwa, Dinas Kehutanan Sumatera Barat sama sekali tidak membantu.
Padahal, diakui Asperi kendala besar dalam penanganan satwa adalah minimnya dana dan tenaga teknis. Untuk pengeluaran dana, seperti kebutuhan makanan satwa, Asperi memperkirakan tidak kurang Rp15 juta dalam sebulan. Sedangkan dana keperluan medis, Rp5 juta dalam sebulan. Seperak pun, lanjut Asperi, Pemda Padang tidak memberikan bantuan dana. Alasannya, program tersebut tidak memberikan dampak buat bertambahnya Pendapatan Anggaran Daerah. “Pemda selalu menggagap Kalaweit merupakan sebuah program profit sehingga dapat mencari sumber dana,” katanya.
Ironisnya, justru petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat kadang menarik keuntungan dari Kalaweit. Pernah, Kalaweit harus memberikan uang ke kocek BKSDA sebesar Rp11 juta hanya untuk biaya perjalanan mengantarkan satwa ke Jakarta dan mengurus berkas surat izin perawatan satwa ke BKSDA.
Saat bersama Pramudya mengantar tiga ekor siamang dari BKSDA Lampung saja, petugas Dinas Kehutanan Sumatera Barat memungut pajak dari Kalaweit. Untuk mengantar tiga ekor siamang dari Bandara Tibing ke kantor Kalaweit dengan menggunakan mobil BKSDA, Kalaweit harus mengaluarkan kocek. Untuk menyewa mobil BKSDA, Asperi mengatakan uang yang dikeluarkan Rp190 ribu. Kemudian upah buat petugas yang mengantarkan Rp180 ribu.
Demikian pula kendala teknis. Khususnya dalam keperluan kesehatan, pihak BKSDA Sumatera Barat tidak memberikan bantuan. Memang terdapat klinik di satwa Kalaweit, namun jika kondisi satwa sangat kritis, terpaksa satwa tersebut harus dibawa ke Jakarta untuk diobati. Tenaga medis Kalaweit juga hanya terdiri dua orang. Belum lagi persoalan keamanan. Luas hutan yang mencapai 1000 hektar tersebut hanya diawasi oleh tiga orang staf untuk pengamanan. Pramudya menyesalkan minimnya respon Dinas Kehutanan Padang dalam membantu Kalaweit “Padahal, penyelamatan satwa adalah tanggungjawab Dinas Kehutanan” sesalnya.
Mengenai minimnya respon Dinas Kehutanan dalam membantu kelancaran program penyelamatan satwa di Pulau Marak, Fatullah Talambanua, Komandan Polisi Kehutanan Sumatera Barat berkomentar singkat, “Kalaweit khan yayasan, jadi mereka yang bertanggungjawab,” katanya. Dinas Kehutanan, lanjutnya hanya memberikan dukungan dan izin. “Mungkin tahun depan, kita akan membantu dari sisi teknis,” jawabnya. Asperi berharap, adanya partisipasi aktif dari Pemda dan BKSDA Padang dalam upaya penyelamatan satwa.
Tentang Siamang dan Owa
Siamang (Symphalangus sindactylus) termasuk salah satu jenis dari famili Hilobatideae. Hidupnya selalu di atas pohon pada ketinggian 10 meter. Jarang, turun ke tanah. Jika di tanah, pergerakannya sangat lambat sehingga mudah ditangkap. Siamang memeliki bulu hitam di seluruh tubuhnya dan memiliki suara yang keras karena memiliki kantong suara dilehernya yang menggembung seperti balon saat bersuara. Suaranya dapat terdengar hingga jarak 2 km. Siamang merupakan hewan omnivores (pemakan tumbuhan dan binatang kecil). Makanan utamanya pucuk daun, buah buahan, bunga serangga, telur burung dan burung kecil.
Siamang merupakan satwa yang bersifat sosial dengan hidup berkelompok yang beranggotakan 2 – 6 ekor. Bersifat monogami dan memiliki daerah (teritorial) sendiri. Siamang akan berbunyi untuk menyatakan daerahnya terhadap kelompok siamang lain. Luas daerahnya sekitar 15-40 hektar. Ketika ada gangguan, siamang jantan akan melawan baik dengan bersuara maupun perkelahian.
Siamang mengasuh anaknya hingga dewasa 6-7 Tahun. Bayi yang lahir selalu digendong induknya sampai 3 – 4 bulan. Siamang memiliki masa reproduksi 230 – 235 hari, dengan jarak kelahiran antara 2 – 4 tahun. Usia siamang dapat bertahan hingga 40 tahun.
Sedangkan Owa-owa adalah salah-satu species Hylobates spp. Satwa tersebut dapat ditemukan di hutan Kalimantan. Owa-owa mempunyai kesamaan dengan simpanse, gorilla dan orangutan, yang memiliki berat rata-rata 6 sampai 10 kilogram dan tinggi 70 sentimeter sampai 1 meter. Hampir semua jenis owa-owa mempunyai bulu yang berwarna putih di sekitar wajahnya. Cara hidup owa-owa sangat unik, mereka hidup berpasangan dan mempunyai daerah teritorial 20 sampai 40 hektar. Setiap pagi mereka berbunyi untuk menunjukkan daerah teritorial mereka terhadap owa-owa yang lainnya.
Habitat dua satwa tersebut nyaris punah lantaran degradasi hutan dan perburuan liar.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]