Sunday, January 28, 2007

Teknis Mudah, Pasar Terbuka Lebar

Negara industri berlomba-lomba menggunakan biodiesel sehingga pasarnya meningkat tajam.


PENGHEMATAN dan pencarian sumber-sumber energi baru untuk menggantikan minyak bumi sebagan bahan bakar mutlak untuk terus dilakukan, mengingat bahan bakar minyak (BBM) diyakini keberadaannya semakin menyusut. Krisis BBM dibuktikan dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia (crude oil) di pasar internasional yang kisaran harganya mencapai 70 dollar AS per barel.

Bagi sejumlah negara pengimpor minyak seperti Indonesia, melonjaknya harga minyak mentah dunia memaksa pemerintah memangkas subsidi BBM yang pada akhirnya membebani rakyat. Karena itu, pemerintah bersama sejumlah stakeholder harus terus memaksimalkan usaha mencari sumber-sumber energi baru untuk menggantikan minyak bumi sebagai sumber energi.

Pelbagai kebijakan telah diterbitkan. Lewat Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006, pemerintah menetapkan kebijakan energi nasional yang bertujuan mengamankan pasokan energi dalam negeri. Kebijakan tersebut diarahkan pada tahun 2025, elastisitas energi dapat lebih dari satu dan terwujudnya energi primer mix yang optimal sehingga peran minyak bumi hanya 20 persen.

Sementara gas bumi perannya meningkat lebih dari 30 persen, batu bara 33 persen, bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5 persen, panas bumi menjadi lebih dari 5 persen, serta energi baru dan energi terbarukan lainnya perannya meningkat lebih dari 20 persen.

Kemudian diterbitkan pula Instruksi Presiden No.1 Tahun 2006 tentang Penyediaan Bahan Bakar Nabati. Inpres tersebut adalah penugasan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada 13 kementerian, dan seluruh kepala daerah untuk melakukan percepatan penyediaan dan pemanfaatan biofuel sesuai tugas dan fungsi masing-masing instansi.

Selanjutnya, lewat Keputusan Presiden No.10 Tahun 2006, telah dibentuk Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk pengurangan kemiskinan dan pengangguran lewat pengembangan biofuel, meliputi biodisel, bioethanol, biooil.

Selain ditujukan untuk diversifikasi dan penyediaan bahan bakar ramah lingkungan dan berkelanjutan, pengembangan biofuel juga untuk memperluas kesempatan kerja, pengurangan kemiskinan, pemanfaatan lahan kritis dan penghematan devisa negara.

Berdasarkan blueprint yang disusun Tim Nasional Bahan Bakar Nabati, telah ditetapkan sasaran pengembangan BBN sampai tahun 2010 yaitu biodisel dari sawit ( 6 juta ton), biodisel atau PPO dari jarak (2,25 juta ton), bioethanol dari tebu (3,75 juta ton), serta bioethanol dari Singkong (4,6 juta ton).

Selain itu, biofuel akan mengurangi jatah pemakaian BBM (10 persen), penghematan devisa sebesar 10 miliar dollar AS, pengurangan lahan terlantar 5 juta Ha, menciptakan lapangan kerja 3,6 juta orang, serta mengembangkan desa mandiri.

Namun demikian, kordinasi antardepartemen dan instansi terkait dalam merealisasikan langkah konkret pengembangan biofuel masih dinilai lemah. Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman kepada Jurnal Nasional mengakui hal itu. Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menilai, masing-masing departemen masih kurang fokus dalam pengembangan energi alternatif tersebut. ”Kita masih terikat wek ku wek ku, wek mu wek ku (punyaku punyaku, punyamu punyamu, Red), ujarnya.

Kebijakan energi ternyata belum diikuti oleh langkah-langkah konkret dari masing-masing departemen teknis dan instansi terkait. Menurut dia, Indonesia setidaknya mencontoh Brasil, yang mengupayakan biofuel 20 persen di bawah kendali Menteri Pertanian sebagai pihak yang bertanggungjawab memasok tebu dan menyediakan lahan. Atau di Jerman, yang mengembangkan energi angin dengan otoritas kendali di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup. ”Kita belum bisa,” kata Menristek.

Pasar strategis

Pemerintah memang seharusnya meningkatkan kordinasi antardepartemen teknis terkait dalam pengembangan energi biofuel. Komponen krusial, khususnya lahan harus segera disediakan.

Direktur Utama PT Pertamina Arie H Soemarno mengatakan, pangsa pasar biofuel dalam negeri selalu meningkat. Realisasi pelaksanaan distribusi biodisel B-5 setiap bulan terus mengalami peningkatan. Hingga Agustus 2006, biodisel yang telah terdistribusi sebanyak 37,712 juta kiloliter di UMPS III dan UMPS IV melalui 160 SPBU (155 di Jakarta, dan 5 di Surabaya), dengan harga jual BBM bersubsidi minyak solar.

Menurut dia, harga biodisel (FAME/fatty acid methyl ester) meningkat drastis pada saat launcing dengan harga Rp4.656,47 per liter. Sementara pada September, harganya menjadi Rp5.300 per liter, yang sudah 108 persen dari Mid Oil Platt`s Singapore (MOPS) solar.

Arie menambahkan, perdagangan biodiesel semakin meningkat karena seiring meningkatnya kebutuhan industri sebuah negara. Konsumsi meningkat karena adanya insentif pengurangan pajak.

”Di Eropa, bahan bakar fosil seperti solar pajaknya di SPBU mencapai 70 persen.

sementara biodiesel dari B 5 hingga B-15—tergantung komponennya, pajaknya hanya 9 persen,” ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Senayan, Senin (2/10). Karena itu, negara industri berlomba-lomba menggunakan biodiesel sehingga pasarnya meningkat tajam.

Namun, kata Arie, penjualan biodisel menghadapi kendala harga yang terkenal dengan FAME. Dalam hal ini, biodiesel bukan merupakan minyak mentah, atau kelapa sawit, tapi harus diolah lagi dengan esterifikasi menjadi FAME.

Harga FAME meningkat terus, pada waktu Pertamina launching harganya 4.656 per liter. Namun, pada awal September 2006, harganya menjadi 5.300 per liter. Peningkatan harga FAME ini seiring dengan harga BBM. “Kalau MOPS naik maka harga FAME ikut naik, dan itu harga sebelum PPN (pajak pertambahan nilai). Jadi, sudah 8 persen lebih tinggi daripada harag harga MOPS-nya solar.” Perbedaan harga antara FAME dengan solar semakin tinggi karena pasaran biodiesel sangat meningkat di tingkat dunia.

Pertamina sendiri sejak Agustus 2006, biodisel yang telah terdistribusi sebanyak 37,712 juta kiloliter di UMPS III dan UMPS IV melalui 160 SPBU (155 di Jakarta, dan 5 di Surabaya), dengan harga jual BBM bersubsidi minyak solar.

Menurut Arie, harga biodisel FAME meningkat drastis pada saat launcing dengan harga Rp4.656,47 per liter. Sementara pada September, harganya menjadi Rp5.300 per liter, yang sudah 108 persen dari MOPS solar.

M. Yamin Panca Setia


Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]