Saturday, January 27, 2007
Produk China gerus Produk
Indonesia di Pasar Domestik
SEJUMLAH pengusaha Indonesia tak henti-hentinya mengeluh. Bahkan, tak sedikit yang ”menjerit” karena industrinya gulung tikar lantaran tak mampu bersaing dengan industri China yang memproduksi barang sejenis, dengan harga lebih murah. Jurus menekan harga ala China, rupanya ampuh menggerus pelbagai produk sejenis di pasar domestik, yang diproduksi industri Indonesia.
Irwandy Muslim, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan pelbagai produk China telah berhasil mendominasi pasar domestik. Untuk tekstil dan produk tekstil (TPT), ada sekitar 30 persen hingga 40 persen TPT asal China yang menyebar di pasar domestik. ”Itu baru dari China, belum dari negara lain,” ujarnya kepada Jurnal Nasional di Jakarta (28/9).
Dominasi produk China dengan harga murah juga telah menyebabkan tak sedikit pula industri TPT yang kolaps. Dari 1.850 pengusaha industri TPT yang tergabung dalam API, kini menyusut menjadi 600 anggota.
Irwandy mengakui kehebatan China. ”Kemampuannya menembus pasar karena kompetitif dalam menetapkan harga.” Sebagai besar produk China yang beredar di sejumlah pusat perdagangan, harganya jauh lebih murah daripada barang sejenis asal Indonesia maupun dari negara lain.
Namun, melorotnya harga produk asal China ternyata tak lepas karena praktik impor ilegal. Barang-barang ilegal asal China dapat mudah masuk lewat garis pantai yang tidak terjaga.
”Barang-barang ilegal asal china itu masuk lewat pelabuhan konvensional dari Malaysia, atau Singapura, dengan menggunakan kapal kayu. Kemudian ada pemindahkapalan (transshipment) dengan menggunakan kapal kayu untuk dikirim ke Indonesia.” Irwandy memperkirakan TPT ilegal yang menyebar di pasar Indonesia mencapai 50 persen dari total keseluruh TPT yang beredar. API mencatat total pertumbuhan impor TPT China yang resmi, plus ilegal, pada tahun 2004 mencapai 380 persen.
Dominasi produk China di pasar domestik tersebut memaksa sejumlah pengusaha mendesak pemerintah agar menerapkan safeguard terhadap produk China. Namun, kata Irwandy, safeguards sulit diberlakukan karena industri TPT Indonesia tak mampu menjawab kebutuhan TPT dalam negeri.
”Safeguards tak dapat dilaksanakan karena industri domestik belum siap dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik. Kita membutuhkan Rp50 triliun untuk membiaya restrukturisasi industri TPT, perbaikan mesin yang sudah pada tua,” katanya.”
Selain itu, lanjut Irwandy, besarnya kebutuhan konsumen yang membutuhkan TPT sebagai bahan baku usaha, tidak bisa dikorbankan.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia (APGAI) Suryadi Sasmita mengatakan tidak sedikit industri dalam negeri gulung tikar karena kalah bersaing dengan produk garmen China.
Menurut dia, tren perdagangan garmen di pasar dalam negeri naik 30 persen di tahun 2006, dan didominasi garmen China. Namun, produksi garmen Indonesia yang beredar di pasar domestik turun 30 persen.
Ironisnya, 59 persen garmen yang beredar di pasar bersifat ilegal, dan lebih banyak disuplai dari China. Impor garmen ilegal sangat sulit dikontrol karena melibatkan oknum petugas bea cukai dan kepelabuhan.
Menurut Suryadi, garmen ilegal asal China banyak ditemukan di ITC, pasar Tanah Abang Jakarta, dan berbagai gerai yang ada di berbagai sentra perdagangan di Indonesia. Pasar garmen di Indonesia memang diyakini potensial. Kebutuhan garmen terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Sayang, potensi besar itu justru dikuasai bangsa lain. ”Kita dijajah secara ekonomi. Kita akan menjadi kuli di negeri sendiri,” ujarnya di Jakarta (28/9).
Sebenarnya, kata Suryadi, upaya yang dilakukan pemerintah untuk memproteksi produk dalam negeri sudah dilakukan. ”Koordinasi antar instansi pemerintah sudah ada. Tapi, walhasil pada 2004-2006 penyelundupan tidak berhasil diantisipasi, bahkan naik hingga mencapai 278 persen untuk produk garmen dan TPT.”
Krisis ekonomi yang melanda juga menjadi peluang besar bagi China untuk mengekspansi produknya dengan harga murah ke pasar Indonesia.
Industri keramik Indonesia terancam oleh serbuan keramik asal China. Zulfikar Lukman, Sekretaris Jenderal Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengatakan kramik ilegal dari China telah menyerbu pasar domestik. Data Asaki menyebutkan, ada perbedaan harga produk keramik China dan Indonesia. Produk sanitasi China di tingkat konsumen Rp 500.000 per unit, sedangkan harga sanitasi Indonesia di tingkat produsen saja Rp 800.000 per unit.
Untuk masuk ke Indonesia, China menggunakan dokumentasi dari Malaysia atau Singapura, untuk mengirim keramik ke Indonesia, agar Charge yang dikenakan hanya 5 persen. ”Padahal, China yang bukan anggota Asean harus dikenakan charge 23 persen saat akan mengekspor produknya,” ujarnya kepada Jurnal Nasional (28/9).
Masuknya keramik China ke Indonesia juga karena praktik reekspor yang pengusaha China dengan pengusaha dari negara lain. Reeskpor terjadi konsekuensi dari pemberlakuan penetapan bea tarif masuk yang berbeda antar negara berdasarkan lokasinya.
China juga diduga menerapkan praktik dumping pada harga jual produk kawat baja di pasar Indonesia. Kawat baja impor asal China dijual dengan harga US$200 hingga US$300 per ton, jauh di bawah harga pasar internasional yang mencapai US$800-US$1.000 per ton.
M. Yamin Panca Setia
Indonesia di Pasar Domestik
SEJUMLAH pengusaha Indonesia tak henti-hentinya mengeluh. Bahkan, tak sedikit yang ”menjerit” karena industrinya gulung tikar lantaran tak mampu bersaing dengan industri China yang memproduksi barang sejenis, dengan harga lebih murah. Jurus menekan harga ala China, rupanya ampuh menggerus pelbagai produk sejenis di pasar domestik, yang diproduksi industri Indonesia.
Irwandy Muslim, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan pelbagai produk China telah berhasil mendominasi pasar domestik. Untuk tekstil dan produk tekstil (TPT), ada sekitar 30 persen hingga 40 persen TPT asal China yang menyebar di pasar domestik. ”Itu baru dari China, belum dari negara lain,” ujarnya kepada Jurnal Nasional di Jakarta (28/9).
Dominasi produk China dengan harga murah juga telah menyebabkan tak sedikit pula industri TPT yang kolaps. Dari 1.850 pengusaha industri TPT yang tergabung dalam API, kini menyusut menjadi 600 anggota.
Irwandy mengakui kehebatan China. ”Kemampuannya menembus pasar karena kompetitif dalam menetapkan harga.” Sebagai besar produk China yang beredar di sejumlah pusat perdagangan, harganya jauh lebih murah daripada barang sejenis asal Indonesia maupun dari negara lain.
Namun, melorotnya harga produk asal China ternyata tak lepas karena praktik impor ilegal. Barang-barang ilegal asal China dapat mudah masuk lewat garis pantai yang tidak terjaga.
”Barang-barang ilegal asal china itu masuk lewat pelabuhan konvensional dari Malaysia, atau Singapura, dengan menggunakan kapal kayu. Kemudian ada pemindahkapalan (transshipment) dengan menggunakan kapal kayu untuk dikirim ke Indonesia.” Irwandy memperkirakan TPT ilegal yang menyebar di pasar Indonesia mencapai 50 persen dari total keseluruh TPT yang beredar. API mencatat total pertumbuhan impor TPT China yang resmi, plus ilegal, pada tahun 2004 mencapai 380 persen.
Dominasi produk China di pasar domestik tersebut memaksa sejumlah pengusaha mendesak pemerintah agar menerapkan safeguard terhadap produk China. Namun, kata Irwandy, safeguards sulit diberlakukan karena industri TPT Indonesia tak mampu menjawab kebutuhan TPT dalam negeri.
”Safeguards tak dapat dilaksanakan karena industri domestik belum siap dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik. Kita membutuhkan Rp50 triliun untuk membiaya restrukturisasi industri TPT, perbaikan mesin yang sudah pada tua,” katanya.”
Selain itu, lanjut Irwandy, besarnya kebutuhan konsumen yang membutuhkan TPT sebagai bahan baku usaha, tidak bisa dikorbankan.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia (APGAI) Suryadi Sasmita mengatakan tidak sedikit industri dalam negeri gulung tikar karena kalah bersaing dengan produk garmen China.
Menurut dia, tren perdagangan garmen di pasar dalam negeri naik 30 persen di tahun 2006, dan didominasi garmen China. Namun, produksi garmen Indonesia yang beredar di pasar domestik turun 30 persen.
Ironisnya, 59 persen garmen yang beredar di pasar bersifat ilegal, dan lebih banyak disuplai dari China. Impor garmen ilegal sangat sulit dikontrol karena melibatkan oknum petugas bea cukai dan kepelabuhan.
Menurut Suryadi, garmen ilegal asal China banyak ditemukan di ITC, pasar Tanah Abang Jakarta, dan berbagai gerai yang ada di berbagai sentra perdagangan di Indonesia. Pasar garmen di Indonesia memang diyakini potensial. Kebutuhan garmen terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Sayang, potensi besar itu justru dikuasai bangsa lain. ”Kita dijajah secara ekonomi. Kita akan menjadi kuli di negeri sendiri,” ujarnya di Jakarta (28/9).
Sebenarnya, kata Suryadi, upaya yang dilakukan pemerintah untuk memproteksi produk dalam negeri sudah dilakukan. ”Koordinasi antar instansi pemerintah sudah ada. Tapi, walhasil pada 2004-2006 penyelundupan tidak berhasil diantisipasi, bahkan naik hingga mencapai 278 persen untuk produk garmen dan TPT.”
Krisis ekonomi yang melanda juga menjadi peluang besar bagi China untuk mengekspansi produknya dengan harga murah ke pasar Indonesia.
Industri keramik Indonesia terancam oleh serbuan keramik asal China. Zulfikar Lukman, Sekretaris Jenderal Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengatakan kramik ilegal dari China telah menyerbu pasar domestik. Data Asaki menyebutkan, ada perbedaan harga produk keramik China dan Indonesia. Produk sanitasi China di tingkat konsumen Rp 500.000 per unit, sedangkan harga sanitasi Indonesia di tingkat produsen saja Rp 800.000 per unit.
Untuk masuk ke Indonesia, China menggunakan dokumentasi dari Malaysia atau Singapura, untuk mengirim keramik ke Indonesia, agar Charge yang dikenakan hanya 5 persen. ”Padahal, China yang bukan anggota Asean harus dikenakan charge 23 persen saat akan mengekspor produknya,” ujarnya kepada Jurnal Nasional (28/9).
Masuknya keramik China ke Indonesia juga karena praktik reekspor yang pengusaha China dengan pengusaha dari negara lain. Reeskpor terjadi konsekuensi dari pemberlakuan penetapan bea tarif masuk yang berbeda antar negara berdasarkan lokasinya.
China juga diduga menerapkan praktik dumping pada harga jual produk kawat baja di pasar Indonesia. Kawat baja impor asal China dijual dengan harga US$200 hingga US$300 per ton, jauh di bawah harga pasar internasional yang mencapai US$800-US$1.000 per ton.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]