Saturday, January 20, 2007
Pemusnahan Unggas
Perlu Disertai Peraturan
GABUNGAN Pengusaha Perunggasan Indonesia (GAPPI) menilai pemusnahan unggas yang dikelola secara nonkomersial (backyard farm) di pemukiman yang dinyatakan berisiko tinggi terhadap penyebaran flu burung (avian influenza-AI), harus disertai dengan pengaturan tatalaksana peternakan ayam yang dikelola rumah tangga.
Peraturan itu diharap lebih menjamin kebersihan guna menghindari merebaknya virus flu burung.
Achmad Dawami, Sekjen GAPPI menilai, upaya pemusnahan unggas nonkomersial yang diganti dengan uang Rp12.500 sebaiknya dialokasikan untuk membantu masyarakat membuat kandang unggas yang lebih menjamin kebersihan.
”Uang itu baiknya tidak dihamburkan, kalau ada 1 juta ekor ayam, berapa miliar dana yang dikeluarkan untuk mengganti. Mengapa pemerintah tidak menggunakan dana tersebut untuk disumbangkan dalam bentuk fisik kandang,” ujarnya kemarin.
Menurut Achmad, dalam pemberantasan flu burung hal yang paling penting adalah mengajari masyarakat untuk berlaku bersih. Dia menyakini, unggas yang dipelihara masyarakat merupakan sumber protein masyarakat kelas bawah yang tidak bisa diganti dengan sumber protein lainnya. Dia mencontohkan peternakan di Filipina dan Malaysia yang tertata rapi, dan tetap memperbolehkan unggas dipotong di pasar karena terkait dengan keyakinan konsumen.
Menurut dia, sejak kasus virus flu burung merebak di tiga daerah, pengusaha perunggasan mengalami kerugian yang signifikan. Sejak ramai pemberitaan flu burung, katanya, telah terjadi penurunan harga yang drastis.
Dalam satu bulan terakhir, telah terjadi penurunan dari harga pokok sebesar 40 persen. Menurut dia, harga pokok Rp8.500-9.000 per kilogram. Sementara harga saat ini hanya Rp5.000-Rp5.500 per kilogram.
Achmad mengharap selain usaha pemberantasan flu burung dengan cara memusnakan unggas, pemerintah harus menyisipkan pendidikan bahwa ayam dan telur adalah sumber protein yang paling murah untuk menyehatkan masyarakat.
Menurut dia, konsumsi protein daging ayam di Indonesia sangat rendah, yaitu hanya 4 kilogram per kapita per tahun. Sementara di Malaysia, katanya, konsumsi protein dari ayam mencapai 32 kilogram per kapita per tahun.
Menurut Musny Suatmodjo, Direktur Kesehatan Hewan Deptan, pihaknya akan segera menyiapkan konsep restrukturisasi perunggasan yang bekerja sama dengan pemda, dan menyusun konsep dalam upaya agar dapat mendeteksi sedini mungkin penyebaran virus H5N1 pada unggas.
”Kami sedang mengembangkan dan memperbanyak unit berupa tim pelacak penyakit atau tim respon penyakit sehingga penanggulangan flu burung dapat dengan baik,” ujarnya.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]