Saturday, January 20, 2007
Pemerintah Kerahkan
Berbagai Upaya Pencarian Adam Air
Jakarta|Jurnal Nasional
USAHA Tim SAR mencari Pesawat Adam Air KI 574 jenis boeing 747-400 yang dinyatakan hilang pada 1 Januari lalu, hingga kini tak juga menuai hasil. Keberangkatan pesawat yang menerbangkan 96 awak penumpang, dan enam kru pesawat dari Bandara Juanda Surabaya ke Bandara Sam Ratulangi Manado, menuai misteri.
Segala daya dan upaya telah dikerahkan Tim SAR. Akhir pekan lalu, pencarian diperluas ke seluruh kawasan Sulawesi. Di Sulawesi Barat, penyisiran dilakukan di Polewali Mandar, Majene dan Mamuju. Pencarian juga dipusatkan di Kabupaten Tana Toraja Sulawesi Selatan, Bolaang Mongondow Sulawesi Utara, dan Kabupaten Poso di Sulawesi Tengah.
Armada pencarian pun diperkuat. Di kawasan pegunungan Takolekaju, Malengraf hingga Balingara, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Badan SAR Nasional mengerahkan empat pesawat Boeing 300 TNI AU, dua pesawat Cassa dan pesawat Nomad TNI AU, serta pesawat Fokker-50 dari Singapura.
Tim SAR Gabungan yang berjumlah 2.886 orang juga telah mengerahkan satu pesawat intai Boeing 737-200 dari Squadron Udara 8 Lanud Hasanuddin, dan sebuah helikopter Puma TNI AU. Enam helikopter pun dikerahkan untuk memperkuat armada udara.
Sementara pencarian di sekitar perairan Selat Makassar, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah, dikerahkan tiga KRI, yaitu Fatahilah, Ajax dan KRI Rengat.
Enam orang tim investigasi dari Amerika Serikat juga telah tiba di Makassar akhir pekan lalu untuk membantu pencarian.
Namun, tak ada satu pun pihak yang bisa memastikan di mana posisi Adam Air. Hanya sejumlah spekulasi yang bermunculan. Ada yang menilai Adam meledak di atas udara, tenggelam di lautan, atau telah luluh lantak di suatu daratan.
SAR Mission Coordinator (SMC), Marsekal Pertama Eddy Suyanto mengatakan upaya pencarian yang telah berlangsung selama seminggu belum membuahkan hasil. Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla saat bertandang ke Makassar, mengatakan pemerintah akan berbuat maksimal dalam mencari dan menemukan pesawat yang hilang tersebut. Dihadapan keluarga korban, Wapres mengatakan pencarian terus dilakukan hingga keberadaan pesawat naas itu ditemukan.
Memang sulit memastikan. Yang ada hanya spekulasi. Deteksi radar Singapura yang awalnya menyatakan keberadaan pesawat Pesawat tersungkur di sekitar Desa Nuangan Bolmong, pengunungan Rantepao-Toraja dan sekitar Perairan Majene Sulawesi Barat, ternyata tak terbukti. Sementara pencarian di kawasan Manado berdasarkan hasil radar dari Air Traffic Control (ATC) Bandar Sam Ratulangi juga tak membuahkan hasil.
Pelacakan lewat telepon seluler juga tak mumpuni mendeteksi. Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Setio Rahardjo, mengatakan deteksi lewat seluler tidak berhasil karena tidak ada satu pun telepon genggam milik korban dapat dihubungi. 23 orang di antara 96 awak pesawat yang menjadi konsumen Telkomsel telah menonaktifkan telepon genggamnya saat sebelum terbang ke Manado.
Roy Suryo Notodiprojo, pakar telematika menawarkan cara lain yaitu menggunakan satelit Keyhole milik intelijen Amerika Serikat (AS) untuk mendeteksi keberadaan pesawat Adam Air.
Dia memastikan, informasi keberadaan Adam terekam oleh Keyhole. Satelit itu dapat berfungsi sebagai IFF (Identifying Friend or Foe) atau mendeteksi setiap pesawat yang terbang setiap hari.
Ide tersebut dia lontarkan setelah gagalnya mendeteksi lewat seluler karena hanphone milik awak pesawat tidak ada yang aktif.
Roy menghimbau agar pemerintah secara resmi meminta kepada AS agar diberikan akses data keberangkatan Adam Air dari Surabaya ke Manado, lalu meminta rekaman pergerakan Adam Air yang terekam Keyhole. ”Data itu pasti ada,” katanya saat dihubungi kemarin. Pencarian lewat Keyhole, lanjutnya, harus ditanggani oleh teknisi yang paham.
Menurut Roy, pencarian lewat radar tidak maksimal mendeteksi Emergency Locator Beacon-Aircraft (ELBA) dan Emergency Locator Transmitter (ELT). Apalagi, unit penerima ELT wilayah timur dan barat Indonesia rusak. Sinyal Fox Hunting ELT/ELBA juga dipastikan sudah habis sebab batterainya hanya cukup untuk 48 jam setelah kejadian.
Sementara lewat seluler, Roy telah mengecek jika 24 nomor HP yang sudah diperiksa, 23 nomor sudah nonaktif saat berangkat di Surabaya, lalu yang satunya nonaktif saat berangkat dari Jakarta.
Pencarian lewat seluler dapat berhasil apabila ada awak yang lupa mematikan HP, lalu pesawat terbang rendah, maka pesawat dapat diketahui lokasinya. ”Tapi, tidak ada, harapannya saja, mungkin ada yang selamat, maka HP dapat dinyalakan,” harapnya.
Wakil Ketua Komisi I DPR Bidang Pertahanan dan Hubungan Internasional, Yusron Ihza Mahendra menilai jika Tim SAR sudah kehabisan cara, bisa saja pemerintah meminjam satelit Keyhole milik AS. ”Alat itu, bisa saja diarahkan untuk kepentingan pencarian,” katanya kemarin. Namun, katanya, kerja alat pengintai itu tetap berada dalam pengawasan Indonesia. ”Kita juga mengontrol, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Markas Besar (Mabes) Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyatakan, mendukung kebijakan politik pemerintah untuk mengupayakan segala cara termasuk meminta negara lain untuk mendukung pencarian pesawat Adam Air.
"Segala upaya yang dilakukan tentu sudah dikonsultasikan kepada presiden termasuk masalah keamanan nasional berkenaan dengan pemanfaatan teknologi canggih dalam pencarian Adam Air," kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Laksamana Muda Sunarto Sjoekronoputro.
Pemerintah juga telah menegaskan bahwa seluruh bantuan pihak asing tetap dibawah kendali Tim SAR Gabungan (SAR Mission Coordinator/SMC) yang dipimpin oleh Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin Makassar, Marsekal Pertama Eddy Suyanto.
Yono Reskoprojo, Pakar Aerodinamika dan Perancangan Pesawat memperkirakan pesawat itu telah meledak di udara, dan tak berhasil diindentifikasi karena matinya arus listrik sehingga memutuskan instrumen komunikasi.
Menurut dia, hilangnya Adam Air dari radar pendeteksi karena sinyal radio hilang akibat matinya arus listrik. ”Jika sinyal radio hilang, maka sulit dijamin apakah pesawat itu jatuh ke daratan atau tidak,” ujarnya kemarin.
Perkiraan Yono tersebut berangkat dari informasi terputusnya komunikasi antara pilot Adam Air dengan petugas air traffic control (ATC). Menurut dia, dalam posisi terbang, jika pilot keluar dari jalurnya, atau ingin menggeser posisi pesawat, naik dan turun, maupun belok ke kiri dan ke kanan, maka harus izin dahulu ke petugas ATC karena terbang di air way. ”Tapi, itu tidak ada (izin, Red), tiba-tiba hilang begitu saja,” katanya akhir pekan lalu.
Matinya arus listrik yang menyebabkan putus sinyal radio menyebabkan pesawat naas itu sulit ditemukan. Yono menambahkan instrumen keamanan ELBA juga harusnya mengirim sinyal secara berkala agar memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengindentifikasi posisi.
Namun, tidak juga diketahui kira-kira posisi Adam Air. Kemudian, lanjutnya, jika tiba-tiba instrumen listrik mati, harusnya ada instrumen analog penerbangan seperti indikator ketinggian (altimeter) dan kecepatan pesawat (air speed), serta kompas.
Yono tidak bisa memperkirakan, apakah instrumen tersebut dalam kondisi baik. Jika dalam kondisi bermasalah, katanya, seharusnya Direktorat Sertifikasi Angkutan Udara (DSKU) tidak boleh mengeluarkan izin penerbangan.
Apa yang diutarakan Yono, rupanya menjadi pangkal masalah sulitnya mendeteksi keberadaan pesawat. Diakui Hatta Radjasa kepada wartawan akhir pekan lalu jika ELBA milik Badan SAR Nasional di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng telah rusak sebelum jatuhnya pesawat Adam Air. Menhub mengaku ada ada gangguan sejak seminggu lalu pada LUT (local user terminal) yang ada di Bandara Cengkareng milik Basarnas.
Lantas, mengapa penerbangan terus diperbolehkan? Padahal, ELBA sangat vital dalam aktivitas penerbangan. ELBA adalah suatu perangkat suar penentu lokasi untuk pesawat. Fungsi alat ini yakni memancarkan sinyal radio agar lokasinya bisa diketahui sistem deteksi yang ada. Dalam jarak yang begitu jauh, ELBA dapat menangkap posisi pesawat.
Ketidakmampuan radar mendeteksi posisi pesawat menunjukan ELBA pesawat dalam kondisi rusak. Menurut Yono, Adam Air memang memiliki sertifikat layak terbang hingga waktu tertentu. Namun, lembaga yang mengeluarkan sertifikat penerbangan harusnya lebih kredibel dan tidak sembarang mengeluarkan izin penerbangan, termasuk memperhatikan kondisi ELBA.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]