Saturday, January 27, 2007
Nuklir Alternatif Menjawab Krisis Energi
HARGA minyak mentah di pasar internasional yang bersifat fluktuatif agaknya membuat penghuni dunia tersentak. Wajar, karena dari waktu ke waktu, kebutuhan akan kuantitas minyak sebagai sumber energi selalu meningkat. Sekitar 50% kebutuhan energi dunia bersumber dari bahan bakar minyak. Sisanya, disuplai dari. batu bara dan gas alam, Sementara energi surya, angin dan sebagainya, hanya memberikan kontribusi yang sedikit.
Beberapa tahun mendatang, energi tak terbarukan itu pun dipastikan akan habis. Mungkin, penghematan dapat menjadi alternatif agar stok minyak dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Namun, sampai kapan harus terus berhemat. Apalagi, seiring dengan meningkatnya teknologi dan industrialisasi, sangat mustahil, jika seruan berhemat BBM dapat dilaksanakan semaksimal mungkin.
Justru sebaliknya, kandungan minyak di perut bumi akan terus dieksploitasi guna menjawab kebutuhan energi industri dan rumah tangga. Karena itu, sudah saatnya perlu ada implementasi kebijakan yang revolusioner ke arah inovasi energi nonmigas.
Dalam konteks ini, energi nuklir menjadi alternatif yang harus diperhitungkan. Laporan World Nuclear Association 2005 berjudul The New Economics of Nuclear Power, menyimpulkan bahwa nuklir adalah alternatif terbaik menjawab persoalan semakin langkanya minyak sebagai sumber energi.
Biayanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan energi berbahan bakar lain. Di Spanyol, biaya produksi listrik yang dihasilkan pembangkit nuklir turun hingga 29% selama 1995-2001. Ongkos bahan bakar energi listrik nuklir juga lebih rendah dibandingkan dengan biaya listrik berbahan batu bara, minyak, dan gas yang kadang menyebabkan masalah logistik, serta pencemaran.
Sementara nuklir, dengan bahan baku uranium dipastikan akan lebih mudah diangkut dan murah biaya. Volume yang diperlukan lebih kecil dari pada batu bara dan minyak. Satu kilogram uranium alam dapat menghasilkan 20.000 kali lebih banyak energi ketimbang jumlah batu bara yang sama.
Dengan nuklir, maka diperkirakan peran batu bara dapat berkurang menjadi 91 juta ton pada 2025, dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20%.
Lebih bersaing
Berdasarkan perhitungan Asosiasi Nuklir Dunia pada Januari 2006, daya nuklir jauh lebih bersaing dibandingkan dengan pembangkit listrik jenis lain. Biaya energi nuklir hanya sekitar sepersepuluh biaya batu bara. Biaya energi nuklir rata-rata 0,4 sen euro per kWh, sama seperti tenaga air. Batu bara lebih 4 sen euro, gas berjangka 2,3 sen euro dan hanya tenaga angin yang lebih baik daripada nuklir. Biaya nuklir pun akan terus menurun.
Daya tarik energi nuklir juga terletak pada_murahnya ongkos bahan bakar dibandingkan dengan pusat listrik batu bara, minyak dan gas. Biaya yang dikeluarkan menyangkut pengelolaan bahan bakar bekas pakai, dekomisioning dan penyimpanan limbah akhir. Biaya dekomisioning diperkirakan sebesar 9%-15% dari biaya modal awal pusat listrik nuklir.
Biaya tersebut hanya beberapa persen tambahan atas biaya investasi. Bahkan, lebih kecil lagi dari biaya pembangkit listrik. Dalam laporan bersama Nuclear Energy Agency OECD dengan International Energy Agency yang disusun selama tujuh tahun, disimpulkan bahwa daya saing nuklir terus bertambah karena pada 1998, terjadi peningkatan faktor kapasitas listrik nuklir dan naiknya harga gas.
Meski demikian, dengan segala keunggulannya, energi nuklir seolah tenggelam karena banyak masyarakat dunia yang masih phobia terhadap tragedi meledaknya reaktor Chernobyl Ukraina pada 26 April 1986.
Mohammad Ridwan, Mantan Kepala Badan Pengawas Teknologi Nuklir, dalam presentasinya pada acara diskusi panel tentang Pembangunan PLTN.di Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu, mengatakan tidak perlu tragedi tersebut menjadi penghambat dalam mengimplementasikan energi nuklir.
Menurut dia, tragedi tersebut terjadi karena desain reaktor Chernobyl tidak stabil pada daya rendah. Sementara daya reaktor bisa naik cepat tanpa bisa dikendalikan. Di Indonesia, jarang sekali masyarakat yang tahu kontribusi positif nuklir bagi kesejahteraan manusia. Nuklir menjadi momok senjata yang menakutkan. Padahal, Indonesia tidak pernah berminat membangun infrastruktur senjata nuklir untuk berperang.
Kurang berani
Pemerintah sendiri terkesan kurang berani merealisasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Muria. Sementara tiga investor asing asal Jepang, Prancis, dan Korea Selatan sudah menyatakan siap mendanai proyek tersebut senilai Rp35 triliun.
Sebenarnya, Indonesia bermimpi membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Muria, Jepara. Tiga investor asing juga sudah menyatakan siap mendanai pembangunannya senilai Rp35 triliun. Megaproyek di lahan 25 ha yang berlokasi di kawasan Tapak, Lemah Abang, Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara itu, dijadwalkan mulai dibangun pada 2010 dan beroperasi 2015.
PLTN tersebut diperkirakan mampu memproduksi listrik dengan biaya yang lebih murah, karena bahan bakar untuk mengoperasikan listrik jauh lebih rendah daripada pembangkit lainnya, yaitu sekitar 40%. Harga listrik dari PLTN Muria nanti hanya berkisar US$0,03 hingga US$0,04 per kWh. Sementara harga listrik sekaranig mencapai US$0,07 per kWh.
Dalam pelaksanaanya, Badan Tenaga Atom Nasional (Batan). telah membentuk tim nasional yang bertugas menentukan pemilik guna merealisasikan proyek tersebut.
Selanjutnya, pemilik akan mengatur pelaksanaan tender proyek kepada para investor yang tertarik menanamkan investasi di sektor PLTN.
Kepala Batan Soedyartomo Soentono mengatakan berdasarkan studi yang dilakukan Batan, investasi PLTN Muria berkisar antara US$1.350 per kilowatt hingga US$1.750 per kilowatt. Selain itu, penggunaan uranium juga pengaruhnya hanya 5%, termasuk pengolahan dan daur limbahnya yang hanya 25% dari harga listrik yang dijual. "Makanya, negara-negara yang menggunakan PLTN, tarif dasar listriknya tidak naik meski sudah 20-30 tahun," ujarnya.
Hingga kini pemerintah belum bisa memastikan waktu yang tepat untuk memulai pelaksanaan proyek tersebut. Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Yogo Pratomo pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan pembangunan PLTN Muria tidak sebatas mempertimbangkan aspek investasi dan keuangan. Namun, juga harus mempertimbangkan aspek politik, keamanan, dan hubungan internasional dengan negara lain. Indonesia tentu tidak ingin seperti pembangunan teknologi nuklir Iran, yang dikhawatirkan masyarakat intemasional.
Kecurigaan yang berlebih terhadap nuklir sudah saatnya dipalingkan. Jangan terlalu over estimate dalam memandang nuklir. Semua teknologi pasti akan membawa dampak positif dan negatif bagi manusia.
Dan, jika mempertimbangkan pergerakan harga minyak dan gas yang selalu meningkat, tentu harusnya memacu pergeseran ke arah nonmigas. Nuklir menjadi alternatif dalam menjawab hal itu. Jika terus berpijak pada minyak dan gas, maka dipastikan akan semakin mempersulit sistem listrik serta berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.
Jadi mengapa tidak Indonesia beralih ke nuklir.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]