Saturday, January 27, 2007

Membangun Kemitraan
dengan Masyarakat

Riau|Jurnal Nasional

MASKUR Sodik, petani sayur mayur dan buah-buahan di Desa Pelalawan, Provinsi Riau tersenyum lepas. Jerih payahnya bertani ternyata mampu menyekolahkan anaknya ke bangku kuliah, dan SMA.

Ketua Kelompok Tani Mekar Makmur, Dusun Pangkalan Delik, Pelalawan, Provinsi Riau mengaku mampu menghasilkan uang rata-rata Rp3 juta per bulan dari bercocok tanam.

Dia juga tidak terlalu pusing dalam penyediaan pupuk, bibit tanaman, pengelolaan pasca panen, dan soal pendistribusian untuk menjual hasil panennya ke konsumen. Pasalnya, Maskur bersama petani lainnya juga mampu memproduksi pupuk, dan bibit tanaman, serta ketersedian akses pasar sehingga tidak perlu takut jika hasil panennya tak terjual, dan membusuk begitu saja.

Suparman dan Among Siswoyo, rekan Masykur, juga dapat tersenyum lepas. Meski hanya sebatas petani sayur, keduanya mengaku berani mengkredit mobil Mitsubishi Colt Disel untuk memperlancar distribusi hasil panennya. Dalam sebulan, Suparman dan Among mengaku bisa membayar Rp4 juta per bulan untuk membiayai kredit mobilnya.

Meningkatnya kemampuan ketiga petani itu bermula dari sebuah komitmen untuk menggapai kemandirian sejak empat tahun lalu. Petani mitra binaan PT Riau Pulp and Paper (RAPP) itu digenjot agar menjadi petani mandiri.

Lewat pendampingan yang dilakukan pelatih dari RAPP, kata Maskur, petani di Pelalawan mendapatkan pengetahuan untuk membuat pupuk kompos, bibit sayur mayur dan buah-buahan, mengatur pola tanam, serta mendapat akses untuk menjual komoditas panen.

Jika sudah mumpuni dalam bercocok tanam, perusahaan baru menghibahkan sejumlah modal, pupuk, bibit dan menyediakan sarana produksi untuk bertani.

Kini, ketiganya bertanggungjawab untuk mentransformasikan pengetahuannya dalam bercocok tanam kepada petani lain. Maskur mengaku harus bertanggungjawab dalam mendistribusikan pengetahuannya kepada petani lain. Tempatnya sendiri menjadi markas tukar pikiran antar petani di Pelalawan.

Menurut Maskur, petani harus dididik mandiri. Meski RAPP menghibahkan modal kepada petani, namun distribusi modal lewat kelompok tani tidak diberikan begitu saja kepada petani. Setidaknya, petani harus membayar sekitar 10 persen hingga 50 persen untuk Unit Simpan Pinjam (USP). Dana itu terus bergulir ke petani lain yang belum mendapatkan pinjaman sehingga dapat meluas.

Kepada perusahaan, kata Maskur, petani yang menjadi anggota kelompok turut bertangungjawab dengan membuat laporan kepada perusahaan setiap bulannya guna mengetahui aktivitasnya. ”Ada surat perjanjian di intern kelompok,” katanya.

Lain lagi cerita Ujang Basril, lelaki berusia sekitar 45 tahun yang tinggal di Kecamatan Pelalawan, Riau. Tak disangka, jika kehidupan akan berubah lebih baik saat ini. Dulu, Ujang hidup dari hutan dengan cara menebang pohon di kawasan yang katanya sudah mendapat izin.

Namun, pada tahun 2002, dia diajak bergabung oleh RAPP untuk melakukan pemanenen di area yang merupakan wilayah konsensi RAPP. Ujang mendapat jatah sekitar 100 hektar hingga 200 hektar untuk memanen hutan. Dalam satu hektar, kayu yang diproduksinya sebanyak 200 ton atau 200 meter kubik. Dari usaha itu, Ujang mengaku omset usahanya bisa mencapai Rp1,5 miliar, sementara laba yang biasa diterima mencapai Rp150 juta dalam sekali memanen.

Ujang memperkerjakan sekitar 75 personil setiap mendapat proyek memanen hutan dari RAPP. Kini, Ujang punya alat eksvakator, gergaji listrik, atau alat pemanenan hutan lainnya, setelah dirinya mampu membayar angsuran Rp15 juta per bulan ke RAPP.

Direktur CSR PT Riau Pulp and Paper (RAPP) Amru Mahalli mengaku mereka adalah bagian kecil dari masyarakat binaan RAPP. Dalam melakukan pembinaan, RAPP lebih memfokuskan pada pengembangan keterampilan petani, atau keterampilan di bidang lain kepada masyarakat yang menjadi mitra binaan.

Kegiatan-kegiatan terkait CSR yang dilakukan RAPP antara lain di bidang lingkungan dengan menyiapkan lahan tanpa bakar, mencegah kebakaran hutan, sertifikasi hutan tanaman lestari, sedangkan untuk pemberdayaan masyarakat tujuannya menciptakan kemandirian yang mencakup pengembangan sistem pertanian terpadu, pengembangan UKM, pelatihan kejuruan dan hutan tanaman rakyat.

Pelatihan kepada masyarakat dibina sejumlah pelatih di Yayasan Peduli Pemberdayaan Masyarakat. Di sana, juga disediakan penginapan bagi masyarakat mitra binaan. Setelah terampil dengan suatu bidang, RAPP juga memberikan bantuan dari sisi pemodalan, dan pemantauan hingga mitra binanya benar-benar mandiri.

M. Yamin Panca Setia





Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]