Friday, January 26, 2007

Klaim Mengklaim
Menjelang Muktamar

PADA 30 Januari hingga 3 Februari 2007 nanti, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akan menggelar Muktamar ke-VI. Sejumlah kandidat Ketua Umum partai berlambang Kabah terus gencar meraih dukungan. Mereka antara lain: Suryadarma Ali, Arif Mudatsir Manan, Eggi Sujana, Ali Marwan Hanan, Endin AJ Sofihara, Dimyati, Yunus Yosfiah dan Hadimulyo.

Sejak beberapa bulan yang lalu, masing-masing kandidat sudah ’turun gunung’ menyambangi grass root untuk menggalang dukungan. Ketua DPW PPP Jawa Timur Farid Al Fauzi mengaku, sejak enam bulan lalu sejumlah pengurus DPP yang berniat menduduki kursi Ketua Umum sudah mendekati PPP Jatim untuk meminta dukungan.

Dari lobi yang dimainkan, Arief Mudatsir Mandan dinyatakan sebagai satu-satunya kandidat yang diusung DPC PPP se-Jawa Timur. Nama Arief mencuat lewat pertemuan yang dihadiri 34 DPC se-Jawa Timur, di Surabaya (24/1).

Kepastian dukungan kepada Arief itu dilontarkan Ketua DPC PPP Banyuwangi, Muhammad Ikrom. Menurut dia, setelah pertemuan itu, tidak ada lagi dukung mendukung kepada kandidat lain.

Pernyataan serupa juga disampaikan Ketua DPC PPP Kabupaten Blitar, Anshori Baidhowi, Ketua DPC PPP Pasuruan, Agus, Ketua DPC PPP Nganjuk, KH Mustofa, Ketua DPC PPP Pacitan, Narto dan Maskuri Ismail dari DPC PPP Situbondo.

Klaim telah meraih dukungan juga dilontarkan kubu Suryadharma Ali. Ketua tim sukses Suryadharma Ali, Emron Pangkapi menyatakan, 82 dari 104 suara peserta Muktamar dari Jateng secara resmi akan mengalir ke Suryadharma.

27 DPC dari 35 DPC se-Jawa Tengah, mendukung Suryadharma. Bahkan, kubu Suryadharma mengklaim DPC se-Jatim juga mendukungnya. "Hampir 90 persen dukungan suara se-Jateng dan Jatim ke Surya Dharma Ali untuk memimpin PPP," katanya.

Suryadharma yang kini menjabat Menteri Koperasi dan UKM itu diperkirakan akan meraup dukungan 75 persen suara. Tak hanya itu, dukungan di bawah 50 persen akan diraih Suryadharma dari DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku dan Sumatera Barat, Lampung, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Bali.

Terkait dengan klaim mengklaim itu, Ali Marwan Hanan menanggapi datar. Menurut dia, semua dukungan dari DPC dan DPW yang diklaim Arief dan Suryadharma, belum pasti dan tidak mengikat. ”Kepastiannya kan saat pemilihan pada Muktamar nanti. Jadi, tidak bisa mengklaim telah secara resmi mendapatkan dukungan,” katanya kepada Jurnal Nasional kemarin. Menurut dia, tidak ada dukungan resmi, yang ada hanya konsolidasi dan komunikasi para kandidat ke daerah.

Ali tidak bersedia mengklaim dirinya telah mendapat dukungan dari sejumlah DPC dan DPW. Namun, katanya, upaya konsolidasi telah dilakukan selama dirinya menjadi pengurus DPP. Menurut dia, konsolidasi dengan DPC dan DPW tidak hanya dimaksimalkan saat menjelang Muktamar. Namun, harus dilakukan di setiap acara musyawarah cabang atau musyawarah daerah yang digelar PPP di sejumlah daerah.

”Konsolidasi berjalan biasa-biasa saja. Membangun komunikasi dengan berbagai cabang, dan wilayah, sudah terbangun dengan sendirinya dalam proses saya dalam melaksanakan tugas sebagai pengurus DPP. Jadi, bukan hanya semata-mata karena ingin kandidat yang baru saat Muktamar menjelang,” kata Menteri Koperasi dan UKM pada masa Presiden Megawati Soekarno Putri itu.

Meski tidak secara terang-terangan telah didukung sejumlah DPC dan DPW, Ali mengaku yakin bisa meraih suara dominan. Secara terpisah, Eggi Sudjana juga menilai seharusnya tidak boleh para kandidat saling klaim telah mendapat dukungan DPC dan DPW. ”Kalau hanya klaim, saya juga bisa,” katanya kemarin.

Menjelang Muktamar, politisi yang juga menyambi sebagai pengacara itu mengaku sudah melakukan konsolidasi di tingkat grass root, seperti Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sumatera Selatan, Lampung, Yogya, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. ”Jadi, kalau Arief menyatakan mendapat dukungan oleh DPC Se-Jatim, maka tidak ada itu, siapa yang mendukung,” kata Eggi.

Dia mengingatkan agar pengurus di daerah memilih Ketua Umum PPP sesuai dengan hati nurani dan akal sehat. ”Jadi, kalau mereka (DPC dan DPW, red) menggunakan nurani dan akal sehat dalam memilih Ketua Umum PPP, Insya Allah, mereka akan memilih saya.”

Secara frontal, Eggi menilai para kandidat Ketua Umum PPP merupakan pimpinan harian pusat (PHP), dari Wakil Ketua Umum hingga Sekjen DPP PPP, telah terbukti gagal dalam memajukan PPP.

”Di tangan mereka, PPP tidak lebih baik. PPP suaranya turun saat Pemilu 2004,” katanya. Lagi-lagi dia mengingatkan agar para kader di daerah menggunakan akal sehat dan nurani dalam memilih Ketua Umum PPP. Eggi mengaku yakin angka meraih dukungan minimal 400-500 suara dari total suara yaitu mencapai 1.170. ”Insya allah dapat meraih itu. Itu sudah menang.”

Lantas, bagaimana masa depan nantinya saat PPP dipegang oleh pemimpin baru? Ali mengatakan akan memposisikan PPP lebih efektif sebagai kekuatan politik dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan UUD 1945, agar bermanfaat kepada masyarakat masyarakat.

Sebagai partai politik, katanya, PPP harus mengoptimalkan pendidikan politik kepada masayrakat, merekrut hak politik, dan menyalurkan hak politik masyarakat sebagai warga negara agar dapat dipenuhi negara. Jika tidak menang, Ali berjanji akan legowo. Menurut dia, siapa pun yang menjadi Ketua Umum PPP, maka harus didukung.

Sementara Eggi, menekankan pentingnya perubahan internal partai, yaitu perombakan di tingkat kebijakan DPP agar lebih desentralistik, misalnya dalam penerbitan SK yang tidak lagi dikeluarkan DPP, tapi DPW untuk DPC.

Dia juga akan mengkondisikan PPP sebagai partai yang alam mengubah kebihjakan pemerintah yang tidak pro rakyat menjadi pro rakyat. Dia juga berambisi menggolkan kader PPP sebagai Presiden saat Pilpres digelar. ”Selama ini tidak nongol-nongol kandidat Presiden dari PPP,” katanya.

Sementara Suryadharma berjanji akan menjadikan PPP sebagai partai kuat yang menjadi pionir pemersatu gerakan politik Islam. Dia menegaskan, PPP bukan Yesterday Party.
Suryadharma berjanji akan membawa perubahan mendasar bagi PPP lewat pembenahan organisasi, dan meningkatkan respon partai dalam menyikapi sejumlah isu ekonomi, pendidikan, agama, hukum dan kebudayaan, yang berkembang di masyarakat.

Dia mengaku jika selama ini PPP hanya terfokus pada masalah politik praktis semata. Untuk mewujudkan hal itu, Suryadharma akan mereformasi kelembagaan seperti GPK, AMK dan GMPI.

PPP juga akan makin memberdayakan pendukung setia dan loyalis dari kalangan NU, Masyumi, dan ormas pendukung lainnya. Dia juga akan mempersatukan semua aliran yang selama ini mengalami fragmentasi.

M. Yamin Panca Setia

Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]