Saturday, January 27, 2007

Integrasi ASEAN saingi China

Jakarta|Jurnal Nasional

NEGARA-negara ASEAN harus meningkatkan konsolidasi guna mengintegrasikan semua potensi yang dimiliki sehingga dapat menjadi kekuatan regional sebagai penyeimbang kekuatan ekonomi China di pentas global saat ini. Tanpa kekuatan kolektif, negara-negara di kawasan Asia Tenggara dipastikan akan terus tersingkirkan.

Pakar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, mengatakan tanpa konsolidasi, sulit bagi masing-masing negara ASEAN mengimbangi kekuatan China dalam pertarungan global. ”Rasanya, sulit bagi negara ASEAN jika berjalan sendiri-sendiri. Dalam menghadapi kemajuan China, negara ASEAN harus solid dan sinergis,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, potensi yang dimiliki ASEAN dapat menjadi bargaining dalam menghadapi kekuatan China. Namun, sinergitas ekonomi dan kerjasama di segala sektor antarnegara ASEAN hingga saat ini masih sangat lemah. Dalam perebutan investasi luar negeri misalnya, antarnegara ASEAN masih sering berebut.

Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi sebelum telah menyerukan agar negara anggota ASEAN mempercepat pengintegrasian ekonomi untuk mengimbangi kemajuan pembangunan China yang melesat pesat. Konsolidasi dan integrasi ekonomi ASEAN dinilai strategis untuk kepentingan pembangunan regional, khususnya untuk kesejahteraan masyarakat ASEAN. Dalam konteks regional Asia, ASEAN mau tidak mau harus mengimbangi jejak China, India, Jepang, atau Korea Selatan yang terus bergerak maju.

Dalam konteks ekonomi regional, ASEAN sebenarnya telah memiliki Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA). ”Namun, keberadaannya lebih banyak digunakan oleh sejumlah perusahaan multinasional.” Pelaksanaan AFTA juga tersendat karena sejumlah negara ASEAN, seperti Indonesia, Thailand, Filipina, dan Malaysia, masih berkutat pada persoalan krisis ekonomi.

Hikmahanto menilai secara kolektif, ASEAN memiliki bargain yang besar dalam menghadapi China. Dalam konteks ekonomi, ASEAN adalah pasar potensial bagi China karena ditopang oleh penduduk yang totalnya mencapai setengah miliar jiwa. Selain itu, mencermati kemajuan ekonomi China, Hikmahanto menilai negara-negara ASEAN harus memanfaatkan kemajuan tersebut, tidak hanya memfokuskan kerjasama ekonomi dengan Amerika Serikat, atau sejumlah negara eropa.

Waspadai China

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Bidang Hubungan Internasional Yusron Ihza Mahendra mengatakan Indonesia dan negara ASEAN harus mewaspadai ambisi China yang ingin menjadi penguasa dunia.

Dalam kancah politik internasional, Yusron menilai Indonesia harus melakukan interaksi secara proporsional dengan China sehingga tidak menimbulkan interpretasi negatif dari Amerika Serikat atau sejumlah negara eropa yang tidak segaris dengan China. dia menilai ada rivalitas antara China dengan AS dalam politik internasional.”

Yusron juga mengingatkan agar Indonesia tidak terlalu percaya dengan segala tawaran berupa bantuan ekonomi dari China. ”Kerjasama ekonomi dengan China jangan menjadi boomerang bagi Indonesia. Saat ini saja kita sudah menjadi korban dibanjiri produk murah, tak berkualitas dari China,” ujarnya kemarin.

Namun, Ignatius Wibowo, Kepala Pusat Studi China Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, lebih menilai kebangkitan China tidak terlepas dari pendekatan soft power di kawasan Asia Timur dan di dunia tak bisa dielakan. Tak ada satupun negara yang dapat menghentikan kebangkitan China. Hingga akhir tahun 1990-an, perkembangan ekonomi China sangat cepat, dengan tingkat produksi yang begitu tinggi.

Sejak awal abad ke 21, China menampilkan diplomasi yang mempesona dengan negara lain, tanpa terkecuali dengan negara di kawasan Asia Tenggara. China juga akan dengan bangga dengan kekayaan budaya yang dimiliki kini, mengharap bahwa budaya tersebut akan membantu mendorong image baiknya.

Dia menilai sebagaimana trend dunia internasional, tidak bisa tidak, sejumlah negara harus melirik China, sebagai mitra dagang, politik ataupun sebagai teman yang bisa diminta bantuannya. Kecenderungan sejumlah negara mendekati China karena China terbuka terhadap negara lain. Sementara bagi negara lain, kemajuan ekonomi dan kekuatan politik yang dimiliki China dapat menjadi alat untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

M. Yamin Panca Setia


Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]