Sunday, January 28, 2007
Degradasi Nasionalisme Pemuda Ancam NKRI
Jakarta|Jurnal Nasional
SEJUMLAH aktivis pemuda menilai prinsip nasionalisme dalam diri pemuda
Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam
Kondisi semakin parah lantaran masih kurang maksimalnya distribusi keadilan pembangunan yang dilakukan pemerintah sehingga semakin menumbukan semangat etnonasionalisme yang jika dibiarkan akan mengancam eksistensi NKRI.
Hery mengaku sering kali di setiap forum pertemuan pemuda se-Indonesia, terdengar pernyataan dari sejumlah pemuda di daerah yang mengedepan kepentingan etnonasionalisme.
“Waktu di Manado, ada yang menyatakan sebagai bangsa
Dengan demikian, dia mendesak agar pemerintah memaksimalkan percepatan pembangunan di setiap daerah. Jika tidak, etnonasionalisme akan semakin parah.
Eddy Setiawan, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Buddhis
Kegagalan dalam meredifinisi nilai-nilai nasionalisme telah menyebabkan hingga kini belum lahir sosok pemuda
Eddy menilai runtuhnya nasionalisme tidak terlepas dari ekspansi tanpa henti dari pengaruh globalisasi. Saat ini, pemuda Indonesia seperti kehilangan akar yang kuat sebagai bagian dari elemen bangsa. ”Westrenisasi terus menggerus nasionalisme, pemuda lebih enjoy clubbing sebagai salah satu budaya hedonis daripada diskusi tentang nasionalisme.”
Menurut dia, prilaku ala kebarat-baratan itu sudah semakin parah menjangkiti pemuda di kota. Tergerusnya akar tradisi sebagai bangsa Indonesia akibat ekspansi globalisasi bisa menjadi ancaman besar bagi eksistensi NKRI. ”Ini bisa menjadi ancaman bagi NKRI, karena saya melihat kedaulatan bangsa ini telah tergadaikan.
Presidium Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Wayan Sudane mengaku pesimis langkah dalam mengantisipasi besarnya pengaruh nilai-nilai dari luar yang terus mengerus prinsip nasionalisme dalam diri pemuda. Menurut dia, pengaruh itu tidak lagi dapat dihindari karena pesatnya kemajuan teknologi informasi. Apalagi, perilaku kebarat-baratan juga sudah mengakar dalam diri sebagian besar masyarakat kota di Indonesia.
Redefinisi Nasionalisme
Melihat persoalan tersebut, Hery menilai perlu adanya redifinisi atas pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia. Tantangan pemuda saat ini berbeda dengan era tahun 1928 atau 1945.
Jika dulu nasionalisme pemuda diarahkan untuk melawan penjajahan, kini sudah nasionalisme diposisikan secara proporsional dalam menyikapi kepentingan pasar yang diusung kepentingan global, dan nasionalisme yang diusung untuk kepentingan negara.
”Kita harus mencermati kondisi kekinian, kita tidak boleh antipati dengan pasar. Namun kita tetap nasionalis demi kepentingan bangsa.” Dia juga menyarankan agar forum pertemuan pemuda yang bersifat kebangsaan agar terus dimaksimalkan.
Menurut dia, forum kebangsaan yang dihadiri sejumlah elemen mahasiswa dan pemuda sering kali digelar. Salah satu agenda yang tak hent-hentinya dibahas adalah membahas persoalan degradasi nasionalisme dalam diri pemuda.
Hery memandang, nasionalisme kebangsaan tidak terlepas dari situasi global. Dia menyerukan agar pemuda Indonesia mencermati secara kritis realitas kepentingan global terhadap Indonesia. Dia juga menghimbau agar pemerintah pusat dapat mempercepat distribusi pembangunan di semua daerah agar tidak tumbuh semangat etnonasionalisme dalam diri pemuda.
Meski demikian, Wayan memandang rekomendasi dari setiap forum pertemuan sulit sekali diimplementasikan. Pasalnya, nilai dan perilaku ala barat sudah memasyarakat, dan berbaur dengan segala kepentingan. Langkah antisipasi terhadap dampak negatif arus global lewat teknologi informasi sangat sulit dikendalikan.
Sementara Eddy lebih memandang degradasi nasionalisme dapat dijawab lewat pengembangan kebudayaan dari pelbagai etnis dan suku sebagai landasan dalam memodernisasikan ala Indonesia.
Dia juga menghimbau kepada pemuda di semua daerah agar tidak mengedepankan kepentingan yang bersifat kedaerahan. Menurut Eddy, kesejahteraan dapat direbut secara bersama-sama. ”Itu ada tugas dan tanggungjawab kita, kesejahteraan dan keadilan dapat kita perjuangkan secara bersama-sama.”
Memang, nasionalisme nasional telah berubah menjadi nasionalisme regional. Indikatornya adalah muncul berbagai konflik sosial dan politik, baik dalam bentuk konflik vertikal maupun konflik horizontal di beberapa daerah. Realitas tersebut membuktikan telah terjadi penurunan nilai nasionalisme di tingkat lokal, meskipun hanya dikumandangkan oleh sebagian kecil masyarakat.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]