Saturday, January 27, 2007

BKPRS, aliansi taktis raih investasi


PEJABAT level atas dari enam provinsi se-Sulawesi 'turun gunung' ke Jakarta untuk mempromosikan potensi daerahnya.

Promosi yang difasilitasi Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) itu dibingkai dalam seminar Sejuta Potensi dan Peluang Bisnis di Sulewesi.

Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo yang memandu seminar medio bulan lalu itu, mengatakan forum tersebut ditujukan untuk meyakinkan investor menggarap proyek skala besar di Sulawesi.

Dia mengatakan investasi di Sulawesi baru 9,5% dari total investasi nasional. Padahal, Sulawesi kaya akan sumber daya alam, mineral, pariwisata, sumber daya manusia, dan sebagainya. Kekayaan itu harus dikelola guna kesejahteraan rakyat Sulawesi.

Menurut Fadel, pada tahap perencanaan awal, dana investasi akan difokuskan untuk membangun infrastruktur pertanian. "Dana untuk membangun infrastruktur pertanian [tahap awal] sekitar Rp5,5 triliun."

Itu baru satu sektor. Belum lagi kebutuhan dana untuk pengelolaan sektor lainnya. Harapan serupa diutarakan Oentarto Sindung Mawardi, Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar).

Provinsi yang belum setahun terbentuk itu perlu suntikan dana untuk mengelola kekayaan tambang seperti batu bara, minyak, gas, bijih besi, emas, zeolit, granit, pasir kuarsa, marmer, dan kaolin.

Berdasarkan riset yang dilakukan pemda setempat, terdapat cadangan batu bara 232,14 juta ton di Mamuju. Untuk mengeksplorasinya, butuh Rp500 miliar.

Di Palumpang, Mamuju, ditemukan emas dengan kadar 28,5 dan 56,61 part per millions. Lalu cadangan granit di Poleweli Mandar, 14,759 miliar ton, serta cadangan garmer di Budong 500.000 ton. Potensi kaolin ada di Wonomulya, Polewali Mandar, dengan cadangan 570.937 ton.

Setelah Oentarto, giliran Sinyo H. Sarundajang, Gubernur Provinsi Sulawesi Utara melakukan presentasi.

"Sulut adalah tempat yang tepat ditandangi untuk menikmati pesona wisata alam dan budayanya," kata Gubernur Sulut.

Di Kota Manado, sejumlah objek wisata yang unik, spesifik, dan atraktif dapat dinikmati. Pantai Malalayang dan Bolevard di Manado misalnya, tak kalah elok dengan Pantai Kuta di Bali atau Senggigi di Lombok.

Pantai itu menjadi objek wisata andalan karena letaknya yang strategis di pusat kota. Di sekitar pantai dibangun sejumlah kafe yang menawarkan berbagai macam hidangan. Tatkala sore menjelang, kemilau sunset begitu indah dipandang.

Sarundajang mengatakan Pemprov Sulut akan meningkatkan pelayanan publik, serta menciptakan good governance yang meliputi profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas aparat pemerintah. "Kami sudah melakukan terobosan dengan memberi layanan satu pintu."

Bahkan, Pemprov Sulut berjanji bertindak tegas terhadap oknum aparat yang terlambat memberikan izin investasi. "Jadi, bukan sebatas pungli atau KKN, keterlambatan mengurus izin buat para investor akan diproses secara hukum," Sarundajang meyakinkan.

Kebijakan itu, lanjutnya, sudah dilaksanakan di beberapa kabupaten dan kota di Sulut. Fadel tak mau ketinggalan berpromosi. Menurut dia, Gorontalo adalah tempat strategis bagi pengembangan sektor agroindustri dan agribisnis. Untuk agroindustri, Gorontalo tengah gencar mengembangkan nata de coco, minyak kelapa, bubuk santan, serta minyak jagung.

Di sektor perikanan kelautan, provinsi bekas Sulut itu mampu menghasilkan 82.200 ton ikan per tahun dengan tingkat produksi hanya 22.355 ton.

Gorontalo juga mengembangkan budi daya laut seperti rumput laut, kerang mutiara, teripang, ikan kerapu, dan sebagainya. Kuantititas produksinya 57.400 ton per tahun dengan pemanfaatan yang hanya 2%.

Di bidang pertambangan, Gorontalo punya kandungan emas, perak, tembaga, batu gamping, toseki, granit, zeolit, kaolin, dan sebagainya. "Jika dieksplorasi, kemakmuran rakyat Gorontalo meningkat."

Mengarah ke Kapet

Sementara itu Gubernur Sulawesi Selatan, M. Amin Syam, seperti tertuang dalam makalahnya, mengemukakan daerahnya bermaksud menggenjot peran kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) yang letaknya di Kota Parepare.

Tempat itu menjadi pilihan karena memiliki potensi sumber daya alamnya melimpah. Parepare kaya akan padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, serta kedelai.

Untuk palawija dan sayur mayur, kuantitas produksinya mencapai 175.00 ton setiap musim.

Untuk produksi kakao, Parapere mampu menghasilkan 0,95 ton per ha. Luas lahan untuk kakao 7.343,50 ha.

Parapere juga mengembangkan sektor peternakan dan perikanan dengan skala yang amat besar, di samping juga menggenjot budi daya udang dengan areal tambak 15.144 ha yang mampu memproduksi 7.173 to per tahun. Tak hanya itu, Parapere menyimpan tambang a.l. marmer, batu bara, emas, kromit dan pasir kuarsa.

Kepada investor, Pemprov Sulsel memberi insentif fiskal, memperoleh perizinan dengan prosedur yang tak berbelit, memberi jaminan keamanan, kepastian hukum, dan ketersediaan infrastruktur.

Sementara itu, Sulawesi Tengah mengandalkan produk unggulan dari sektor pertanian (jeruk, mangga, markisa, bawang merah, padi, jagung, kedele, kacang tanah), serta perkebunan (kakao, jambu mente, panili, kemiri).

Di sektor kelautan dan perikanan, sumber daya ikan Sulteng mencapai 214.108 ton per tahun. Pemanfaatannya baru 92.350 ton per tahun.

Belum lagi cadangan granit dan marmer. Sulteng memiliki bahan galian strategis seperti minyak dan gas di Binggai, serta Morowali dan Poso. Ditemukan pula energi panas bumi di Banggai.

Sedangkan Sulawesi Tenggara [Sultra] terkenal dengan aspal Buton yang cadangannya 650 juta ton, dengan kadar aspal 10%-40%.

Marmer menyebar di Moramo, Wolo, serta Lasusua. Sultra juga punya cadangan nikel 69.414 ha.

Di sektor perkebunan, Sultra mengandalkan kelapa sawit, kakao, serta tanaman pangan a.l. padi, kedelai, serta jagung. Sultra juga mampu memproduksi 500.000 ton per tahun di bidang perikanan.

Bentuk aliansi

Potensi peluang bisnis di Sulawesi diakui Arifin Indra, Dirut Bank Ekspor Indonesia. Menurut dia, berdasarkan studi yang dilakukan United Industrial Development Organization (Unido), untuk pertanian saja, pendapatan Sulawesi mencapai US$1,5 miliar per tahun.

Padahal, hasil sektor pertanian Indonesia hanya sekitar US$2,6 miliar per tahun. Belum lagi jika pemprov se-Sulawesi menggarap maksimal sektor lainnya seperti pariwisata, sumberdaya alam, dan sebagainya.

"Karena itu, Bank Ekspor sepakat untuk mengucurkan dana ke Sulewesi," kata Arifin. Bahkan, Bank Ekspor Indonesia juga berencana membuka kantor pemasaran di Makassar pada 2006.

Fadel selaku Ketua BKPRS mengatakan gubernur se-Sulawesi sepakat bekerjasama menggalang aliansi regional sebagai langkah strategis meraih investasi sebagai modal mengelola potensi Sulawesi.

BKPRS punya mimpi menggantikan peran Jawa sebagai pusat ekonomi nasional. Menurut Fadel, menjadi komitmen bersama untuk memosisikan Sulawesi sebagai kawasan ekonomi prospektif di kawasan timur Indonesia. Sulawesi juga akan menggantikan peran Jawa untuk industri berbasis pada agro, perikanan, dan maritim.

Impian BKPRS realisitis, karena Sulawesi memiliki potensi kekayaan alam dan daya saing yang di atas rata-rata nasional.

Tinggal bagaimana mengemas konsep strategis untuk bekerjasama dengan para investor guna mengelola potensi yang ada.

Dalam hal ini, dibentuknya BKPRS salah satunya untuk mengakomodasi kepentingan pengusaha, seperti penyediaan infrastruktur, akses pasar, dan akses ke sentra produksi.

Menurut Fadel, dalam visi regional hingga 2010, BKPRS akan diarahkan untuk pembangunan sektor agrobisnis, agroindustri, dan sektor lainnya yang prospektif.

Selain itu, gubernur se-Sulawesi sepakat melakukan penataan ruang guna mendorong pembangunan regional yang merata, pemberdayaan potensi, serta pemanfaatan sumberdaya bersama.

Masing-masing daerah di Sulawesi juga harus mampu meningkatkan keunggulannya menjadi keunggulan regional. Bila perlu, menjadi perekat perekonomian kawasan timur dan barat Indonesia sebagai pilar ketahanan ekonomi nasional dalam tatanan ekonomi global.

Dalam menciptakan keunggulan daya saing, pemprov se-Sulawesi menggunakan pendekatan the resource based view, di mana sumber-sumber ekonomi yang dimiliki setiap daerah harus dikelola maksimal sehingga menjadi komoditas unggulan yang diarahkan untuk meningkatkan nilai jual.

Menurut Fadel, kapasitas daerah yang berbeda-beda harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.

"Gorontalo misalnya, dikenal dengan jagung dan ikan, tentu perlu memfokuskan pada usahanya dalam mengembangkan infrastruktur kedua komoditas tersebut. Berbeda dengan Sulsel, yang harus memfokuskan pada pengembangan infrastruktur untuk memunculkan cluster industri kakao, sedangkan Sulteng dengan mete-nya," ujar Fadel.

Langkah taktis gubernur se-Sulawesi sepatutnya memperoleh respons positif dari investor.

M. Yamin Panca Setia


Comments: Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]





<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]