Friday, January 26, 2007

Balai Budidaya Laut Propinsi Lampung
Laboratorium Hidup Biota Laut
SUDJIHARNO agak sulit memperkirakan berapa banyak jumlah biota laut di
Menurutnya, luas laut Indonesia yang mencapai sekitar 5,8 juta km2, menyimpan kekayaan yang tiada tara. Dari hasil tangkapan ikan saja, mencapai Rp. 18,46 triliun. Sedangkan untuk budidaya laut seperti jenis ikan, rumput laut, kerang-kerang-an, tiram, teripang, mutiara mencapai produksi sekitar Rp1,36 triliun. Diperkirakan terdapat 35.000 spesies biota laut yang memiliki potensi, mulai dari kebutuhan konsumsi hingga bahan utama obat obat-obat-an.
Sayang, semua potensi tersebut belum diberdayakan secara maksimal. Baru 5.000 spesies yang baru diberdayakan. Meski demikian, Sudjiharno menyangkan jika pengelolaan biota laut selama ini tidak mempertimbangkan keberlangsungan hidup biota laut. Menurutnya, tanpa budidaya, bukan tidak mustahil kekayaan biota laut tersebut akan habis. Ia menyayangkan jika selama ini, kekayaan biota laut hanya bisa dikeruk, tanpa diimbangi upaya mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
Makanya, upaya budidaya biota laut harus terus dikembangkan. Menurutnya, kekayaan biota laut merupakan sumber daya yang dapat dibudidayakan sehingga dapat terjaga keberlangsungan hidup habitatnya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Untuk mengantisipasi menyusutnya habitat biota laut, Sudjiharno menjelaskan BBL adalah laboratorium penelitian untuk menemukan teknik dan inovasi dalam bidang budidaya biota laut. “Kita selalu mengadakan riset terus bergelut menciptakan inovasi dalam bidang budidaya kelautan,” terangnya.
BBL yang terletak di Desa Hanura Padang Cermin, Lampung Selatan merupakan pusat budidaya laut di Indonesia . Di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, BBL kerap menjadi tempat pendidikan bagi propinsi lain di Indonesia yang tertarik mengembangkan budidaya laut. Beberapa daerah yang menjadi asuhan BBL seperti Aceh, Batam, Ambon , NTB, Kaltim, Riau. Bahkan Jepang , Korea dan China , banyak belajar tentang budidaya laut dari BBL.
Kata Sudjiharno, beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan BBL sejak tahun 1983, seperti: teknik budidaya ikan kerapu, ikan napoleoin, ikan kakap, mutiara, kuda laut, rumput laut, tripang dan sebagainya.
Budidaya ikan yang paling berhasil dikembangkan BBL adalah jenis ikan kerapu (Epinephelus spp). Ada dua jenis kerapu yang dibudidaya yaitu Kerapu Bebek (Croileptes altivelis) dan Kerapu Macan (Ephinephelus fuscoguttatus). Kerapu Bebek mempunyai warna abu-abu dengan bintik hitam disekujur tubuhnya.
Di perairan laut Lampung, kerapu bebek masih banyak ditemukan. Kerapu bebek juga dapat ditemukan di perairan laut Kepulauan Seribu, Riau, Bangka , “Kerapu Bebek tumbuh dan berkembang di perairan laut yang masih banyak terumbu karangnya,” jelas Sudjiharno.
Sedangkan habitat Kerapu Macan dapat ditemukan di perairan Kepulauan Karimanjawa, Kepulauan Seribu, Lampung Selatan dan Kepulauan Riau, Bangka Selatan, dan perairan terumbu karang. Cirinya, berwarna merah kecoklatan dan mempunyai titik kebiruan serta agak gelap pada sekujur tumbuhnya.
Menurut Mutasimin, pembudidaya BBL, untuk memanen kerapu macan membutuhkan waktu tujuh bulan hingga setahun. Sedangkan kerapu bebek antara sembilan bulan sampai satu tahun. Untuk ukuran konsumsi, berat kerapu bisa mencapai berat 500 gram, 3 sampai 5 ons.
Keuntungan budidaya kerapu amat “wah”. Sudjiharno menjelaskan, harga jual masing-masing kerapu bisa mencapai Rp80 ribu perkilonya. Di pasaran luar negeri, kerapu dihargai US$38 per kilogram (kg) untuk kerapu bebek dan US$8/kg untuk kerapu macan.
Perkembangan budidaya kerapu sangatlah pesat. Di desa Tanjung Putus, Padang Cermin misalnya, budidaya kerapu telah dikembangkan oleh masyarakat sekitar. Bangun Sitepu, warga Desa Tanjung Putus Padang Cermin adalah salah satu pembudidaya yang berhasil. Bangun tertarik mengembangkan budidaya kerapu karena mempunyai akses untuk menjual panen kerapu ke China .
Bangun juga dibantu memasarkan hasil panen kerapu ke pedagang pengumpul yang datang secara jika panen tiba dengan membawa kapal sendiri, lengkap dengan alat pendingin berkapasitas besar. Jumlah yang berhasil dijual mencapai enam ton.
Kerapu memang menjadi incaran beberapa negara seperti China , Korea , Jepang , Taiwan , Hongkong, Malayasia dan Amerika. Tak sedikit restoran, baik dalam maupun luar negeri yang menjadi kerapu sebagai “sea food”, menu utamanya. Selain konsumsi, ikan kerapu yang berukuran 2 – 8 cm juga dimanfaatkan sebagai ikan hias (ornamental fish). “Namun, budidaya kerapu untuk ikan hias belum maksimal dikembangkan,” jelas Mutasimin.
Dalam proses budidayanya, kerapu macan punya kemampuan bertahan hidup dibandingkan kerapu bebek. 80 persen dari seluruh benih yang ditebar akan akan tumbuh besar hingga panen. Sedangkan kerapu bebek hanya 20 persen dari seluruh benih yang ditebar dapat bertahan hidup. “Kerapu bebek rawan penyakit pada masa pembenihan,” terang Mutasimin. Untuk menghindari kematian, pengaturan pakan, oksigen dan kualitas air harus diatur sesuai masa pertumbuhan kerapu.
Untuk masalah pakan kerapu, BBL juga berhasil menemukan pakan buatan. “Namanya pakan pellet buatan,” terang Maya Meiyana, peneliti pakan Kerapu. Dengan ditemukan pellet tersebut, ketersedian pakan terjamin dan mudah menyesuaikan natrusi. Kini, pakan pellet sudah dikomersialisasikan sehingga dapat digunakan bagi budidaya kerapu masyarakat.
Pakan buatan tersebut, dibuat dengan menggunakan vitamin C, multivitamin, minyak cumi dan ikan rucah. Sebelum ditemukannya pellet, pakan kerapu tergantung pada ketersediaan pakan ikan rucah yang amat tergantung dengan cuaca. I kan rucah juga cepat busuk dan mengandung penyakit. Akibatnya, pertumbuhan kerapu tidak maksimal.
Selain itu, budidaya kerapu juga tergantung telur, nafsu makan dan kondisi alam. Untuk menilai kualitas atau tidaknya hasil panen, terang Mutasimin, dapat dilihat dari ukuran dan berat kerapu. Tiap panen banyak ditemukan perbedaan. Faktor genetic, pakan, nafsu makan, penyakit dan kualitas air juga berpengaruh pada pertumbuhan kerapu.
BBL Lampung mengaku masih dihadapi masalah pengadaan induk. Selama ini keberadaan induk semakin kurang. Menurut Sudjiharno, salah satu penyebabnya karena proyek reklamasi pantai yang merusak terumbu karang. “Reklamasi pantai berimbas semakin hilangnya induk di Laut,” sesalnya.
Sudjiharno menyayangkan jika proyek reklamasi pantai terus berjalan. Proyek tersebut dapat mengancam terumbu karang yang merupakan tempat habitatnya Ikan Kerapu. Karena keberadaan induk semakin langka, BLL harus membudidayakan induk yang merupakan sumber penghasil benih.
BBL juga berhasil mengembangkan teknik peminjahan kerapu. Dari penelitian yang dilakukan BBL, peminjahan kerapu yang baik harus dalam kurungan apung berukuran 27 m3. Padat penebaran induk 7,5 – 10kg/m3. Pakan yang diberikan adalah ikan rucah segar atau pellet yang berkadar lemak rendah, mencapai tataran 3 –5 persen dari total berat badan ikan dalam sehari. Kemudian diberikan vitamin E sebanyak 1 – 2 mg untuk satu ekor induk dalam sehari.
Selain jenis Kerapu, BBL juga membudidaya ikan jenis Napoleon (Cheilinus undulatus). Ikan yang ukurannya bisa mencapai 50 cm dengan berat 10 sampai 15 kg tersebut harus dibudidaya karena semakin langka, “Harganya mencapai Rp700 ribu perekor,” papar Mutasimin. Karena harganya mahal, Napoleon terus diburu dan menjadi incaran kebutuhan konsumsi beberapa negara seperti Australia, Cina, Malysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Thailand, Vietnam dan Hongkong.
Di Hongkong, Napoleon menjadi menu utama yang biasa disebut sio may. Ramai dihidangkan pada saat pesta ulang tahun kelahiran atau perkawinan. Dagingnya sangat lezat dan bergizi tinggi. Bahkan, memakan Napoleon menjadi simbol penonjolan status sosial seseorang. Menu ikan, yang di Hongkong disebut sio moy.
Sudjiharno mengaku, kegiatan budi daya napoleon sangat kurang. Akibatnya, keberadaan benih ikan Napoleon sangat terbatas. Berkurangnya habitat napoleon karena rusaknya terumbu karang akibat penangkapannya yang menggunakan peledak. Ikan tersebut hanya ditemui di daerah perairan yang masih rimbun terumbu karangnya, seperti di perairan Sabang, Natuna, Sulewesi Tenggara, Kepulauan Aru, dan Ambon.
“Napoleon yang sedang kami budidaya berasal dari Sabang,” jelasnya. Karena semakin langka, upaya budidaya harus dilakukan, karena 12 dari 58 spesies ikan napoleon yang ada di dunia terdapat di Indonesia.
Dalam pembudidayaan Napoleon, BLL berhasil menemukan teknik pemijahan dengan memanipulasi pada kolam yang terkendali. “Ditujukan untuk mengetahui daya tahan napoleon, musim pemijahan dan tingkat pembuahan telurnya,” jelas Sutarmin.
Musim pemijahan, lanjut Sutarmin, dilakukan pada pukul 24.00 – 04.00 WIB. Pakan yang diberikan adalah cumi – cumi dan ikan rucah segar serta penambahan vitamin E 20 IU perkilo dan multivitamin 100 mg perkilo untuk seekor induk. BBL juga berhasil mengetahui tingkat pembuahan telur Napoleon yang berkisar antara 16,74 – 59,46 persen dengan diamater 609 – 665 mikron, panjang larva 1848 – 2073 mikron.
Selain itu, BBL juga telah mengembangkan budidaya ikan kakap putih (Lates calcalifer). Budidaya ikan berjenis karnivora tersebut dapat terus berkembang karena mempunyai nilai ekonomis tinggi serta tingginya permintaan pasar, baik dalam maupun luar negeri. Ikan tersebut juga mengandung gizi dan rasa yang khas. Menurut Sudjiharno, prospek budidaya kakap putih sangat cerah,
Dalam upaya pembudidayaannya, kakap putih tidak begitu rewel. Walau habitatnya berasal dari air payau, namun kakap putih juga juga dapat berkembang di perairan laut. Selain itu, ikan kakap merah (Pagrus major) atau red sea bream juga dibudidaya. Bagi masyarakat Jepang, kakap merah merupakan simbol keberuntungan. BBL mengembang budidaya benih.
BBL juga berhasil mengembangkan teknik budidaya luat jenis Tripang (Holothuria scabra). Teripang mempunyai ciri tubuh yang memanjang seperti ketimun, berotot, dapat tebal dan tipis, lembek, licin, dan berkulit halus berbintik. Panjang tubuhnya mencapai 40 cm.
Selain sebagai bahan makanan, tripang juga digunakan sebagai bahan
Di tahun 1998, sebanyak 3.804,1 ton dengan nilai US $ 8.266.700 teripang diekspor ke luar negeri, dalam daging kering (beche-de-mer), usus asin (konowata) dan gonad kering (konoko). Tingginya tingkat ekspor tersebut karena habitat teripang dapat berkembang maksimal di perairan laut Indonesia .
Dari sekitar 650 jenis teripang yang ada didunia, 10% berada di Indonesia dan dari jumlah tersebut dipastikan ada 7 jenis yang tergolong mempunyai nilai jual tinggi yakni teripang pasir (Holothuroidea Scabra), teripang hitam (Holothuroidea Edulis), teripang coklat (Holothuroidea Marmoreta), teripang merah (Holothuroidea Vatiensis), Teripang koro (Holothuroidea Nobilis), teripang nanas (Thelonota Anana), dan teripang gama (Stichopus Varigatus).
Menurut Emy Rusyani, peneliti Teripang BBL, tripang mempunyai khasiat medis. Tubuh dan kulitnya banyak mengandung nutrisi dan asam mukopolisakarida yang bermanfaat menyembuhkan penyakit ginjal, anemia, diabetes, paru-paru basah, anti tumor, anti inflamasi, mencegah penuaan pada jaringan tubuh, dan mencegah antiseriosklerosis.
Setiap 110 gram berat kering teripang pasir mengandung protein 118 mg, fosfor 22 mg, besi 1,4 mg dan yodium 0,6 mg. Usus teripang mengandung protein 8,84 persen, lemak 2,64 persen, dan abu 15,99 persen. Emy menambahkan, habitat teripang dapat dijumpai di perairan laut Madura, Bali, Lombok, Palembang, Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Bangka, Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Ambon, Ternate, Maluku, dan Kepulauan Seribu. Hewan invertebrata tersebut banyak dijumpai diperairan karang berpasir halus, yang terdapat di laut dangkal maupun laut dalam di perairan tropis.
Karena khasiat tersebut, teripang yang biasa disebut ketimun laut, sudah menjadi kebutuhan hidup masyarakat luas, khususnya yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Teknik pengelolaannya masih sederhana, seperti perebusan dan pengasapan. Untuk pengawetan, masyarakat umumnya menggunakan tenaga matahari untuk menjemur teripang. Sayangnya menurut Sudjiharno, penangkapan teripang yang dilakukan secara terus menerus tanpa diimbangi oleh budidaya menyebabkan habitatnya semakin berkurang. “Di beberapa kawasan pantai, sudah jarang ditemukan teripang,” terangnya.
Karena habitatnya menyusut, BBL kemudian mengembangkan budidaya teripang. Menurut Sudjiharno, benih teripang tak harus diambil dari laut, namun dapat dibudidaya. Di BBL, benih teripang tersedia secara terus menerus, berkualitas, tidak tergantung dengan musim sehingga dapat diproduksi secara massal. Namun, pembenihan yang sudah dirintis sejak tahun 1982 tersebut, masih dalam skala kecil. Produksi massal teripang baru sekali dilakukan pada tahun 2001. Kendalanya pada pemeliharaan benih. Meski demikian, penelitian untuk menemukan teknik rekayasa benih teripang terus dilakukan. Sudjiharno berharap agar, BBL nantinya dapat menjadi bank benih teripang.
Untuk masalah pakan, Teripang biasanya memakan makanan plankton, bahan organik di karang, pasir, kerang, lumpur, coral dan beberapa tumbuhan laut. Sedangkan dalam penentuan lokasi pembenihan, harus jauh dari pabrik berlimbah, dekat sungai dan terjamin salinitasnya, yaitu 29 – 35 persen. Salinitas air sangat berpengaruh pada kesehatan organ osmoregulator teripang. Selain itu, air lokasi budidaya teripang juga harus mengandung derajat keasaman (pH), oksigen dan tingkat kecerahan air.
Selain di perairan laut, lokasi pembenihan juga dilakukan di kolam buatan yang menggunakan jaring tancap. Ukuran jaring tancap harus disesuai dengan jumlah induk. Pembenihan yang dilakukan di kolam harus steril. Untuk menjamin strerill, maka harus dilakukan pengeringan, penjemuran, dan penggunaan kimia (kaporit, iodine, formalin). Tahap berikutnya adalah penebaran telur dan larva.
Telur yang akan ditebar harus dicuci hingga terbebas dari sperma yang akan berpengaruh pada kualitas air. Penebaran juga dapat dilakukan dengan cara menetaskan telur terlebih dahulu. Cara tersebut dapat menghindari rusaknya air serta menghindari muncul jamur di dinding kolam.
Untuk jenis ikan hias, BBL juga sudah mengembangkan budidaya Kuda Laut (Hippocampus). Produksi budidaya kuda laut, sudah mampu menembus pasaran luar negeri seperti Singapura, Hongkong , Taiwan , Amerika Serikat, dan beberapa negara eropa. Kuda laut dijual dalam kondisi hidup atau mati.
Dalam kondisi hidup, kuda laut biasanya digunakan untuk ikan hias. Hewan tersebut sangat unik, bentuk kepalanya menyerupai kuda. Posisi badanya agak tegak saat berenang dan mempunyai kemampuan menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungan sehingga layak dibudidaya untuk penghias akuarium.
Sedangkan dalam kondisi mati, kuda laut biasa dijual dalam bentuk kering yang dijadikan sebagai bahan ramuan tradisional obat kuat laki – laki dan beberapa jenis penyakit tertentu. Kuda laut terkenal ampuh mengobati impotensi dan tak memiliki efek samping. Ramuan obat kuat dari kuda laut terkenal dengan sebutan tangkur kuda.
Khasiat tersebut mampu menyedot perhatian kaum adam untuk membeli. Berbagai usaha peracik obat kuat pun menjamur. Pasar tangkur kuda juga cukup besar. Bayangkan, pasar Hongkong saja setiap tahunnya menyerap setidaknya 12,3 metrik ton kuda laut; sementara pasar Cina dan tradisional kita membutuhkan sekitar 2 metrik ton per tahun.
Harga di pasaran relatif murah. Kuda laut yang direndam di dalam minyak khusus, bubuk kering, sampai kapsul, harganya bervariasi. Haema kering harganya Rp 10.000 per ekor dan yang dikemas dalam kapsul Rp 15.000 per pak (20 butir). Selain itu, kuda laut juga berkhasiat memperlancar peredaran darah, mencegah asma dan kanker.
Kandungan khasiatnya tersebut menyebabkan habitat kuda laut semakin terancam. Tingginya permintaan pasar, mengakibatkan penangkapan yang dilakukan telah menggunakan cara pembiusan, “Dari sisi ekologis cara tersebut dapat membahaya, bukan hanya untuk kuda laut, tapi organisme laut lainnya,” jelas Mutasimin.
Karena itu, BBL terus mengembangkan budidaya benih, “Benih kuda luat masih dirasakan kurang dikembangkan,” kata Sudjiharjo. Untuk mengantisipasi kepunahan kuda laut, BBL melakukan rekayasa teknik pembenihan. Namun, hingga saat ini benih masih diambil dari laut. “Makanya, kita akan terus melakukan budidaya,” jawab Sudjiharjo.
Dalam penentuan induk yang berkualitas, dilihat dari umur yaitu sekitar delapan bulan dan tubuhnya harus sehat. Ini bisa dilihat dari gerakannya yang lincah dan tubuhnya yang mulus, tak ada bercak abu-abunya. Induk jantan sebaiknya berukuran 10 cm dengan berat 6 gram per ekor.
Sementara indukan betina panjangnya 12 cm dengan berat 6,4 gram per ekor. Harga indukan ini antara Rp 5000 - Rp 7.500 per ekor. Setelah itu, induk harus dimasukkan ke kolam yang airnya jernih. Dalam penentuan lokasi, Sudjiharjo menerangkan bahwa kolam kuda luat harus bersuhu sekitar 30 – 32 celecius. Lokasinya juga harus terhindar dari tinggi cahaya matahari, karena memungkinkan tumbuhnya lumut yang mempengerui daya tahan hidup kuda laut. “Karena itu, kuda laut harus disatukan dengan ikan bandeng yang akan memakan lumut,” kata Sudjiharjo. Untuk masalah Pakan, kuda laut makan sebanyak 2 –3 kali sehari, yaitu pagi, siang dan sore. Menu utamanya udang rebon dan udang jambret.
BLL menyediakan beberapa bak bentuk piramid dari bambu, sebagai tempat berkembang biak induk. Kuda luat tidak mengenal musim kawin. Setiap pasang kuda laut yang bersifat monogami akan menghasilkan 200-300 butir telur. Dalam kondisi tersebut, induk harus dijauhkan dari situasi stress agar pertumbuhan benih tidak prematur. Namun, setelah betina bertelur, yang bertugas mengerami telur adalah kuda laut berjenis kelamin jantan. Proses pengeraman berlangsung selama 10 – 14 hari. Kemudian, menentas menjadi bayi kuda laut.
Potensi biota laut lain yang dibudidayakan BBL adalah rumput laut (Kappaphycus alvarezii). Tepatnya di Pantai Kalangan, Padang Cermin, bersama beberapa petani, BBL mengembangkan budidaya rumput laut. Menurut Sudjiharno, panen rumput laut bisa mencapai rata-rata 16 ton per hektar. Untuk perton-nya, rumput laut dihargai sekitar Rp 4,5. Sayang, potensi tersebut juga belum maksimal dikelola. Masalahnya, menurut Marjuki seorang petani rumput laut, perkembangan rumput laut dipengarui musim, serangan hama ikan baronang dan penyakit ice – ice. “Pada musim kemarau, rumput laut tidak dapat berkembang optimal,” akuinya. Sebaliknya, pada musim hujan, rumput laut dapat berkembang cepat.
Menurut Sudjiharno, pada musim hujan suplai nutrisi sangat cukup karena adanya aliran air tawar yang membawa unsur hara dari darat ke laut. Sedangkan gejala penyakit ice – ice dapat menghambat pertumbuhan rumput laut. Tanda – tanda penyakit tersebut yaitu, terdapat bintik pada sebagian rumput yang kemudian menimbulkan warna putih. “Penyakit tersebut tumbuh karena pengaruh bakteri patogen, salinitas, arus, suhu dan kecerahan di lokasi budidaya yang tidak sesuai dengan pertumbuhan rumput laut.
Dari pengalamannya mengembangkan budidaya biota laut sejak tahun 1983, Sudjiharno mengaku BBL masih kekurangan tenaga skill dan modal. Karena kekurangan tersebut, BBL belum maksimal mengembangkan budidaya seluruh biota laut, “Maunya, BBL dapat maksimal mengembangkan budidaya semua potensi biota laut,” harap Sudjiharno. Namun, hingga saat ini, BBL baru membudidayakan sebagian kecil jenis biota laut.
M. Yamin Panca Setia
Subscribe to Posts [Atom]